Dear Mahasiswa, Kamu Salah Lahir Di Negara Ini

Mahasiswa.

Apa yang kamu bayangkan bila mendengar sebutan di atas?

Saya yakin di kepala kamu pasti terbayang seorang pemuda berkemeja kusut dan berwajah lesu akibat kurang makan dan kurang tidur, tidak lupa di pundaknya tersampir ransel yang besarnya cukup untuk memuat satu karung beras seberat 10 kilogram.

Entah bagaimana, mahasiswa selalu identik dengan kemiskinan; meski beberapa mahasiswa cukup beruntung memiliki orangtua yang tergolong mapan atau berpenghasilan sendiri sehingga mereka bisa lepas dari anggapan miskin oleh masyarakat.

Banyak yang menganggap bahwa kuliah itu tidak ada gunanya; hal ini diperjelas oleh lowongan kerja di setiap kota pasti dipenuhi oleh para sarjana yang kelimpungan mencari kerja. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah; banyak teman-teman saya yang menganggur sampai berbulan-bulan karena belum diterima kerja. Tetapi apakah kuliah memang tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu saja?

Jawabannya tidak.

Kenapa?

Saya tanya: apakah ada negara-negara maju yang masyarakatnya cuma lulusan setingkat SMA?

Pernah berpikir apakah Jepang dan China yang tingkat perekonomiannya jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia bisa semakmur itu apabila masyarakatnya lebih memilih langsung bekerja tanpa memusingkan pendidikan?

Masyarakat yang terdidik akan menciptakan generasi yang terdidik pula. Sementara masyarakat yang menganggap pendidikan adalah nomor sekian maka akan menghasilkan generasi bodoh yang ke sekian kalinya pula. Menanamkan pola pikir bahwa pekerjaan itu lebih penting daripada pendidikan sama halnya dengan menuhankan korporasi; dimana jabatan itu dinilai lebih membanggakan dibandingkan apa pun. Persetan dengan korupsi dan nepotisme, bekerja saja yang giat dan kumpulkan uang darimana saja entah uang kotor atau uang halal. Masyarakat akan tetap menganggap kamu sebagai panutan.

Lalu kamu berkilah: “Lalu bagaimana dengan lulusan S1 yang ternyata tidak menghasilkan apa-apa dan malah membantu korporat? Berarti sama saja bukan?”

Saya percaya bahwa niat yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar, sedangkan niat yang salah akan menghasilkan tindakan yang salah pula. Sedari kecil kita selalu dihasut oleh kedua orangtua kita seperti “Sekolah yang bener, ntar bisa jadi karyawan di perusahaan blablabla” atau “Sekolah yang pinter biar nanti bisa kayak orang itu blablabla (sambil menunjuk ke boss-boss perusahaan).”

Karena sering didogma seperti itu, akhirnya tujuan kuliah adalah agar lulus S1 sebagai syarat diterima kerja kantoran, bukannya bertujuan agar mendalami ilmu pengetahuan. Tapi masyarakat kita sekali lagi berpikir bahwa: persetan dengan ilmu pengetahuan, uang lebih penting bung!

Dear mahasiswa, kamu salah lahir di negara ini.

 

Yang masih skripsi, Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s