Masa depan konsep kepemimpinan

Kepemimpinan adalah praktik umum di suatu organisasi yang coba dibedah dan dikonsepkan agar bisa dibahas. Urgensinya sangat penting untuk menciptakan koordinasi tim, pemanfaatan sumber daya bersama dan pencapaian tujuan. Peran pemimpin  yang terpenting adalah peran mengambil keputusan. Karena memimpin manusia, yang lebih mengedepankan emosi, tentunya perlu ditambah peran mempengaruhi orang dan peran membangun hubungan antar anggota.

Pada praktiknya, karena emosi manusia sangat dominan, proses pencapaian tujuan bisa diabaikan. Pemimpin dipilih karena PENGARUHNYA melebihi KUALITAS KEPUTUSANnya. Pemimpin jadi  Creator of Delutions bagi bawahannya.

Bawahan membutuhkan idola, sedangkan Pemimpinnya termakan delusi kebesarannya (delutions of grandeur). Ditambah lagi proses pemilihan pemimpin paling banyak didasarkan oleh voting, kedekatan dan kenyamanan. Memang ada prosedur lelang jabatan dan fit and proper test untuk menghindari like and dislike dalam proses pemilihan pemimpin. Tapi yang melelang dan yang menilai juga manusia beserta egonya yang mengikuti.

Bayangkan saja, jika di masa depan, revolusi digital jadi sangat masif dan mempengaruhi segala sendi kehidupan bermasyarakat, dimana proses pengambilan keputusan diambil alih oleh mesin. Peran manusia dalam mengambil keputusan dianggap kurang efisien lagi karena melibatkan emosi dan sarat akan kepentingan, sungguh berbeda dengan komputer, seperti gambaran di film Terminator.

Revolusi Budaya !!

Manusia dipaksa untuk hidup seefisien mungkin sebisa mungkin mendekati mesin. Banyak profesi-profesi yang terberangus digantikan mesin. Politik rebutan kekuasaan atau acara bikin pemimpin tandingan ditekan seminimal mungkin. Para megalomaniac kehilangan ajang untuk berebut pengaruh. Mesin jadi nabi, mesin jadi idola baru, seperti gambaran di film eagle eye atau age of ultron.

Semoga tidak terjadi demikian. Apalagi kalau pemimpin keluarga juga digantikan dengan sistem otomatisasi.😁😁

Sepertinya kita perlu menempatkan fitrah kepemimpinan sebagai fungsi pencapaian tujuan. Pemimpin harusnya jadi agen katalisator, sebagai penggerak segala aspek kemajuan kelompoknya dengan ide-ide dan tindakan yang baik, berfokus pada tujuan, bukan kepentingan individu, tidak hanya sebagai lambang atau simbol saja, bisa menjadi tempat konsultasi, berpartisipasi aktif dalam kebijakan dan program, serta mampu mendelegasikan instruksi dengan jelas.

Enak ngomongnya, dalam praktiknya susah, karena masih ada pengaruh emosional dalam setiap individu. Baik pemimpin maupun yang dipimpin harus bisa menyelesaikan konflik antara kepentingan pribadi dengan tujuan organisasi. Harus menggunakan proses dialektis untuk menyelesaikan konflik, tesis dibandingkan dengan antitesis untuk selanjutnya dibuat sintesisnya. Bukan dengan cara ngotot yang paling benar ataupun ngambeg dan mengancam jika tidak diakomodasi pendapatnya.

Bagaimana jika ada individu yang tidak mau menyelesaikan konflik kepentingannya dengan proses dialektis ?

Jikalau terjadi seperti itu, sepertinya anda perlu belajar pada nicolo machiavelli, kalau tidak bisa dibina maka sepatutnya dibinasakan. Memang kanker itu seharusnya dimutilasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s