Eh, Stop! Pungut Dulu Sampah Di Lantai Sebelum Membaca Ini!

Seperti pada hari-hari biasanya, saya mengunjungi kantin di kampus untuk sekedar bersantai berbincang-bincang dengan kawan-kawan seperjuangan yang entah kapan wisudanya. Ada beberapa alasan mengapa saya sering mengunjungi kantin kampus ketimbang tempat-tempat ngopi lain seperti kafe atau sebangsanya. Selain banyak mahasiswi-mahasiswi manis yang berseliweran tanpa henti, kantin kampus adalah tempat berkumpulnya berbagai macam manusia dari segala jenis suku, wajah dan sifat. Itu membuat saya betah berlama-lama di kantin kampus karena isinya yang dinamis.

Ada satu kebiasaan unik sekaligus menjijikan yang sering dilakukan mahasiswa perokok di kantin kampus. Entah mengapa mereka enggan membuang abu rokok di asbak yang telah disediakan dan lebih memilih membuang abu rokoknya di piring bekas makanan. Apalagi kalau bara api rokoknya sudah hampir mendekati filter; mereka bakal mencocol-cocolkan rokok tersebut ke sisa nasi di piring agar api rokoknya mati.

Saya dibesarkan di keluarga yang taat pada kebersihan, meski saya akui kalau kamar saya pun sering berantakan ketimbang rapi. Namun, melihat tingkah polah mahasiswa dekil yang suka membuang abu rokok di makanan itu membuat saya mau tidak mau menggelengkan kepala. Saya sering berpikir: “Apakah petugas pembersihan tidak jijik melihat sisa makanan yang dipenuhi abu rokok?” Mereka pasti jijik. Manusia mana yang tidak jijik melihat sisa nasi atau kuah soto yang menghitam karena abu rokok?

Jangan kira para mahasiswinya lepas dari perbuatan kotor; mereka pun terkadang sama joroknya dengan yang lain.

Pernah melihat tumpukkan tisu yang mengapung indah di atas kuah bakso?

Kalau mahasiswa sering bermasalah dengan abu rokok, mahasiswi lebih bermasalah dengan tisu. Tidak percaya? Coba saja datangi kantin kampus atau kafe yang mejanya penuh dengan wanita-wanita bergosip. Apa yang terjadi sesudahnya? Tisu, tisu dan tisu dimana-mana.

Yang membuat saya heran. Jarak tempat sampah dengan tempat duduk tidak sampai berkilo-kilo meter jauhnya. Jadi, apa yang membuat mereka malas membuang sampah di tempatnya? Apa membuang sampah pada tempatnya adalah perbuatan kasta rendah?

Itu baru kejadian di seputaran kantin kampus saja, belum lagi ditambah dengan lingkungan perumahan masyarakat di kota-kota di Indonesia.

Saya sudah lama hampir 7 tahun bermukim di Samarinda dan selama 7 tahun itu pula saya tidak pernah melihat lingkungan Samarinda yang bersih, kecuali di depan kantor pemerintahan atau di pedesaan. Pemandangan kantong plastik berisi berbagai macam tumpukkan “sisa neraka” yang nangkring di pinggir jalan adalah hal biasa. Selain itu, bak sampah di pinggir jalan selalu dipenuhi sampah yang berceceran keluar dari bak.

Keadaan sungainya? Jangan ditanya.

Sepertinya orang Samarinda punya dendam tersesndiri dengan sungai. Nyaris tidak ada sungai yang airnya keruh secara alami; semuanya keruh dengan berbagai macam bungkus mie instan atau berbagai macam zat-zat limbah berwarna hitam yang hanyut dengan damai di permukaan sungai. Saya curiga, apakah sungai pernah berbuat kesalahan sampai-sampai orang Samarinda doyan melempar kantong plastik sampah ke sungai? Belum lagi dengan pemukiman-pemukiman di pinggir sungai yang jelas menyumbat apa saja yang mengalir di bawahnya. Jadi, jangan heran kalau Samarinda selalu menjadi Venesia dadakan bila hujan deras menerpa.

Kenapa dan apa yang membuat orang-orang malas peduli dengan lingkungannya sendiri?

