7 Deadly Sins of Delusions: Kekayaan

Kaya raya.

Siapa yang tidak ingin kaya raya?

Bayangkan kamu memiliki banyak uang bermilyar-milyar di rekening kamu. Semua yang kamu inginkan bisa kamu beli sekarang juga. Gadget baru? Mobil baru? Rumah baru? Atau pasangan baru? Tinggal keluarkan sebuah kartu ajaib lalu gesek di sebuah mesin bernama EDC maka seluruh impian kamu akan terkabul.

Terdengar indah bukan?

Tetapi apakah kamu sadar kalau keinginan menjadi kaya raya adalah hasil bentukan iklan semata?

Iklan-iklan di televisi sering menayangkan bahwa bila kamu mengendarai mobil ini maka keluarga kamu akan tersenyum bahagia, beli gadget itu maka kehidupan kamu akan dimudahkan, ikuti seminar ini supaya kamu bisa membeli rumah tanpa cicilan, bekerja di perusahaan itu agar kamu diakui di masyarakat. Hidup bahagia Yeaaay!!

Bullshit.

Pasti kamu pernah mendengar dongeng tentang seekor keledai yang dipaksa membawa sekeranjang sayuran oleh tuannya. Supaya keledai itu mau berjalan sesuai kehendak tuannya, maka tuan si keledai itu menggantungkan sebuah wortel di tepat di hadapan si keledai. Keledai itu tentu saja dengan senang hati terus berjalan mengikuti wortel yang digantung di wajahnya dengan harapan ia bisa memakannya. Namun itu tidak akan terjadi. Tuan si keledai itu menggantung wortel tersebut dengan sebatang kayu panjang sehingga si keledai tidak akan sampai menyentuh wortel impian itu. Si keledai hanya manut-manut saja mengikuti arahan tuannya tanpa mengetahui bahwa ia telah ditipu daya oleh tuannya sendiri.

Sekarang bayangkan keledai itu kamu, wortel itu adalah kekayaan yang kamu impikan, dan tuan si keledai adalah agen propaganda pengiming-iming kekayaan.

“Kerja sampai target tercapai dulu, nanti saya kasih apa yang kamu mau,” ujar boss perusahaan tempat kamu bekerja. Kamu mengangguk patuh dan bekerja siang malam sampai berbulan-bulan tanpa hari libur yang berarti. Di otak kamu penuh dengan harapan bahwa kamu bisa mendapatkan apa yang telah boss kamu janjikan. Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti, kamu masih belum mendapatkan apa yang telah boss kamu janjikan.

“What the fuck?” kamu mulai mempertanyakan diri sendiri. Jangan-jangan target belum tercapai? Jangan-jangan boss lupa dengan janjinya? Jangan-jangan ada regulasi baru?

“Tidak tidak, ini sudah tepat,” ujar kamu menghibur diri sendiri. Kamu mengecek perkembangan pekerjaan kamu di perusahaan dengan panik. “Oh semua sudah tercapai kok meski perkembangannya perlahan-lahan,” batin kamu dengan lega. Lalu kamu sadar bahwa meski perkembangan kamu telah meningkat, target telah tercapai, tetapi kamu merasa diri kamu sedang jalan di tempat.

Ya, selamat datang di era kapitalisme dimana setiap individu yang lebih superior atas nama uang telah memperbudak individu miskin dengan diembel-embeli kekayaan. Masalahnya adalah individu miskin tersebut ditipu mentah-mentah dengan ucapan nan bijaksana: mental kaya raya membuat kita kaya. Sebuah ucapan palsu yang kurang lebih berarti: eh lu kalau mau kaya raya ya kerja keras dulu buat gue!

Bagi saya pribadi, selama jumlah uang di dompet masih miskin lembaran Rp 100.000 maka kamu tetap tergolong miskin, tak peduli seberapa kuat mental orang kaya yang kamu miliki. Ucapan “Miliki mental kaya raya agar kamu kaya” itu hanya tipuan agar kamu merasa kaya raya saja padahal kamu aslinya miskin durjana. Apakah kamu menilai orang tersebut kaya atau tidak itu dari mentalnya? Tidak bukan? Kamu pasti menilainya dari jumlah uang yang ia habiskan tiap harinya. Apa? Kamu tetap menganggap bahwa mental kaya raya itu penting? Bego kamu.

Saya bukannya membenci kaum (sok) kapitalis karena saya sendiri masih suka apabila saldo tabungan saya bertambah. Yang saya benci adalah orang-orang miskin yang enggan mengakui kalau diri mereka miskin. Kamu boleh berbicara tentang cara mendapatkan uang, tetapi coba lihat dulu jumlah uang di saldo kamu. Apakah sesuai dengan yang kamu bicarakan?

Kalau selama ini kamu menderita karena kerja berhari-hari demi mengejar angan yang tak pernah kamu capai, maka baiknya kamu lihat dulu di depan wajah kamu. Apakah ada wortel yang digantung di depan kamu? Kalau ada, siapa yang menggantungnya? Beranikah kamu membuang wortel angan-angan itu untuk kehidupan yang lebih baik?

Kamu boleh memiliki impian menjadi kaya raya, namun apabila sampai mengorbankan waktu kamu yang berharga dengan keluarga dan orang-orang yang kamu cintai, maka baiknya kamu sadar diri dan bekerja sewajarnya saja. Enyahkan panggilan kantor di hari libur kamu ketika kamu sedang menghabiskan waktu bersama keluarga. Lebih baik dilaknati oleh para karyawan kantor daripada harus mengorbankan waktu bersama keluarga.

Jadilah manusia kapitalis yang lebih manusia.

Advertisements

One thought on “7 Deadly Sins of Delusions: Kekayaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s