Bekerja Mati-matian Tetapi Masih Miskin? Jangan-jangan Kamu…

Kerja dua puluh jam sehari. Berangkat ke kantor pukul tujuh pagi, bertemu macet, lalu pulang pukul sembilan malam, eh bertemu macet juga. Di kantor pun telinga jadi merah karena dibenta-bentak atasan. Namun, kamu tetap bersabar sambil bergumam, “Ah biarlah ini menjadi pengorbananku atas nama kapitalisme.”

Lalu hari gajian pun tiba. Angka nol di saldo kamu bertambah satu digit. Kamu tersenyum senang. Kamu berencana membayar segala macam tagihan dulu, baru setelah itu kamu bisa berbelanja apa pun yang kamu mau. Continue reading “Bekerja Mati-matian Tetapi Masih Miskin? Jangan-jangan Kamu…”

Bagaimana TechSabbath Menyelamatkan Saya Dari Kegilaan Sosial Media

Saya adalah pecandu sosial media.

Oh, ayolah, siapa yang tidak candu sosial media dengan gadget yang selalu di tangan?

Sosial media merubah banyak aspek di kehidupan saya. Saya memiliki banyak teman di dunia nyata, bahkan di dunia maya. Saya bisa melihat dari perspektif lain ketika ada kejadian di dunia nyata yang dibahas di dunia maya. Itu membuat saya belajar untuk tidak sembarangan menilai seseorang yang sudah dicap buruk oleh masyarakat. Yang lebih penting, saya banyak belajar mengenai dunia kepenulisan di sosial media yang berguna bagi karir saya. Saya belajar menggunakan kalimat prosa di Twitter karena Twitter hanya membatasi 140 karakter bagi penggunanya. Sedangkan di Facebook, saya sering mendapat link-link dari website lain yang membahas tentang pengetahuan yang berkembang di dunia akhir-akhir ini. Saya akui kalau saya merasa lebih pintar dari orang lain hanya karena aktif di sosial media (Jangan bohong, kamu juga merasakannya bukan?). Saya menjadi seperti seorang mad scientist dengan kepala yang besar karena kepintaran.

Namun, ternyata itu semua ada harga yang harus dibayar. Bukan dibayar dengan menggunakan uang, tetapi dengan pikiran yang super penat dengan banyaknya informsi yang ada.

Informasi berlebihan yang datang menghantam pikiran saya setiap kali gadget saya aktif ternyata membuat saya sangat kelimpungan di tengah-tengah arus informasi. Begitu gadget saya aktif, puluhan notifikasi dari berbagai macam aplikasi chatting langsung muncul meminta perhatian saya. Belum selesai saya membalas chat tersebut satu per satu, muncul lagi notifikasi lain yang minta diperhatikan. Apakah sampai di situ saja? Oh tidak, saya belum mengecek Twitter dan Facebook saya! Help me!

Hal itu jelas mengganggu diri saya untuk produktif. Buku-buku yang belum saya baca menumpuk di lantai, pekerjaan saya molor sampai mendekati deadline, dan yang paling parah: saya jadi sulit tidur karena berselancar di dunia maya sambil berebahan di kasur ternyata nikmat sekali.

Segala yang berlebihan itu tidak baik. Demikian pula dengan berinternet ria sepanjang waktu. Akhirnya pada suatu hari, saya menyerah kelelahan. Saya memutuskan untuk tidak menggunakan gadget saya selama satu hari penuh. Gadget saya taruh begitu saja di atas lemari tanpa dinayalakan sama sekali. Dalam satu hari tanpa online tersebut, saya banyak membaca buku dan menulis untuk mengisi waktu.

Hasilnya? Saya seperti baru saja bebas dari penjara.

Saya menyadari bahwa dunia ternyata tidak sebatas layar kotak handphone dan gadget semata. Saya jadi belajar memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi langsung di sekitar saya karena pikiran saya menjadi terfokus pada apa yang saya alami dan bukan pada yang saya pikirkan. Ketika saya menghentikan arus informasi yang masuk di kepala saya, saya justru mendapatkan informasi lain dari apa yang saya lihat dan apa yang saya sentuh. Ini jelas membuat saya lebih merasa menjadi lebih manusia daripada robot yang hanya terpaku pada satu layar kaca.

Ketika saya mencari tahu tentang yang saya rasakan di kolom pencarian Google, saya mendapati bahwa ada banyak orang yang juga mengalami hal yang sama dengan saya. Mereka menentukan satu hari khusus untuk tidak menggunakan handphone dan media elektronik lainnya. Mereka kembali dengan kehidupan yang dilakukan oleh nenek moyang kita lakukan sebelum adanya internet: membaca buku, bercengkrama secara face to face, dan bercinta.

