Mengubah Persepsi Tentang Kematian

Tidak ada makhluk hidup yang tidak takut mati. Bahkan tumbuhan yang dikenal tidak memiliki sistem otak pun memiliki berbagai macam jenis pertahanan diri yang mencegahnya meranggas mati dimakan makhluk hidup lain atau karena faktor alam.

Lalu bagaimana dengan manusia yang memiliki sistem otak yang sedemikian rumit sehingga memiliki akal dan naluri (yang katanya) melebihi makhluk hidup lain?

Selama ini manusia memandang kematian sebagai sesuatu yang buruk. Ketakutan yang sudah bersifat naluriah itu ditambah pula oleh dogma-dogma agama yang ikut menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa manusia bakal sengsara abadi apabila berbuat jahat di muka bumi dan damai sejahtera selamanya bila berbuat baik.

Sekarang pertanyaannya: apakah ada seorang manusia yang 100% terbebas dari tingkah laku kejahatan? Apakah seseorang yang rajin dan taat beribadah itu terbebas dari rasa takut akan kematian

Saya yakin jawabannya tidak ada. Orang yang paling rajin beribadah pun masih mendengungkan doa-doa penjauh malapetaka agar dirinya terhindar dari kejadian buruk. Begitu pula dengan karma buruk; tidak ada satu pun manusia yang 100% melakukan karma baik. Mereka tetap pernah melakukan kejahatan yang entah mereka sadari atau tidak.

Hal ini tentu saja menambah rasa takut akan kematian di setiap diri manusia semakin menjadi-jadi. Mereka khawatir bila kehidupan setelah mati malah akan lebih menyiksa daripada kehidupan yang sekarang. Mereka menjadi kurang menghargai kehidupan yang mereka jalani dan lebih memusingkan apa yang terjadi bila diri mereka sudah waktunya menyatu dengan tanah.

Yang saya pelajari adalah: sebenarnya manusia tidak takut pada apa yang akan menimpa mereka sesudah mati; manusia lebih takut pada apa yang membuat mereka mati.

Seperti yang kita ketahui; tidak ada kematian yang bahagia seperti cerita-cerita dongeng. Semua kematian pasti disebabkan oleh rasa sakit yang luar biasa sehingga tubuh tidak mampu berfungsi layaknya sebuah makhluk hidup. Rasa sakit itu bisa jadi disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan yang sedemikian parahnya. Dan manusia belum mampu melepaskan diri dari takdir tersebut.

Namun daripada kita bersembunyi di balik selimut karena begitu ketakutan dengan kematian, ada baiknya kita memandang kematian sebagai sesuatu yang indah dan patut disyukuri. Mengapa kita harus belajar menerima kematian? Karena mau lari dan berlindung kemana pun, kita tidak akan mampu menghindarinya.

Lalu apa yang membuat kematian sebagai sesuatu yang pantas disyukuri?

  1. Kematian adalah jalan tol menuju kebebasan. Ya ini benar. Ketika manusia hidup, manusia harus bersiap menjalani masalah yang akan menderanya. Apalagi bila kamu lahir di Indonesia yang dipenuhi oleh berbagai macam masalah; kamu pasti pernah merasa menyesal lahir di negara yang sebagian besar warganya hobi buang sampah sembarangan ini. Nah bila hari kematian kamu tiba, berarti kamu bersiap melangkah menuju ke pintu kebebasan; tidak ada tekanan harus lulus kuliah 4 tahun, tidak ada yang menanyakan kapan kamu nikah, tidak ada kebahagiaan palsu di sosial media, tidak perlu berpusing-pusing memikirkan gaji yang kecil, dan tidak ada yang menyakiti kamu lagi. Bebas. Tetapi saya tidak menganjurkan kamu untuk menegak segelas kopi bersianida; kamu tidak perlu bunuh diri untuk mempercepat kematianmu. Tunggu saja waktunya, dan hari kebebasanmu akan tiba cepat atau lambat. Sembari menunggu hari kebebasanmu, kamu bisa membuat hidup kamu lebih berarti dengan membantu orang-orang di sekitarmu.
  2. Kematian adalah sebenar-benarnya istirahat. Jika selama ini kamu sering mengalami kesulitan tidur karena cemas akan masa lalu dan masa depan, maka ketika ajal menjemputmu maka kamu bisa tidur dengan nyenyak selamanya. Bodo amat dengan nyamuk yang berdenging di sekelilingmu atau tanah kubur yang kasar dan tidak seempuk kasur di kamarmu, kamu akan pulas tertidur dan tidak ada yang bisa mengusik istirahatmu meski dua ratus bom atom dijatuhkan tepat di atas kuburmu. Zzz… zzz… zzzelamanya.
  3. Kematian adalah solusi mengurangi jumlah ledakan penduduk Indonesia yang hobi beranak. Di negara yang sudah dipenuhi manusia ini, kamu jauh lebih dihargai bila kamu mati dibandingkan bila kamu memiliki anak. Ketika program Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah tak kunjung berhasil, maka kematian adalah solusinya. Dalam hukum ekonomi terdapat istilah: input harus sama besarnya dengan output agar tercipta keseimbangan dan keteraturan. Bayangkan bila jumlah kematian meningkat, berarti ada banyak beras bagi mereka yang kelaparan. Saya paham dengan nafsu makan sebagian besar warga Indonesia yang suka makan sampai bercentong-centong nasi, ini jelas saja merugikan para petani di desa yang bekerja susah payah hanya demi memberi makan seorang manusia yang memiliki nafsu makan layaknya banteng. 1 kematian berarti 1 kesempatan hidup bagi yang lain.

Nah, dengan poin-poin di atas maka jelas kematian tidak perlu dianggap sebagai mimpi buruk manusia. Namun andaikata masih takut, itu wajar saja karena otak manusia memang didesain untuk takut kepada hal-hal yang membahayakannya. Mau takut atau tidak, kematian pasti menghampiri kita semua, termasuk saya. Jadi tidak perlu bunuh diri, cukup nikmati saja kehidupanmu karena bisa jadi kematian menepuk pundakmu besok atau hari ini. Tidak ada yang tahu bukan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s