Memutuskan bahagia

Sungguh ironi jika puluhan tahun kita hidup hanya untuk mencari pengakuan dari orang lain.

Sungguh ironi jika kebahagiaan kita ditentukan oleh orang lain.

Sungguh ironi jika kita tidak berani melakukan sesuatu hanya karena takut dibilang ini itu.

Sungguh ironi jika kita mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain yang belum tentu mencintai kita.

Sungguh ironi jika di kita perlu didikte orang lain untuk bisa bahagia.

Bahagia tidak selalu karena akibat,
Bahagia bisa jadi karena keputusan.

Bolehkah Laki-laki Menangis?

Jadi anak cowok gak boleh nangis!

Dari kecil istilah itu sudah lekat disematkan pada kita laki-laki. Sejak bocah kita sudah dituntut kuat, dan dilarang meneteskan air mata. Namun sesungguhnya pria juga sama seperti wanita yang boleh saja menangis untuk menunjukan ekspresi tulusnya. Masalahnya sterotype bahwa hanya pria lemah lah yang menangis menyeruak lebih kuat di kebudayaan timur macam Indonesia. Di masyarakat Amerika serikat atau Eropa yang lebih terbuka, fenomena pria menangis lebih bisa diterima. Tetesan air mata dari seorang pria dianggap sebagai sebuah refleksi kejujuran dan ketelusan. Sejarah bahkan mencatat, Presiden Amerika Serikat yang fenomenal Abraham Lincoln sering menangis untuk mempertegas isi pidatonya. Dan dari sana ia dianggap sebagai salah satu orang yang punya teknik persuasi tinggi. Di masa sekarang, Barack Obama juga kerap kali terlihat meneteskan air mata ketika ia berbicara haru. Tapi kita semua sepakat, tangisan ini tidak membuat presiden Amerika kulit hitam pertama itu terlihat lemah khan?

Lalu kita pun sering menyaksikan atlit profesional yang menangis sedih ketika mereka gagal dan menangis haru ketika mereka berhasil. Menurut jurnal penelitian Psychology of Men & Masculinity, di awal tahun 2012 yang lalu menyebutkan bahwa atlit yang memiliki kepercayaan diri tinggi justru tidak canggung untuk menunjukan ekspresinya lewat tangisan di lapangan. Bahkan sebaliknya mereka yang menganggap menangis di lapangan tabu adalah barisan atlit yang kurang berhasil dan punya percaya diri yang rendah. Okay, bagaimana jika dilihat dari segi kesehatan? Ahli Biokimia William H. Frey melalui studinya menyebutkan, bahwa air mata yang menetes akibat emosi tenyata juga membawa serta racun di dalam tubuh. Bukan cuma racun, ketika menangis tubuh juga secara otomatis memproduksi hormon endorphine. Ini adalah zat yang mirip dengan heroin namun diproduksi secaa ilmiah oleh tubuh. Wajar jika dengan menangis ketegangan akibat stress bisa cepat mengendur. Dalam penelitian ini juga ditemukan fakta bahwa menangis punya daya sembuh luka psikologis yang lebih hebat dibandingkan tertawa. Tapi bagaimana dengan pandangan perempuan? Apakah kita tidak akan dianggap lemah? Nah, disinilah ditemukan fenomena menarik lainnya. Karena ternyata sebagian besar wanita juga menganggap istimewa pria yang sentimentil.

Perempuan memang mendambakan sosok yang kuat dan gagah. Tapi ketika laki-laki idamannya menunjukan sisi manusiawi dengan menangis, mereka justru akan langsung menaruh simpati. Karena ini menunjukan adanya sisi kelemah lembutan dibalik sosok yang kuat tersebut. Para wanita juga dilengkapi naluri keibuan yang tinggi. Jangan heran jika mereka ingin menyayangi pasangannya yang sedang dalam keadaan lemah ketika menangis. Ini serupa dengan pelukan hangat ibu kepada anak laki-lakinya yang menangis karena jatuh dari sepeda. Tangisan juga membuat pria terkesan membuka diri. Sosok pria yang dingin dan misterius memang menarik untuk membuat wanita penasaran. Namun jika sosok dingin ini menangis di depan mereka, justru akan menambah rasa penasaran. Karena ibarat buku yang baru terbuka, wanita ingin segera membacanya sampai habis. Lalu apa berarti kita bisa menangis kapan saja? Nah, walau bagaimana pun seperti disebutkan di atas norma di masayarakat Indonesia masih sediki tabu untuk melihat pria menangis. Karena itu cobalah untuk tetap mengontrol emosi. Kita sebagai pria tidak dilarang untuk menangis, berempati, sedih dan perasaan lainnya. Tapi jangan juga terlalu sering mengumbar emosi yang tidak perlu. Jangankan pria, wanita yang terlalu mellow pun tidak akan mendapat tempat yang baik di mata orang lain bukan?

Alasan Penting Belajar Psikologi

Kemajuan jaman sekarang ini nampaknya tidak diimbangi dengan kemajuan pola pikir kita sebagai manusia. kita terlalu larut dalam kegemerlapan kerja yg sangat menyita waktu kita. secara tidak langsung kita sadar atau tidak sadar telah mengikis jiwa kita yg selalu merespon akan setiap perubahan.
kondisi jiwa yg tidak stabil inilah yang menyebabkan psikologi memiliki peran penting dalam kehidupan kita. mau tidak mau kita akan membutuhkan bantuan dari ilmu psikologi. memang ilmu psikologi merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang sangat muda umurnya. namun memiliki pengaruh signifikan terhadap kehidupan pada saat mengahdapi jaman sekarang ini. salah satu terapan ilmu psikologi yang dgunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam hal dunia kerja (perekrutan karyawan), dalam dunia bisnis (cara pandang produsen terhadap konsumenya) dll. sekilas ilmu psikologi memang menarik. karena ilmunya yang berhubungan langsung dengan keaneka ragaman kondisi jiwa semua manusia. maka dari itu kita sedikiit banyak harus mempelajri tentang ilmu psikologi. selamatt belajarr berooo……

Mengapa Perlu Belajar Filsafat ?

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa studi filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu khusus. Jadi filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan-pertanyaan asasi manusia tentang realitas (filsafat teoritis) dan lingkup tanggung jawabnya (filsafat praktis). Kemampuan itu dipelajarinya dari luar jalur secara sisitematik dan secara historis.

Pertama secara sistematis. Artinya filsafat menawarkan metode-metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia, tentang hakikat kebenaran dan pengetahuan, baik biasa maupun ilmiah, tentang tanggung jawab, dan keadilan dan sebagainya.

Jalur kedua melalui jalur sejarah filsafat. Di situ orang belajar untuk mendalami, menanggapi, serta belajar dari jawaban-jawaban yang sampai sekarang ditawarkan oleh para pemikir dan filosof terkemuka terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kemampuan ini memberikan sekurang-kurangnya tiga kemampuan yang memang sangat dibutuhkan oleh segenap orang yang dizaman sekarang harus atau mau memberikan pengarahan, bimbingan, dan kepemimpinan spiritual dan intelektual dalam masyarakat: