Mengapa Pasangan Yang Bahagia Masih Dapat Berselingkuh ?

Mengapa kita berselingkuh? Dan mengapa mereka yang bahagia pun melakukannya? Saat kita menyebut “perselingkuhan,” apa sebenarnya yang kita maksud? Apakah itu kencan, kisah cinta, seks berbayar, ruang obrolan, ataukah pijatan dengan akhir yang bahagia? Mengapa kita pikir pria  berselingkuh karena bosan dan takut keintiman, sedangkan wanita berselingkuh karena kesepian dan haus keintiman? Dan apakah perselingkuhan selalu merupakan akhir dari sebuah hubungan?

Ada satu pelanggaran sederhana yang dapat merusak hubungan suatu pasangan, kebahagiaan dan identitas mereka: perselingkuhan. Namun, tindakan yang sangat umum ini sering disalahpahami, Maka, ceramah kali ini diperuntukkan bagi siapa pun yang pernah mencintai. Perselingkuhan sudah ada sejak pernikahan diciptakan, begitu juga tabu yang menentangnya. Bahkan, ada kegigihan pada perselingkuhan, lebih daripada pernikahan, sampai hanya larangan ini yang diulang dua kali dalam 10 Perintah di Alkitab: satu larangan untuk melakukannya, dan satu lagi untuk sekadar memikirkannya.

Jadi bagaimana kita menerima apa yang dilarang secara umum, namun juga umum dilakukan? Nah, sepanjang sejarah, pria biasanya lebih lazim untuk berselingkuh dengan konsekuensi yang ringan, dan didukung oleh berbagai teori biologis dan evolusioner yang menjadikan pembenaran kebutuhan mereka untuk ‘menjelajah’, karenanya standar ganda ini sama tuanya dengan perselingkuhan itu sendiri.

Tapi siapa yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi, ya kan? Karena jika kita berbicara tentang seks, tututan bagi pria adalah menyombong dan melebih-lebihkan, sementara tuntutan bagi wanita  Adalah menyembunyikan, menutupi, dan mengingkari. yang tidak mengherankan karena ketika Anda melihat masih ada sembilan negara di mana wanita dapat dibunuh karena berselingkuh.

Nah, monogami dulunya berarti satu orang dalam seumur hidup. Sekarang ini, monogami artinya satu orang satu kali bersenggama. Maksud saya, banyak yang mungkin berkata, “Saya monogami di semua hubungan saya,” Dulu kita menikah, dan bersenggama untuk pertama kalinya. Namun sekarang kita menikah, dan berhenti bersenggama dengan yang lain. Padahal monogami tidak ada hubungannya dengan cinta. Pria mengandalkan kesetiaan wanita agar mereka tahu siapa ayah anak-anak mereka dan siapa yang mendapat sapi (warisan) ketika saya mati.

Jadi, karena tidak ada definisi yang diakui secara umum mengenai peristiwa seperti apa yang merupakan perselingkuhan, kisarannya sangat bervariasi, dari 26% sampai 75%. Namun intinya, kita hidup dalam kontradiksi. Jadi 95% dari kita akan berkata bahwa amatlah salah jika pasangan kita berbohong mengenai perselingkuhan namun jumlah yang sama pun akan berkata bahwa itulah yang akan kita lakukan jika kita berselingkuh.

Nah, saya menyukai definisi “perselingkuhan” berikut yang membawa tiga elemen penting di dalamnya: suatu hubungan rahasia, yang merupakan inti utama dari perselingkuhan; suatu hubungan emosional sampai ke tahap tertentu; dan koneksi seksual.

Dan koneksi merupakan kata kuncinya, karena gairah erotis dapat membuat sebuah kecupan yang hanyalah sekadar imajinasi menjadi sama kuat dan menggairahkannya dengan bersenggama selama berjam-jam.

Seperti kata Marcel Proust, imajinasilah yang berperan dalam cinta, bukan pasangan kita.

Jadi, berselingkuh itu mudah, dan menjaga rahasia itu lebih sulit.