Ada banyak yang menamai hari khusus tanpa internet tersebut dengan sebutan Digital Detox, TechSabbath, atau Puasa Sosmed. Namun, saya lebih suka menyebutnya TechSabbath karena terdengar relijius dan sedikit badass. Apa pun sebutannya tidaklah penting; yang penting adalah pikiran kita kembali berfungsi normal tanpa harus dimabuk informasi.

Sebelum saya serius masuk ke dunia tulis menulis seperti sekarang ini, dalam satu bulan saya bisa menghabiskan satu minggu tanpa menggunakan handphone sama sekali. Namun, karena pekerjaan saya mengharuskan saya mengirim email ke berbagai macam agensi tempat saya mencari nafkah, sekarang saya hanya bisa bertahan satu hari tanpa menggunakan handphone. Saya melakukan TechSabbath setiap satu minggu sekali atau ketika saya benar-benar jenuh dengan pemberitaan di sosial media yang sebagian besar pasti berisi berita buruk.

Kalau kamu merasa sosial media telah memenjarakan pikiranmu, kamu bisa membuka pintu penjara tersebut kapanpun yang kamu mau. Hiduplah dengan bebas, asalkan tidak kebablasan.

(Vladd Voltaire)

 

3 Alasan Mengapa Kita Harus Tetap Tinggal Di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal negara bernama Indonesia?

Sebuah negara yang (katanya) adil makmur dan penduduknya (katanya) ramah-ramah ini dihuni oleh sekitar 255.461.700 jiwa yang tersebar di pulau besar maupun pulau kecil. Namun, selayaknya sebuah negara yang dihuni oleh jutaan jiwa yang berbeda suku dan agama, Indonesia tentu memiliki beragam masalah; baik masalah besar (ricuh pemilihan gubernur atau presiden) dan masalah kecil (kasus pembunuhan Mirna atau kebencian netizen terhadap Awkarin).

Saya sendiri tidak memperdulikan masalah-masalah tersebut. Selama itu tidak mempengaruhi jumlah gaji saya, maka masalah besar dan kecil tersebut tidak saya anggap sebagai masalah.

Khususnya di sosial media, hampir setiap hari kita dicekoki oleh kabar buruk tentang negara tercinta kita ini. Semua media berlomba-lomba memberitakan ribuan masalah yang ada di Indonesia dengan harapan bisa meningkatkan kepopuleran sang pemberi berita secara instan. Sebagai warga negara yang sudah tinggal di Indonesia selama bertahun-tahun, tentu hal ini sering membuat kita membenci negara ini dan menimbulkan keinginan untuk segera pindah ke negara lain yang tampaknya minim masalah.

Namun, dibalik masalah-masalah tersebut, Indonesia tetaplah negara yang masih layak huni. Alasannya jelas:

1. Harga tiket ke luar negeri yang mahal dan pengurusan pindah kewarganegaraan yang ribet.

Kalau boleh jujur, harga tiket ke luar negeri yang terlalu mahal adalah penyebab utama mengapa kita tidak bisa meninggalkan negara ini begitu saja. contohnya, untuk ke Jepang saja kita harus merogoh kocek sekitar Rp 5.566.000 dimana uang segitu bisa digunakan untuk membeli nasi padang selama dua bulan penuh. Pindah ke negara lain hanyalah mimpi di siang bolong bagi kaum menengah ke bawah dan cuma orang-orang dengan status elit tertentu saja yang bisa pergi ke luar negeri dan menetap di sana. Belum lagi kita diribetkan dengan surat-surat pindah kewarganegaraan yang pastinya bertele-tele dan ribet. Darimana saya tahu kok bakalan ribet? Lha mengurus surat beasiswa di kelurahan saja ribet apalagi mengurus pindah kewarganegaraan.

2. Tidak jago berbahasa asing.

Ini jelas menjadi masalah kalau kamu ngotot pindah negara tetapi teryata kamu tidak paham dengan bahasa nasional negara tersebut. Misalnya, kamu ingin pindah Amerika Serikat. Tentu bakal merepotkan kalau kemampuan bahasa inggris yang kamu punya hanya seputar “Oh, yes” dan “Oh, no” atau kamu ingin pindah ke Jepang tetapi bahasa jepang yang kamu tahu cuma nama-nama merk Jepang saja seperti Toshiba, Yamaha, dan Suzuki. Bila kamu belum lancar berbahasa asing, maka tetaplah tinggal di negara ini saja daripada kamu pelanga-pelongo di negara orang.

3. Tanya ke diri kamu sendiri “Mau kerja apa di negara lain?”

Ya. Setiap kali niat pindah negara muncul di pikiran kamu, segera tanyakan ke diri kamu sendiri: Mau kerja apa di negara lain? Apakah kamu mau menjadi juru masak di restoran sushi? Apa kamu mau menjadi pengedar narkotika di wilayah perbatasan Amerika? Atau kamu ingin mengabdikan diri kamu untuk agama di Vatikan? Apa pun pekerjaan kamu, pastikan kamu tidak luntang-lantung di negara lain. Jangan sampai kamu menjadi sampah di Indonesia, lalu menjadi sampah pula di negara orang. Pastikan kamu memiliki cita-citaa dan maksud yang kuat untuk pindah negara.  Maka dari itu bekali diri kamu terlebih dahulu dengan berbagai macam skill yang mumpuni sebelum kamu memutuskan untuk terbang ke negeri antah berantah.

