Memahami Perkara Nyinyir

“Jangan menilai aku dari cerita orang lain, kamu tahu namaku, tapi tidak dengan ceritaku.”

Tema postingan yang sering kita saksikan di media sosial, biasanya terjadi karena kehidupan pemilik akun dinyinyirin oleh orang lain. Jelas ini gak nyaman bagi korban. Maksud hati ingin eksis pamer kebahagiaan di media sosial, malah dikritik hidupnya oleh orang lain.

Apakah budaya menilai atau membicarakan kehidupan orang lain itu salah ?

Artikel ini tidak membahas benar dan salah aktivitas nyinyirin orang. Saya bukan wasit. Disini saya hanya ingin membedah konflik sosial yang terjadi.

Pada dasarnya manusia dibentuk dan dididik oleh PENGALAMAN dan LINGKUNGAN yang berbeda sehingga nilai-nilai yang dianut juga beragam. Meskipun pengalaman yang terbentuk pada masing-masing individu berbeda, namun yang pasti sama adalah :

  1. Manusia punya fitrah menjadi hipokrit, melanggar sesuatu yang diyakininya dilarang.
  2. Manusia juga punya ego bahwa dirinya tidak bisa disalahkan. Lebih mudah menyalahkan orang lain daripada meyalahkan diri sendiri.
  3. Manusia memandang citra dirinya adalah yang terbaik, lebih mudah mencari pembenaran pemikirannya yang keliru daripada mengkoreksinya.

Dari sisi penyinyir, pekerjaan menilai hidup orang lain itu sangat memuaskan dahaga. Logika yang mereka bangun : “Tidak perlu hidupnya sempurna dulu kalau sekedar mau ngomongin orang, karena hidup gak ada yang sempurna”. Lagipula metode nyinyirin orang itu hanya mencari lubang kelemahan orang, bukan kelemahan diri sendiri. Masalah penyinyir masih gak sempurna hidupnya itu masalah integritas.

Dari sisi yang dinyinyirin. Ini sangat menyebalkan ! Sudah hidup bertahun-tahun melakukan pencitraan di masyarakat, di sosial media, pura-pura bahagia, traveling kemana-mana, nyobain kuliner dimana-mana, selfie bermacam-macam, eh ada saja penyinyir jahara yang sukses melakukan reviu hidup kita, kadang memang salah, kadang memang benar.

Pada umumnya, manusia tidak suka dengan hidup anda, bukan karena dia benar-benar membenci anda, bukan juga karena dia membenci diri mereka sendiri, bukan karena mereka iri, bukan karena hidup anda terlalu sempurna bagi mereka. Tidak perlu menghibur diri dengan alasan murahan seperti itu. Bukan itu penyebab utamanya.

Mereka tidak suka terhadap anda, bukan karena membenci, tetapi karena mereka TIDAK MEMAHAMI hidup anda. Mereka memiliki sudut pandang berbeda, meskipun lingkungan dan pengalamannya sama identik dengan anda. Anda marah karena mereka merusak usaha pencitraan hidup anda, mereka senang nyinyirin anda karena pemahaman mereka dengan realita hidup anda kebetulan berbeda. Itu yang sebenarnya yang terjadi.

Gagal paham aja masalahnya, bro, sist..

Cuman cewek yang masih perawan saja yang ngurusin isu selaput keperawanan. Yang udah gak perawan, udah naik level pemikirannya, egonya difokuskan ke hal lain yang lebih produktif daripada memikirkan isu moralitas keperawanan.

Cuman manusia mental jomblo saja yang ngotot ngurusin isu Married by Accident. Orang yang memang MBA, kira-kita masih penting ga mikirin isu itu ?

Cuman manusia penuh pencitraan saja yang ngebet mikirin haternya,

Cuman manusia rasis dan primordial saja yang ngurusin nikah beda agama,

Cuman manusia yang takut disodomi saja yang ngurusin isu “bahaya LGBT”.

Anda terus membenci karena anda gak paham.

Jika anda memahami akar permasalahannya, anda sebagai penyinyir akan lebih bijak menyinyiri, dan anda sebagai yang dinyinyirin akan lebih paham mengapa orang menyinyirin anda.

Gak perlu marah-marah dahulu jika dinyinyirin, itu malah menunjukkan kalau tujuan mereka berhasil, yaitu membuat anda gerah dan marah.

Negara dengan kondisi sosial yang maju, akan sangat menghargai mekanisme saling uji pendapat. Setiap ide atau pemikiran tidak kebal kritik, boleh dikritik, termasuk pencitraan hidup anda. Nama keren mekanisme saling nyinyir ini adalah Dialektika, dipopulerkan sama Socrates sebelum masehi, disempurnakan sama orang Jerman namanya George Wilhelm Friederich Hegel 200 tahun lalu.

Jadi, berusahalah memahami, daripada bereaksi penuh amarah.

Gak masalah dinyinyirin orang,

(Joule Gallantea)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s