Dan perselingkuhan benar-benar berpengaruh secara psikologis. Apabila pernikahan adalah sebuah perusahaan ekonomi, perselingkuhan mengancam keamanan ekonomi.

Namun karena pernikahan adalah perjodohan romantis, perselingkuhan mengancam keamanan emosional kita, Ironisnya, kita sering berpaling kepada perselingkuhan — saat kita mencoba mencari cinta sejati.

Namun saat kita mencarinya di dalam pernikahan, perselingkuhan menghancurkannya. Ada tiga cara berbeda bagaimana perselingkuhan menyakiti kita saat ini. Kita mencari idealisme romantis di mana kita berpaling pada satu orang demi memenuhi kebutuhan tiada akhir: menjadi kekasih terhebat, sahabat, orang tua terbaik, orang kepercayaan, pendamping emosional, teman yang setara secara intelektual.

Dan sayalah orangnya: Saya terpilih, saya unik, saya diperlukan, saya tak tergantikan, sayalah orang yang tepat. Dan perselingkuhan mengatakan sebaliknya. Perselingkuhan adalah pengkhianatan mutlak. Perselingkuhan menghancurkan ambisi cinta yang mulia. Namun apabila perselingkuhan dulu selalu menyakitkan, kini perselingkuhan seringnya traumatis, karena ia mengancam jati diri kita.

Namun kita sendiri cenderung berselingkuh, bukan karena kita memiliki hasrat baru, namun karena kita hidup pada jaman di mana kita merasa berhak untuk mengejar hasrat dan keinginan kita, karena inilah budaya di saat kita berhak untuk hidup bahagia.

Dan apabila kita dulu bercerai karena kita tidak bahagia, sekarang kita bercerai agar kita dapat hidup lebih bahagia. Dan apabila dulu perceraian membawa malu, sekarang justru memilih bertahan ketika kita dapat bercerai adalah rasa hina yang baru.

Bertahan adalah rasa hina yang baru. Jadi jika kita bisa bercerai, mengapa kita masih berselingkuh? Nah, asumsi umum jika seseorang berselingkuh apakah ada yang salah dalam hubungan Anda ataukah dengan Anda sendiri.

Namun tidak mungkin jutaan orang semuanya patologis. Logikanya seperti ini: Jika semua kebutuhan Anda terpenuhi di rumah, maka tak perlu mencarinya ke tempat lain, anggap memang ada yang namanya pernikahan sempurna yang akan membuat kita kebal terhadap nafsu berkelana.

Namun bagaimana jika hasrat memiliki masa kadaluarsa?

Bagaimana jika ada hal-hal yang bahkan hubungan yang baik tak dapat memberikannya?

Jika mereka yang bahagia pun berselingkuh, apa masalah sebenarnya?

Mayoritas orang tidak semuanya tukang rayu akut. Seringkali mereka adalah orang yang punya prinsip monogami yang cukup dalam dan setidaknya terhadap pasangan. Namun kini mereka terlibat konflik antara nilai-nilai yang mereka anut dengan perilaku mereka.

Seringkali mereka adalah orang yang sungguh setia selama puluhan tahun, namun suatu hari mereka melanggar batasan yang mereka tak mengira akan mereka langgar, dan dengan resiko kehilangan segalanya.

Namun untuk apa?

Perselingkuhan adalah suatu tindakan pengkhianatan, dan juga ekspresi rasa rindu dan kehilangan. Sering kali, inti dari sebuah perselingkuhan adalah kerinduan dan keinginan akan hubungan  Emosional, sesuatu yang baru, kebebasan, otonomi, intensitas seksual, keinginan untuk menemukan kembali diri kita yang hilang, atau usaha mengembalikan vitalitas di ambang kehilangan dan tragedi.

Dan kita bukanlah mencari orang lain, tapi justru mencari diri kita sendiri.