Jika ketiga alasan di atas belum cukup untuk membuat kamu tetap bertahan di Indonesia, maka silakan pecahkan tabungan kamu untuk pindah ke negara yang kamu mau. Karena apa gunanya bertahan bila pikiran kamu tidak bisa berdamai dengan kondisi di Indonesia yang selalu carut marut. Kalau tabungan kamu belum bisa membiayai kamu untuk pindah negara, yang saya tahu harga ginjal manusia di pasar gelap masih sangat tinggi. Asalkan kamu mau banyak minum air putih, maka kamu akan baik-baik saja hidup dengan satu ginjal. Itu kalau kamu paham maksud saya.

(Vladd Voltaire)

 

Bagaimana Brad Anderson Mengupas Rasa Bersalah Di Pikiran Manusia Melalui Film The Machinist

Seberapa besarkah dampak kesalahan di masa lalu terhadap kehidupan seseorang?

Trevor Reznik (diperankan oleh Christian Bale dengan sangat sangat sangat luar biasa) tampaknya sangat mengerti dengan hal itu. Ia hanyalah seorang mekanik mesin di sebuah pabrik yang menjalani kehidupan dengan biasa. Namun, yang membuatnya luar biasa dan membuat kamu berdecak kagum sekaligus ngeri adalah: tubuhnya yang kurus kering mengalahkan orang kurus mana pun yang pernah kamu temui!

Diceritakan bahwa Trevor mengalami insomnia parah yang membuatnya tidak tidur selama satu tahun. Hal itu tentu saja membuat kondisi mental dan fisiknya sangat terganggu. Apa lagi pekerjaannya sebagai mekanik mewajibkannya untuk tetap fokus saat berhadapan dengan mesin-mesin di pabrik. Kehidupannya yang biasa-biasa saja (datang kerja, pulang bercinta) mendadak terusik oleh orang misterius berbadan besar dan berkepala plontos yang tahu-tahu muncul di pabrik tempatnya bekerja. Semenjak kehadiran orang berkepala plontos tersebut, penonton perlahan-lahan disuguhi adegan-adegan membingungkan seputar teror yang tampaknya dilakukan oleh orang misterius itu. Namun, ternyata orang berkepala plontos itu adalah…

Film besutan Brad Anderson ini sedikit mengingatkan pada Fight Club, tetapi lebih kental dengan unsur misterinya dibandingkan dengan unsur ayo-semangat-mendobrak-kemapanan ala Tyler Durden. Kesampingkan pikiran kamu yang bertanya-tanya tentang bagaimana Christian Bale bisa sampai memiliki tubuh sekurus itu, film ini sebenarnya berusaha memberitahu bahwa lari dari masalah ternyata sama sekali tidak menyelesaikan masalah; rasa bersalah itu justru akan menumpuk selama berhari-hari dan berbulan-bulan sampai akhirnya ada titik dimana manusia tersebut tidak bisa membendung rasa bersalah yang dipendamnya dan pikirannya mulai mengambil alih untuk menghakimi dirinya sendiri.

Ini menggugah hati nurani kita untuk bertanya: apakah para penjahat di sekeliling kita bisa hidup tenang setelah melakukan kejahatan?

Seringkali kita menghakimi pelaku kejahatan yang wajahnya tersenyum bahagia di koran-koran lokal dan berharap mereka dihukum seberat-beratnya demi menghapus senyum bahagia di wajah mereka. Namun, apakah mereka benar-benar bahagia setelah melakukan kejahatan? Atau mereka hanya berusaha tampil biasa-biasa saja sambil tersenyum ceria, tetapi kenyataannya mereka dihakimi oleh rasa bersalah yang mereka perbuat sendiri?

Saya lebih setuju dengan poin kedua, bahwa meski seorang manusia bisa lari dari kejahatan yang ia perbuat, tidak ada satu pun manusia yang tidak tersiksa oleh pikirannya sendiri yang terus menerus mengatakan bahwa dirinya adalah penjahat. Ya, itu memang belum cukup untuk membebaskan penjahat itu dari lembaran hukum yang berlaku, tetapi setidaknya kita bisa berhenti menilai dan menghakimi orang lain karena toh mereka sudah terhakimi oleh pikiran mereka sendiri.

Jujur saja, setelah selesai menonton film ini saya jadi berpikir: jangan-jangan insomnia yang saya alami akhir-akhir ini karena saya ada berbuat kesalahan di masa lalu?

Bagaimana dengan kamu?

(Vladd Voltaire)