7 Deadly Sins of Delusions: Ketenaran

Siapa kamu?

Merupakan sebuah pertanyaan filsafat yang paling mendasar mengenai kehidupan manusia. Anehnya meski orang-orang sudah menanyakan pertanyaan ini kepada Sokrates sekitar 470 tahun sebelum Masehi, sampai sekarang belum ada satu pun yang mampu menjelaskan siapa diri mereka yang sesungguhnya.

Ketika dunia sudah memasuki era digital, pertanyaan ini menjadi semakin kompleks karena pribadi setiap orang kini mulai berbaur dengan gadget yang mereka pegang. Kalau saja kamu bertanya ke orang-orang: “Siapa kamu?” maka mesin pencari Google akan segera mencari jawabannya. Sejujurnya kamu tidak perlu repot-repot bertanya “Siapa kamu?” ke orang-orang yang berseliweran di jalan, kamu cukup mengetik nama mereka di Google dan AHA! Semua biodatanya bisa kamu ketahui melalui akun sosial medianya.

Sosial media memang memudahkan semuanya; termasuk bila kamu ingin menjadi orang terkenal. Dulu sebelum era sosial media merajalela, seseorang baru dianggap terkenal bila wajahnya terpampang di televisi, atau minimal suaranya bisa didengar di radio. Namun ketika internet semakin mudah diakses dan sosial media mulai mengambil alih 40% waktu kamu di dunia nyata, nyaris semua orang bisa meng-upload wajah, suara, atau video mereka secara digital. Hal ini tentu saja membuat orang yang dulunya hanya sampah masyarakat bisa menjadi artis dadakan di Twitter atau Instagram dengan bermodalkan payudara konten menarik.

Bercita-cita menjadi orang terkenal itu bagus, namun bisa menjadi masalah bila ada orang yang begitu ambisius menjadi terkenal dimana-mana. Belum sampai di situ, seringnya kita tidak menyadari bahwa diri kita juga terjangkiti penyakit ambisius ingin menjadi orang terkenal pula.

Coba perhatikan akun sosial media kamu: berapa jumlah foto selfie yang kamu upload di Instagram? Berapa jumlah twit tentang diri kamu sendiri di Twitter? Bila mencapai (katakanlah) 1000+ postingan, maka selamat! Kamu sudah masuk kategori Selebgram, Selebtwit, Selebook, atau seleb-seleb apa pun itu di sosial media lain.

Pertanyaan selanjutnya adalah:

Siapa kamu… bila tanpa sosial media?

Jreeeeeng!

(kamera zoom in zoom out seperti di sinetron)

Saya yakin (kebanyakan) kehidupan asli orang-orang tidaklah sebahagia di akun Instagramnya. Saya tidak mengatakan kalau orang-orang yang tampak bahagia di sosial media itu tidak bahagia; bila mereka memang sungguh bahagia maka alhamduliah. Namun yang sering saya temui, kehidupan mereka sesungguhnya biasa-biasa saja seperti orang-orang ber-follower di bawah angka seratus pada umumnya.

Ketenaran itu membohongi. Kita berbohong ke publik untuk menunjukkan betapa kita memiliki kehidupan super power perfect yang kenyataannya berbanding terbalik dengan kehidupan asli. Sebagaimana manusia normal pada umumnya, saya benci bila harus terpaksa berbohong ke orang lain, nah bagaimana bila terus menerus berbohong ke publik dan juga secara tidak langsung berbohong ke diri sendiri? Saya tidak tahu rasanya. Barangkali ada yang tahu?

Tanyakan ke diri kamu sendiri: Siapa kamu? Setiap kali kamu ingin tampil sempurna di hadapan orang lain. Tanya lagi: Siapa kamu? Setiap kali ego kamu ingin merendahkan orang lain.

Pertanyaan itu cukup kamu jawab di dalam hati, tidak perlu kamu umbar. Lagi pula siapa kamu?

(Vladd Voltaire)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s