Bagaimana TechSabbath Menyelamatkan Saya Dari Kegilaan Sosial Media

Saya adalah pecandu sosial media.

Oh, ayolah, siapa yang tidak candu sosial media dengan gadget yang selalu di tangan?

Sosial media merubah banyak aspek di kehidupan saya. Saya memiliki banyak teman di dunia nyata, bahkan di dunia maya. Saya bisa melihat dari perspektif lain ketika ada kejadian di dunia nyata yang dibahas di dunia maya. Itu membuat saya belajar untuk tidak sembarangan menilai seseorang yang sudah dicap buruk oleh masyarakat. Yang lebih penting, saya banyak belajar mengenai dunia kepenulisan di sosial media yang berguna bagi karir saya. Saya belajar menggunakan kalimat prosa di Twitter karena Twitter hanya membatasi 140 karakter bagi penggunanya. Sedangkan di Facebook, saya sering mendapat link-link dari website lain yang membahas tentang pengetahuan yang berkembang di dunia akhir-akhir ini. Saya akui kalau saya merasa lebih pintar dari orang lain hanya karena aktif di sosial media (Jangan bohong, kamu juga merasakannya bukan?). Saya menjadi seperti seorang mad scientist dengan kepala yang besar karena kepintaran.

Namun, ternyata itu semua ada harga yang harus dibayar. Bukan dibayar dengan menggunakan uang, tetapi dengan pikiran yang super penat dengan banyaknya informsi yang ada.

Informasi berlebihan yang datang menghantam pikiran saya setiap kali gadget saya aktif ternyata membuat saya sangat kelimpungan di tengah-tengah arus informasi. Begitu gadget saya aktif, puluhan notifikasi dari berbagai macam aplikasi chatting langsung muncul meminta perhatian saya. Belum selesai saya membalas chat tersebut satu per satu, muncul lagi notifikasi lain yang minta diperhatikan. Apakah sampai di situ saja? Oh tidak, saya belum mengecek Twitter dan Facebook saya! Help me!

Hal itu jelas mengganggu diri saya untuk produktif. Buku-buku yang belum saya baca menumpuk di lantai, pekerjaan saya molor sampai mendekati deadline, dan yang paling parah: saya jadi sulit tidur karena berselancar di dunia maya sambil berebahan di kasur ternyata nikmat sekali.

Segala yang berlebihan itu tidak baik. Demikian pula dengan berinternet ria sepanjang waktu. Akhirnya pada suatu hari, saya menyerah kelelahan. Saya memutuskan untuk tidak menggunakan gadget saya selama satu hari penuh. Gadget saya taruh begitu saja di atas lemari tanpa dinayalakan sama sekali. Dalam satu hari tanpa online tersebut, saya banyak membaca buku dan menulis untuk mengisi waktu.

Hasilnya? Saya seperti baru saja bebas dari penjara.

Saya menyadari bahwa dunia ternyata tidak sebatas layar kotak handphone dan gadget semata. Saya jadi belajar memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi langsung di sekitar saya karena pikiran saya menjadi terfokus pada apa yang saya alami dan bukan pada yang saya pikirkan. Ketika saya menghentikan arus informasi yang masuk di kepala saya, saya justru mendapatkan informasi lain dari apa yang saya lihat dan apa yang saya sentuh. Ini jelas membuat saya lebih merasa menjadi lebih manusia daripada robot yang hanya terpaku pada satu layar kaca.

Ketika saya mencari tahu tentang yang saya rasakan di kolom pencarian Google, saya mendapati bahwa ada banyak orang yang juga mengalami hal yang sama dengan saya. Mereka menentukan satu hari khusus untuk tidak menggunakan handphone dan media elektronik lainnya. Mereka kembali dengan kehidupan yang dilakukan oleh nenek moyang kita lakukan sebelum adanya internet: membaca buku, bercengkrama secara face to face, dan bercinta.

Ada banyak yang menamai hari khusus tanpa internet tersebut dengan sebutan Digital Detox, TechSabbath, atau Puasa Sosmed. Namun, saya lebih suka menyebutnya TechSabbath karena terdengar relijius dan sedikit badass. Apa pun sebutannya tidaklah penting; yang penting adalah pikiran kita kembali berfungsi normal tanpa harus dimabuk informasi.

Sebelum saya serius masuk ke dunia tulis menulis seperti sekarang ini, dalam satu bulan saya bisa menghabiskan satu minggu tanpa menggunakan handphone sama sekali. Namun, karena pekerjaan saya mengharuskan saya mengirim email ke berbagai macam agensi tempat saya mencari nafkah, sekarang saya hanya bisa bertahan satu hari tanpa menggunakan handphone. Saya melakukan TechSabbath setiap satu minggu sekali atau ketika saya benar-benar jenuh dengan pemberitaan di sosial media yang sebagian besar pasti berisi berita buruk.

Kalau kamu merasa sosial media telah memenjarakan pikiranmu, kamu bisa membuka pintu penjara tersebut kapanpun yang kamu mau. Hiduplah dengan bebas, asalkan tidak kebablasan.

(Vladd Voltaire)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s