Bekerja Mati-matian Tetapi Masih Miskin? Jangan-jangan Kamu…

Kerja dua puluh jam sehari. Berangkat ke kantor pukul tujuh pagi, bertemu macet, lalu pulang pukul sembilan malam, eh bertemu macet juga. Di kantor pun telinga jadi merah karena dibenta-bentak atasan. Namun, kamu tetap bersabar sambil bergumam, “Ah biarlah ini menjadi pengorbananku atas nama kapitalisme.”

Lalu hari gajian pun tiba. Angka nol di saldo kamu bertambah satu digit. Kamu tersenyum senang. Kamu berencana membayar segala macam tagihan dulu, baru setelah itu kamu bisa berbelanja apa pun yang kamu mau.

Kenyataannya, belum ada dua minggu berlalu dan jumlah angka di saldo kamu semakin berkurang setiap hari. Utang-utang kamu bertumpuk seperti pakaian kotor anak kost, dan mimpi kamu untuk belanja ini itu hanya menjadi mimpi di siang bolong.

Akhirnya otak sarjana kamu mulai berpikir, “Kerja mati-matian seperti romusha tapi kok aku masih miskin ya?”

Jangan-jangan kamu:

1. Sudah menikah padahal gaji masih sekitar dua juta Rupiah?

Pernikahan itu penyakit bagi orang miskin. Tidak percaya? Tanya saja ke ribuan orang miskin yang sudah menikah di sekeliling kamu. Untuk menghidupi satu orang saja sudah sulit apalagi harus menghidupi dua atau tiga orang.

Mari kita bermain hitung-hitungan sederhana. Anggaplah gaji kamu masih sekitar dua juta Rupiah, kamu sudah menikah, dan parahnya lagi kamu masih tinggal di rumah kontrakan. Maka berlaku rumus:

Rp 2.000.000 – Rp 800.000 (biaya sewa rumah, misalnya) = Rp 1.200.000 – Rp 500.000 (biaya belanja istri) = Rp 700.000 – Rp  300.000 (Buat kiriman untuk orangtua sendiri) = Rp 400.000 – Rp 300.000 (Buat kiriman orangtua istri) = Rp 100.000 – Rp 100.000 (bensin selama satu bulan ke depan) = Rp 0.

Itu hanyalah hitungan kasarnya saja. Tapi setidaknya kamu bisa membayangkan sendiri apa akibatnya kalau kamu masih nekat ngebet nikah padahal perekonomian kamu masih setara dengan uang bulanan mahasiswa. Belum lagi kalau sudah memiliki anak yang pastinya akan membuat tagihan semakin membengkak. Solusinya: mintalah sang istri juga bekerja membantu suami atau cerai saja sebelum terlambat.

2. Kamu merasa tidak enakan saat menagih utang teman atau saudara kamu?

Ada gula ada semut. Peribahasa ini sangat mencerminkan kondisi kamu yang mendadak dikelilingi para fakir miskin dadakan ketika mereka tahu kalau kamu sudah bekerja dan bergaji lumayan.

Saya sangat paham perasaan kamu saat mau menagih uang yang dipinjam oleh teman atau saudara kamu, padahal kamu sendiri sangat membutuhkan uang. Kamu pasti merasa saat tidak enak saat menelepon mereka dan meminta kembali uang yang telah mereka pinjam beberapa abad yang lalu. Belum lagi mereka yang suka menghilang saat bertemu kamu. Sedikit demi sedikit uang kamu akhirnya terkikis habis tanpa pernah kembali.

Solusinya adalah: pastikan kamu membuat buku catatan kecil yang berisi tentang daftar orang-orang yang meminjam uang kamu. Saya yakin mereka sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran sambil berharap kamu lupa dengan utang mereka. Dan lagi, jangan sungkan-sungkan untuk meminta kembali uang kamu. Itu uang kamu sobat! Jangan pernah membiarkan diri kamu menjadi miskin. Lebih baik orang lain yang miskin daripada kamu yang miskin. Kecuali kamu memang berniat membantu mereka yang kesusahan, maka kamu bisa memberikan uang kamu dengan sukarela.

3. Kamu kebablasan hidup hedon demi pencitraan?

Bagi sebagian orang, terlihat kaya raya itu jauh lebih penting daripada kaya raya beneran.

Jangan heran bila di Twitter, Facebook, atau Instagram banyak foto-foto orang yang pamer berada di dalam kamar hotel mewah atau berbagai macam makanan dan minuman dengan nama yang dibarat-baratkan. Sama sekali tidak masalah kalau kamu memang kaya raya beneran, tetapi menjadi masalah kalau kamu rela tidak makan dua hari hanya untuk membeli sekotak donat mahal di mall supaya kamu bisa pamer ke teman-teman kamu.

Kalau status kamu masih karyawan dengan gaji standar UMR biasa, maka alangkah baiknya kamu tidak perlu memaksa diri bertingkah hedon layaknya selebtwit atau selebgram lainnya. Lebih baik uangnya kamu pakai buat beli makan nasi campur di warteg. Mengenyangkan sekaligus membahagiakan.

4. Ternyata kamu masih nganggur?

Tolong saja ya, segera cari pekerjaan sekarang juga sebelum kamu menjadi benalu bagi oragtua kamu dan teman-teman kamu. Tidak ada yang mau dengan pengangguran, kecuali kamu adalah wanita cantik yang kerjaannya menempel di pelukan om-om.

 

Tapi sebenarnya tidak apa-apa menjadi orang miskin karena jumlah orang miskin di Indonesia jauh lebih banyak daripada jumlah orang kaya. Setidaknya kamu bisa ikut demo dengan ribuan orang miskin lainnya dan mendapat nasi bungkus gratisan. Lumayan kan kamu bisa hemat Rp 15.000 buat makan siang?

 

(Vladd Voltaire)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s