Memikirkan kekerasan pada perempuan

Apapun keyakinan anda, apapun standar moral anda, dari segi etika, moral maupun hukum, semua orang pasti tahu bahwa tindak kekerasan merupakan suatu perilaku manusia yang tidak pantas dilakukan. Begitu juga ketika perempuan dalam ancaman kekerasan seksual di ruang publik. Gagasan umum yang seolah konkrit namun sesat pikir adalah “salah perempuannya juga, suka mengumbar aurat”. Anda pikir pandangan seperti itu benar ?

Apakah saya boleh mencolok mata anda karena otak primitif anda terlalu dungu memahami masalah siapa yang bersalah dalam tindak kekerasan ? Tentu tidak boleh begitu bukan ?

Manusia perlu diberi pemahaman bahwa kita tidak memiliki hak atas tubuh perempuan atau siapapun itu, kecuali diizinkan. Menyalahkan pornografi dan minuman keras atas tindak kekerasan itu jelas-jelas alasan klasik. Ada jutaan manusia yang menonton tayangan porno namun tidak otomatis melakukan tindak kekerasan. Terus salah miyabi gitu ?

Coba gunakan otak kerdil primordial anda untuk menemukan ALASAN UTAMA dibalik tindak kekerasan gender ! Apakah salah dunia fashion yang mengumbar aurat ? Apakah salah penyebaran konten pornografi ? Apakah salah sinetron yang menayangkan adegan pemerkosaan ? Apakah salah koran lampu pink yang doyan mengabarkan berita pelecehan seksual ?

Dari sekian banyak orang yang terpapar hal diatas, hanya segelintir saja yang nekat melakukan tindak kekerasan. Terus gara-gara mereka, saya jadi tidak bisa menonton xvideos dan brazzer kesayangan saya. Iya !! Gara-gara mereka kalau sudah tertangkap, selalu memakai alasan klasik “terpengaruh film bokep”. Bakteri Tengik !!!

Kita semua harus paham, dan mulai mengakui, bahwa kejahatan terhadap gender itu terkonstruksi secara sosial. Hal ini merupakan manifestasi dari  situasi konflik yang terkait dengan rasa ketidakadilan menahun dan menyejarah dan sama sekali bukan semata-mata karena hasrat selangkangan. Kegagalpahaman atas alasan mendasar ini akan membuat pengambil keputusan akan salah menemukan solusinya. Masak iya, naughty america diblokir terus saya gak mencari tahu cara menembus proxy internet positif ?

Di negara yang masyarakatnya masih mengagung-agungkan selaput perawan, tentu saja para korban kekerasan lebih memilih bungkam daripada melaporkan. Karena rasa MALU lebih didahulukan daripada rasa perlu mendapat KEADILAN. Kita punya budaya malu kehilangan selaput dara daripada budaya lapor karena kehilangan rasa aman. Ya jadinya hukum kita hanya sebatas konteks jika tidak dibarengi revolusi sosial atau revolusi mindset.

Solusi ? Solusi ? Solusi ?

Jangan bilang hukum kebiri ! Siapa kita seenaknya menghilangkan nafsu seksual seseorang ? Apakah pencuri makanan di minimarket perlu dihukum dengan dihilangkan nafsu makannya ? Hukum kebiri menunjukkan sesat pikir paling fundamental dalam melihat isu kejahatan seksual yang seolah-olah  urusan penis ngaceng.

Ini bukan salah mia khalifa, komandan !!! Kekerasan terhadap perempuan itu sistemik karena kondisi sosial masyarakat. Perlu adanya revolusi sosial  agar masyarakat memiliki pandangan yang holistik atas isu seks dan seksualitas dan  problem maskulinitas dalam budaya patriarki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s