  1. Disiplin yang tak maksimal.

Ya, di setiap sekolah manapun selalu mengajarkan murid-muridnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Ini seharusnya membuat anak-anak penerus bangsa jadi lebih tahu untuk membuang sampah pada tempatnya, bukan? Namun, ketika mereka sudah dewasa ya tetap saja mereka membuang sampah sembarangan seperti yang lainnya.

Bisa jadi itu dikarenakan disiplin yang tidak maksimal. Mereka memang diajarkan di sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi setiap hari mereka melihat ibu dan bapaknya melempar kantong sampah ke sungai. Hal ini secara tidak langsung membuat mereka berpikir bahwa tidak akan ada yang memarahi atau menghukum bila mereka membuang sampah sembarangan. Akibatnya ya mereka menjadi penerus bangsa yang hobi mengotori jalan dan sungai sama seperti ibu dan bapaknya.

  1. Masyarakat yang bodo amat.

Selokan tersumbat, dibiarkan. Kantong plastik berhamburan di luar, dibiarkan. Ada orang buang sampah di sungai, dibiarkan. Tak lama kemudian hujan deras pun datang dan tahu-tahu semua orang saling menyalahkan.

Yup, saat dampak dari sampah tersebut sudah terasa, tahu-tahu seluruh sosial media memaki-maki orang yang buang sampah sembarangan. Pemerintah pun tak ayal kena imbasnya. Mereka habis-habisan diwawancarai mengenai banjir yang melanda padahal harusnya wartawan tahu kalau pemerintah ya sudah pasti bakal mengatakan kalimat sakti seperti “Ini adalah tanggung jawab kita semua…” dan blablabla sejenisnya.

Saya jadi ingat kata-kata guru bahasa inggris SMP saya: “Orang yang masa bodoh karena dia benar-benar bodoh.”

 

  1. Tidak adanya punishment.

Undang-undang di Indonesia banyak yang mengatur berbagai mcam hal, tetapi anehnya tidak ada hukuman bagi para pengotor jalanan. Atau kalaupun ada, pelaksanaannya juga tidak maksimal dan tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku. Misalnya, ada peraturan Pemerintah RI no. 81 yang berisi tentang pengelolaan sampah di rumah tangga. Dalam peraturan ini ditetapkan bahwa setiap orang dilarang:

  • Mengimpor sampah.
  • Mencampur sampah dengan limbah beracun.
  • Membuang sampah yang menyebabkan pencemaran atau perusakan lingkungan.
  • Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.
  • … dan lain sebagainya.

Namun kenyataannya, masih banyak ibu-ibu berdaster dan bapak-bapak bersarung yang membakar sampah di halaman rumah orang dengan antengnya. Ini dikarenakan tidak ada ganjaran yang setimpal kalau melakukan perbuatan tersebut. Saya tidak pernah melihat orang-orang dari dinas pemerintahan yang menegur para pembuang sampah sembarangan. Jikalau ada, paling banter mereka Cuma dinasehati lalu ditinggal pergi begitu saja.

Bayangkan kalau setiap orang yang membuang atau membakar sampah sembarangan dikenakan hukuman membayar denda Rp 1.000.000 atau mendekam di penjara selama 1 bulan, apa yang terjadi?

Gunakan imajinasi Anda sendiri.

Itu baru masalah sampah, belum lagi dengan masalah asap knalpot hitam yang menjadi sarapan sehari-hari para pejuang kapitalisme di jalan raya setiap pagi. Wajar saja banyak yang iri dengki melihat tayangan jalan-jalan ke luar negeri yang menampilkan kota-kota di luar negeri yang tertata rapi dan minim kemacetan.

Untuk menutup artikel ini, saya akan mengambil cuplikan perbincangan Cecilia dengan Malaikat Ariel di buku Through A Glass, Darkly karya Jostein Gaarder:

Cecilia bertanya ke Malaikat Ariel, “Orang bilang, kita akan ke surga setelah mati. Benarkah?”

Malaikat Ariel mendesah, “Kalian semua sekarang sudah berada di surga sekarang. Jadi, sebaiknya kalian berhenti bertengkar dan berkelahi. Sangat tidak sopan berkelahi di hadapan Tuhan.”

(Vladd Voltaire)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s