Perjuangan Setengah Jalan

Untuk menyulut aksi massa di Indonesia sebenarnya cukup mudah: beri mereka topik panas yang sedang hangat dibicarakan di media massa, kalau perlu ditambahkan bumbu embel-embel agama, maka niscaya masyarakat berbondong-bondong mengibarkan bendera penolakan terhadap ini dan itu.

Contoh yang paling mudah? Lihat saja berapa jumlah mahasiswa yang turun ke jalan untuk berdemo meminta penurunan harga bahan bakar minyak bila pemerintah baru saja mengeluarkan perkiraan akan menaikan harga bahan bakar minyak. Baru diperkirakan saja sudah menyulut aksi massa, apalagi dinaikkan beneran. Contoh yang paling baru? Coba perhatikan berapa orang yang berbusa mulutnya saat menjelaskan bahwa Pokemon GO adalah produk dari orang-orang Yahudi dan traineer Pokemon disamakan dengan pengumpul pasukan Dajjal laknatullah.

Untungnya kericuhan tersebut selalu berakhir cepat, tidak bertele-tele seperti tayangan sinetron Indonesia. Euphoria itu hanya berlangsung sekitar satu sampai dua bulan; setelahnya menghilang tanpa jejak. Mungkin beberapa orang masih membicarakannya di warung kopi, tetapi topik itu menjadi sekadar lewat saja tanpa harus ditanggapi serius lagi.

Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Kenapa mereka harus berletih-letih mengeluarkan energi sedemikian banyaknya hanya untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak signifikan di dalam hidup mereka? Oke kalau mereka berjuang untuk menurunkan harga bahan bakar minyak karena kenaikan harga bahan bakar minyak berarti kenaikan harga bagi bahan-bahan pokok, tetapi ketika bahan bakar minyak benar-benar naik dan sudah berjalan sekitar beberapa bulan, apakah mereka masih berjuang? Kenyataannya tidak. Mereka hanya berjuang saat berita itu baru muncul di permukaan saja, setelah itu para pahlawan ogah-ogahan itu mendadak pensiun dini.

Ini pertanda bahwa hampir masyarakat Indonesia sangat rentan terhadap informasi yang bersifat negatif; setiap ada berita yang menyinggung masyarakat kelas menengah ke bawah langsung ditelan bulat-bulat dan dijadikan acuan untuk menyerang balik para penguasa. Namun sayangnya, begitu media sudah tidak membahasnya lagi maka masalah itu dianggap selesai dan perjuangannya pun berhenti total. Ibarat kata kerupuk yang baru digoreng, semangat mereka hanya renyah di awal tetapi melempem di akhir. Tidak ada perubahan yang terjadi, dan mereka semakin pasrah dengan keadaan yang dirasa semakin buruk.

Atau yang lebih parah, jangan-jangan mereka telat sadar kalau yang mereka perjuangkan itu sesungguhnya hanya hal yang umum dan mereka tahu kalau tidak akan menang melawan pihak musuh? Misalnya ada kelompok yang sangat benci dengan Yahudi dan menggelar demo agar masyarakat Indonesia memboikot produk-produk buatan Yahudi. Tetapi kemudian mereka sadar kalau diri mereka sudah dikelilingi oleh produk-produk Yahudi seperti Google dan OS Android yang mereka sendiri gunakan sehari-hari.

Telat menyadari bahwa yang diperjuangkan adalah sia-sia juga berbahaya; mereka sudah membuang-buang waktu berharga yang bisa mereka gunakan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Apalagi kalau mereka sudah menciptakan kerusakan dimana-mana lalu kemudian baru menyadari kalau mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penguasa korporasi.

Ingat bahwasannya buang-buang waktu + kerusakan + telat sadar = CHAOS.

See? Jadi sebelum kamu mengangkat bendera perjuangan, sebaiknya kamu kaji dahulu apakah yang kamu perjuangkan itu layak atau tidak? Apakah aksi yang kamu lakukan bisa berdampak baik atau buruk? Apakah kamu yakin bisa memenangkan pertarungan?

Jangan pernah memulai pertarungan yang tidak bisa kamu menangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s