PERNIKAHAN : SEBUAH FASE ATAU PILIHAN HIDUP ?

Mungkin selama ini anda sangat familiar dengan meme yang bertebaran di internet mengenai joke “Kapan Kawin ?”. Apalagi jika ada momen lebaran, joke ini tidak pernah basi di makan zaman. Begitu juga dengan teman-teman saya yang bereaksi berlebihan seperti dikejar-kejar deadline jika diberi pertanyaan semacam itu.

Adakah dari anda yang pernah mengajukan pertanyaan filosofis, “Mengapa kita harus menikah ?” atau pertanyaan yang lebih dalem lagi…

“Apakah setiap insan perlu memasuki fase menjalin hubungan pernikahan dalam hidupnya ?”

Jika anda tipikal orang yang cepet stress capek ditanyain kapan nikah, maka ada baiknya anda mencari 10 jawaban terlucu untuk pertanyaan kapan nikah di meme-meme berserakan di internet. Tetapi jika anda sudah cukup dewasa dalam berpikir, saya menawarkan tulisan cuci-otak ini kepada anda. Simak baik-baik dua cerita berikut ini.

Cindy adalah anak yang berasal dari keluarga harmonis. Semenjak kecil, kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya membuat hidup Cindy sempurna. Ibunya selalu menceritakan kepada Cindy tentang betapa romantisnya ayahnya dulu meskipun terkadang jutek dan menyebalkan. Ayahnya pekerja keras demi memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Hal yang dilakukan juga oleh kakek neneknya, buyut-buyutnya, canggah-canggahnya dan wareng-warengnya. Cindy selalu bermimpi wedding dream yang indah bersama pangeran impiannya semenjak umur 4 tahun.

Seno dibesarkan oleh keluarga single parent, Ayahnya meninggalkan Ibunya semenjak Seno masih unyu montok berumur 2 tahun beserta adik perempuannya. Setelah memasuki masa puber, Ibunya menceritakan betapa egoisnya Ayahnya yang masih ingin berbagi cinta dengan wanita idaman lain kepada Seno. Ibunya selalu menasehati agar Seno kelak menjadi suami yang bertanggung jawab kepada istrinya, jangan sampai mengecewakan hati seorang istri.

Ketika dewasa, seiring berjalannya waktu, Cindy adalah wanita karir yang sukses di bidang advertising. Konsentrasi karirnya membuat Cindy belum menemukan pasangan hidupnya di usia 32 tahun. Cindy menyaksikan satu persatu teman-teman asiknya melepas masa lajang dan sudah dapat momongan. Hal yang paling memuakkan bagi Cindy adalah menghadiri pertemuan dengan keluarga besarnya, karena selalu saja ada basa basi yang terlalu basi, seperti pertanyaan “Eh Cindy udah gede, udah jadi perawan ayu nih, kapan nikah ?”

Seno akhirnya menemukan wanita idamannya, dia berusaha keras menjadi suami yang bertanggung jawab bagi istrinya. Meskipun terkadang dia sangkal dengan kelakukan istrinya yang terlalu manja dan suka menghambur-hamburkan uang, namun dia hanya menyimpannya dalam hati saja. Suami yang niceguy, ketakutan terbesarnya adalah tidak bisa memenuhi ekspektasi ibunya yaitu sebagai suami yang tidak pernah mengecewakan hati istrinya.

Ini cerita sungguhan dengan nama yang disamarkan, dialami oleh teman-teman saya, tidak satu atau dua, melainkan banyak.

Apa yang kamu tangkap dari cerita di atas ?

Yap, betul sobat, EKSPEKTASI dan KEINGINAN kita untuk menikah, itu terjadi karena sudah diajarkan semenjak kita masih imut. Karena, simpel, papa dan mamah kita menikah, kakek dan nenek kita menikah, buyut kita menikah, canggah kita menikah, wareng kita menikah. Wajar kalau kamu diajarkan tentang konsep pernikahan, kan ? Nanti kamu juga akan mengajari anak kamu seperti itu, bukan ?

Thomas Robert Malthus, pada tahun 1798, sempat mengemukakan bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat daripada produksi makanan, sehingga diramalkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan. Emile Durkheim adalah seorang ahli sosiologis Perancis menyatakan akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk, akan timbul persaingan diantara penduduk untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam memenangkan persaingan tiap-tiap orang berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan, dan mengambil spesialisasi tertentu, keadaan seperti ini jelas terlihat pada kehidupan masyarakat perkotaan dengan kehidupan yang kompleks. Garreth Hardin dan Paul Enrich setelah melihat foto bumi dari angkasa sekitar tahun 1960an menyatakan bahwa bumi terlihat seperti sebuah kapal yang berlayar dengan persediaan bahan bakar dan bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat kapal ini akan kehabisan bahan bakar dan bahan makanan tersebut sehingga akhirnya malapetaka menimpa kapal tersebut.