Kematian dan ketidakabadian sering melatarbelakangi perselingkuhan, karena pertanyaan berikut ini muncul: Apakah hanya ini saja? Apakah ada lagi? Apakah saya akan terus hidup seperti ini 25 tahun ke depan? Apakah saya masih dapat merasakannya lagi? Dan ini membuat saya berpikir bahwa mungkin pertanyaan ini yang membuat orang melanggar batasan tersebut, dan beberapa perselingkuhan merupakan usaha untuk mengalahkan kematian, suatu obat penawar kematian.

Dan mungkin tidak seperti yang Anda pikirkan, inti dari perselingkuhan seringkali bukan seks, tapi lebih kepada keinginan: keinginan untuk diperhatikan, keinginan untuk merasa istimewa, keinginan untuk merasa berarti.

Dan pola dari perselingkuhan, kenyataan Anda takkan pernah memiliki kekasih Anda, membuat Anda terus menginginkannya. Ini merupakan mesin keinginan, karena kekosongan dan kerancuannya, membuat Anda terus mengharapkan yang tak dapat Anda miliki.

Nah, beberapa mungkin berpikir bahwa perselingkuhan tidak pernah terjadi pada hubungan terbuka, namun ini salah. Pertama, perbincangan mengenai monogami tidaklah sama dengan perbincangan mengenai perselingkuhan. Tapi kenyataannya, bahkan ketika kita mempunyai kebebasan untuk memiliki pasangan seks lain, kita masih saja tertarik oleh godaan larangan ini, bahwa jika kita melakukan apa yang seharusnya tidak boleh, maka kita akan merasa benar-benar melakukan yang kita inginkan.

Faktanya, mayoritas pasangan yang telah mengalami perselingkuhan terus bersama. Namun beberapa hanya akan terus bertahan, sementara yang lain akan dapat mengubah krisis menjadi kesempatan. Mereka akan mampu mengubah hal ini menjadi pengalaman berharga. Dan saya justru terpikir akan pasangan yang dikhianati, yang seringkali bertanya, “Kau pikir aku tidak mau lebih? Tapi bukan aku yang berselingkuh.” Sekarang saat perselingkuhan tersebut tersingkap, mereka juga dapat menuntut lebih, dan mereka tidak perlu lagi mempertahankan status quo yang mungkin mereka juga tidak melakukannya dengan baik.

Namun yang lebih penting, adalah menahan keingintahuan untuk menggali detail yang tidak senonoh– Kau pernah ke mana saja? Di mana kau melakukannya? Seberapa sering? Apakah dia lebih baik dariku di ranjang? — pertanyaan yang justru akan lebih menyakitkan dan membuat Anda tidak tidur. Justru bertanyalah mengenai pertanyaan yang menyelidik, yang menggali maksud dan motifnya — Apa arti perselingkuhan ini bagimu? Pengalaman dan ekspresi apa yang kau dapatkan yang tak lagi kau rasakan denganku? Apa yang kau rasakan saat kau pulang ke rumah? Apa yang berarti bagimu dari hubungan kita? Apa kau lega semua ini berakhir? Setiap perselingkuhan akan menciptakan definisi baru dari sebuah hubungan, dan setiap pasangan akan memutuskan pelajaran apa yang akan didapat dari perselingkuhan ini.

Namun perselingkuhan tetap ada, dan tidak akan pergi begitu saja. Dan dilema akan cinta dan hasrat tidak akan memberikan jawaban sesederhana hitam atau putih dan baik atau buruk, dan korban dan pelaku. pengkhianatan di dalam hubungan ada dalam berbagai bentuk. Ada banyak cara mengkhianati pasangan Anda: menghina, menelantarkan, mengacuhkan, melakukan kekerasan.

Pengkhianatan seksual hanyalah salah satu cara untuk melukai pasangan.. Dengan kata lain, korban perselingkuhan bukan selalu korban pernikahan.

Apakah saya akan menyarankan perselingkuhan? Nah, saya takkan pernah menyarankan Anda berselingkuh sama seperti saya tidak akan merekomendasikan kanker, namun kita tahu bahwa penderita sakit seringkali bercerita akan bagaimana penyakit mereka membawa perspektif baru.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s