7 Deadly Sins of Delusions: Kebahagiaan

Apakah kebahagiaan itu?

Beberapa orang pasti akan menjawab: “Hidup tenang!”

Sebagian lagi berteriak: “Punya banyak uang!”

Para jomblo bergumam: “Punya pacar yang setia barangkali?”

Karena setiap orang memiliki definisi tersendiri mengenai kebahagiaan, hal itu membuat kebahagiaan menjadi sesuatu yang absurd dan tak jelas makna sesungguhnya. Walau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah menjelaskan bahwa bahagia berarti hidup senang dan tenteram, namun pada kenyataannya banyak orang yang mengasosiasikan hidup senang dengan memiliki banyak uang, punya kekasih, dan hal-hal duniawi lainnya. Itu membuat kebahagiaan menjadi sesuatu yanag mewah dan sukar untuk didapatkan.

Sayangnya, untuk meraih kebahagiaan, beberapa orang cenderung melakukan hal-hal yang justru menyakiti dirinya sendiri. Misalnya, karena menganggap bahwa hidup kaya raya adalah kebahagiaan, maka seseorang bisa saja kerja tujuh puluh jam dalam seminggu dan malah mengorbankan waktu berharganya bersama orang-orang tercinta. Atau misalnya, hanya karena ingin hidup bahagia seperti teman-temannya yang sudah menikah, seseorang memaksakan dirinya untuk menikah dengan orang yang belum tentu dicintainya. Semua itu dilakukan hanya untuk merasa hidup bahagia seperti yang lain.

Kenyataannya, di Indonesia ini sangat mudah untuk berpura-pura bahagia; coba saja buka akun Instagram dan lihat foto-foto yang terpampang di sana. Nyaris tidak ada orang yang selfie dengan wajah sedih dan semuanya tampak bahagia. Tidak lupa di setiap fotonya diberi hashtag #Bahagia untuk semakin mengukuhkan kebahagiaan yang terpancar di foto mereka.

Tentu sebodoh-bodohnya saya sebagai manusia, saya sangat paham bahwa di balik selfie wajah senyum seringai kuda itu toh hanya dibuat-buat. Bagi saya pribadi, pertama dan terakhir kalinya seorang manusia bisa tersenyum bahagia dengan tulus itu hanya ketika ia masih bayi dan belum terikat oleh norma-norma di masyarakat. Mengapa saya katakan saat bayi? Coba kamu pikir: apakah seorang bayi memikirkan tagihan setiap bulannya? Apakah seorang bayi memikirkan harus makan apa hari ini? Apakah seorang bayi harus tertekan dengan pekerjaan kantor? Apakah seorang bayi merasakan sakit hati ketika ditinggal pergi oleh kekasih hati? Apakah seorang bayi merasa dirinya tak berguna? Apakah seorang bayi harus rela begadang demi skripsi? Tentu tidak bukan?

Kebahagiaan sejati hanya terjadi di hati yang paling suci, yaitu di nurani para bayi. Ketika bayi itu mulai memasuki masa kanan-kanak, mereka harus berhadapan dengan tekanan di sekolah. mereka mesti bangun pagi dan berangkat ke sekolah dan mengerjakan tugas sekolah. Bila mereka tidak mengerjakan tugas sekolah, maka mereka akan dihukum oleh guru mereka. Dari situ saja bisa dipahami bahwa manusia mulai mengenal konsep dukha ketika ia harus mengikuti aturan-aturan dari pihak luar agar ia bisa diterima oleh masyarakat. Semakin besar seorang manusia, maka tekanan yang dialaminya akan semakin besar dan rumit. Itu semakin membuatnya sukar mendapatkan kebahagiaan sejati yang dulu ia miliki.

Lalu kalau kebahagiaan sejati tidak mungkin lagi didapatkan, apa yang bisa manusia-manusia (sok) dewasa itu lakukan? Yaitu dengan cara berpura-pura bahagia. Dibalik senyum yang mereka lontarkan setiap hari di kampus, di kafe, di tempat dugem, di foto pernikahan, di foto Instagram, di kamar, di depan dosen, dan dimana saja wajah mereka berada, tersimpan kenangan pahit yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.

Saya percaya bahwa wajah asli seseorang baru terkuak ketika dirinya merenung sendirian di tempat sunyi, dimana orang-orang tidak bisa melihat keadaan dirinya yang asli. Karena di saat dirinya menyepi seperti itu, seluruh pikirannya akan terfokus ke dalam dirinya sendiri. Selama ini kita berusaha (tampak) bahagia demi mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa diri kita benar-benar bahagia, namun begitu diri ini menyendiri maka siapa lagi yang mau dibohongi?

Saya tidak melarang untuk pura-pura bahagia, karena saya toh sering berpura-pura bahagia. Kita semua sedang berpura-pura bahagia di sini. Jadi karena kita sama-sama pembohong dunia, mari kita berpura-pura bahagia.

(Vladd Voltaire)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s