————— Spoiler Alerts —————

Kalau kamu sudah membaca Novel Dan Brown “Inferno”, dijelaskan bahwa manusia sedang dalam mencapai evolusi tingkat lanjut. Namun jumlah populasi manusia di dunia ini menghambat terjadinya lompatan evolusi itu. Sehingga Bertrand Zobrist, seorang ilmuwan rekayasa genetik, membuat suatu virus yang membuat manusia dengan kode genetik tertentu tidak bisa melanjutkan keturunan. Di film Kingsman : The Secret Service, Om Samuel L. Jackson menyebarkan memory card gratis dengan tujuan memicu manusia menjadi impulsif dan saling membunuh satu sama lain. Alasannya, Om Samuel sudah munyak dengan jumlah populasi manusia yang dianggapnya hama bagi bumi. Pernah lihat Man of Steel ? di Planet Krypton, yang peradabannya ultra futuristik, mengendalikan pertumbuhan penduduknya dengan Codex. Jadi manusia di Krypton tidak dilahirkan dengan prosedur perkimpoian, tetapi dari suatu codex, dimana bayi yang akan jadi dokter, jadi politisi, jadi tentara, jadi blogger, jadi programmer sudah ditentukan komposisi jumlahnya dalam satu generasi.

————— di atas spoiler semua nih —————

Saya hidup di Kota Samarinda. Terkadang sepulang dari kantor, saya membawa nasi bungkus yang cukup banyak untuk diberikan kepada anak jalanan yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya. Yang jelas, orang tua mereka tidak sanggup memberi penghidupan yang layak, buktinya mereka meminta kasih di jalanan. Saya selalu menitikkan air mata melihat mereka lahap memakan nasi bungkus, pasti mereka korban dari konsep pernikahan yang salah oleh orang tua biologis mereka. Saya membayangkan, orang tua mereka masih muda, baru lulus SMA, mungkin belum lulus SMA, merasa tidak perlu memperjuangkan masa depan yang lebih baik, pengennya cepat menikah saja, atau menikah karena hamil duluan, tanpa memikirkan konsekuensi sebuah rumah tangga. Apalagi jika mempunyai anak. Bagaimana memberi mereka makan, imunisasi, pendidikan yang layak, dan lingkungan yang baik untuk perkembangan anak. Masih berpikir kalau banyak anak berarti banyak rejeki ?

Sungguh, kalian homo sapiens yang terlalu egois, kalau hanya ingin merawat anak harus lewat pernikahan saja. (termasuk saya, karena saya juga mempunyai dua orang anak). Sungguh, kalian terlalu egois, kalau berpikir anak adalah investasi masa depan. Sungguh, kalian terlalu egois, kalau yang layak dirawat hanya anak sedarah saja. Dan sungguh, kalian terlalu egois jika menganggap pernikahan adalah FASE HIDUP yang semua orang harus lewati semasa hidupnya, bukannya PILIHAN HIDUP yang setiap orang boleh memilih, mau menikah atau tidak, tanpa perlu ditekan oleh persepsi masyarakat. Atau mungkin silahkan menikah, dengan juga memilih opsi mengadopsi anak-anak yang tidak beruntung memperoleh akses hidup memadai.

(Saya sambil gemas sendiri, menulis paragraf di atas)

Di instansi tempat saya bekerja, masih ada beberapa pria atau wanita yang belum menikah hingga usianya hampir memasuki masa pensiun. Mereka saking sibuknya untuk berkarir atau berkarya untuk negeri ini, hingga tidak mempunyai cukup waktu mencari pasangan hidup (juga tidak memiliki cukup waktu untuk memikirkan judgement orang atas pilihannya tidak menikah). Kalau berdasarkan judgement anda sendiri, lebih baik mana, orang yang memilih tidak menikah namun berkarya bermanfaat bagi masyarakat atau Orang yang menikah namun tidak mampu menghidupi anak-anaknya dengan cara yang layak ?

Saya tahu, anda berargumen, negara-negara maju yang penduduknya lebih mementingkan karir daripada menikah seperti Jepang, Jerman, Singapura atau Denmark akan mengalami krisis SDM kedepannya. Tapi, negara yang mengalami ledakan penduduk seperti China, India, dan Indonesia, akan mengalami masalah sosial yang tidak kalah pelik jika SDM yang banyak tidak dibarengi keunggulan kompetitif dan komparatif SDMnya. Plus Minus bukan ? Saya tidak perlu membahas problematika TKI dan TKW indonesia untuk menambah penjelasan peliknya masalah SDM ini, kan?

Saya tidak menyarankan anda untuk tidak menikah, bukan itu maksud saya. Saya menjelaskan kalau di zaman ini, dan khususnya di negara ini kalau boleh saya membatasi, Anda tidak perlu berpikir kalau sebuah pernikahan adalah FASE HIDUP melainkan hanya PILIHAN HIDUP masing-masing individu. Tidak perlu lancang bertanya lagi “Kapan Nikah ?”. Mungkin pertanyaannya diganti dengan “Apakah kamu merencanakan untuk menikah ?”. Haha..

Saya pernah membayangkan, mending pernikahan gay dihalalkan saja di negeri ini saja, siapa tau mereka bisa mengurangi anjal dan anak yang tidak diharapkan orang tuanya dengan cara mengadopsinya, lagipula mereka cowok-cowok yang mungkin sama-sama bermata pencahariaan. Namun saya tahu, mimpi saya ini terlalu lancang. Dan saya bukan gay.

 

Advertisements

One thought on “PERNIKAHAN : SEBUAH FASE ATAU PILIHAN HIDUP ?

  1. Hahaha.. sadis, dan tepat sasaran. Websitenya bagus. Tulisannya oke. Saya suka. Tp, dalam liñgkaran pertemanan saya di sosial media, hal yg begini akan jarang saya share. Karena tidak semua orang berpikiran (lebih terbuka) seperti ini. Jadi, dicukupkan saya dulu saja yang bertepuk tangan soal tulisan ini. Good job. 😁😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s