Mengapa kita tidak telanjang saja ?

Instagram, bigo.live, nono.live dan beetalk adalah salah satu media sosial yang menerapkan kebijakan restriktif terhadap konten bugil. Sedikit saja ada laporan user bahwa anda sedang mengumbar aurat, admin komunitas akan segera memblokir bahkan menutup akun anda. Facebook, Google+ dan twitter juga melakukan hal yang sama, meskipun kebijakannya tidak seketat instagram dan BIGO.

Mengapa kita tidak boleh telanjang di media sosial ?

Dari sisi hukum legal, postingan citra digital merupakan informasi elektronik yang dilindungi UU Hak Cipta, UU ITE dan UU Anti Pornografi. Tujuannya sebagai penghormatan harkat dan martabat manusia serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral sesuai dengan ajaran agama. Dengan logika, semakin menyebarnya pornografi, semakin rawan tindakan asusila terjadi.

Dari sisi sains sosial, manusia adalah jenis hewan yang malu dengan alat genitalnya sendiri. Mereka menutupi apa yang tidak ditutupi oleh simpanse, kelinci ataupun lumba-lumba. Bahkan mereka menutupinya dengan kulit binatang yang mati. Baju dan produk fashion juga berfungsi menunjukkan selera dan strata sosial individu di masyarakat.

Dari sisi psikologi, kita tidak dilahirkan dengan otomatis memiliki rasa malu karena tidak berpakaian. Kita diajarkan bahwa menutupi tubuh merupakan kode penting tata cara berlaku dalam bermasyarakat.

Dari sumber pretenkabinet leiden, manusia indonesia zaman dahulu sudah terbiasa mengumbar aurat dalam beraktifitas sehari-hari. Dari mandi bersama pasangan selain suami istri, mencuci pakaian berjamaah, kegiatan di pasar, hingga upacara adat. Kegiatan pornoaksi tersebut juga tidak serta merta menimbulkan perbuatan mesum dan maksiat. Mereka sudah BIASA saja. Tidak ada harga diri tercabik-cabik gara-gara  tidak berpakaian lengkap. Hal ini masih terjadi di berbagai wilayah di Indonesia zaman modern.

Jadi, sungguh aneh jika kegiatan bertelanjang di ruang sosial dianggap tindakan kriminal, melebihi tindakan  mengorganisir anak2 berjualan koran di perempatan jalan. Mana yang lebih meresahkan hati nurani kita ?

Secara fitrah, by nature, kita adalah telanjang. Alat genital kita ya bentuknya seperti itu, tidak peduli seberapa pintar kita mengemas diri kita dengan berpakaian. Selama ini, kita terkondisikan secara sosial untuk memanipulasi, membohongi, menipu, menjauhkan, mendelusikan, menekan ke dalam bawah sadar dan mengabaikan realita bentuk tubuh kita yang asli. Dipaksa oleh media untuk membeli produk fashion paling mahal untuk sekedar menutupi bentuk asli kita sambil dipamerkan ke ranah sosial. Mensetarakan bahwa kebutuhan sandang (berpakaian) itu sama perlunya dengan makan dan tempat untuk beristirahat. Realita menyedihkan dari makhluk paling pintar di muka bumi.

Rasanya perlu kita membuat akun alter di sosial media sebagai sarana ekshibisionis memamerkan alat kelamin kita sendiri, dan rasakan sensasi puas lega nikmat  karena mengakui bentuk tubuh kita yang apa adanya itu. Eskalasinya bisa ditingkatkan melalui kegiatan flashing dan voyeur, telanjang di tempat umum, namun fotonya disimpan saja, tidak perlu dipublikasikan, atau anda berurusan dengan aparat. Lebih afdol lagi anda pindah ke Canada saja. Konon katanya, di negara ini anda bebas mengekspresikan lekuk tubuh anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s