Masyarakat Gila Pesta

Semua lapisan masyarakat menyukai berpesta, semua struktur kebudayaan doyan berseremoni. Dari suku pedalaman termarginalkan, mamah-mamah sosialita, om-om forum nightlife, promptnight party, bachelor party, seremoni penyambutan Bapak Gubernur,  hari raya keagaaman, kelahiran, hingga pesta pernikahan. Berapa kali kita menghadiri undangan pesta dalam sebulan ?

Apa yang dilakukan Kepala Daerah ketika hendak membangun bandara, misalnya ? Seremonial peletakan Batu Pertama. Bagaimana jika pembangunan bandara itu mangkrak ? Mubazir bukan, Peletakan Batu Pertama saja pakai diseremonikan. Apakah menunjukkan kinerja dan kontribusi yang secuil itu perlu dirayakan ?

Bagaimana masyarakat merayakan telah lahirnya bayi laki-laki ? Potong kambing 2 ekor, atau sapi 1 ekor. Harus kambing, sapi atau untah yah. Ayam, bebek peking, ikan tuna, ikan salmon yang lebih sehat dari kambing, tidak dianggap sebagai substitusi. Bagaimana jika Bapak dan Ibunya sedang tidak punya uang ? bisa utang dulu sama tetangga. Biaya beli makanan yang bergizi, biaya pendidikan anak, bisa asuransi kesehatan bisa dikesampingkan dahulu.

Bagaimana masyarakat Indonesia menyambut lebaran ? Mudik, Cuti dan Minta THR. semua orang minta dan bagi-bagi THR, semua orang ingin mudik, semua orang ingin cuti dan tidak produktif. Hingga jumlah barang yang beredar kalah telak dengan jumlah uang yang beredar, INFLASI. Belum lagi jumlah kecelakaan lalu lintas yang meningkat. Liburan kok ingin berjamaah ?

Bagaimana jika hari ini adalah hari kelahiran anda ? Ingin diberi SURPRISE oleh rekan atau kerabat terdekat. Jauh-jauh hari anda akan memberi “kode” di sosial media kalau sebentar lagi anda akan genap tambah tua setahun. Orgasme kebahagiaan anda akan meluap-luap jika surprise telah anda dapatkan sesuai planning. Apa jadinya jika hari ulang tahun anda, tidak terjadi apa-apa ? tidak ada bedanya dengan hari lainnya ? Apakah anda akan meribetkan diri anda sendiri ? Apakah ego dan kebahagiaan dipicu oleh hal-hal yang se-kuno itu ?

Bagaimana pula dengan resepsi pernikahan ? dimana yang menikah siapa yang bahagia malah siapa. Setelah menghabiskan biaya resepsi yang mahal seharga Down Payment satu unit rumah, kedua mempelai malah tinggal di sepetak kontrakan. Demi hanya takut diberi persepsi “Hamil di Luar Nikah” oleh masyarakat sekitar. Sungguh Ironi.

Silahkan menambah pesta konyol lainnya, saya rasa list-nya masih banyak lagi. Semakin beragam dan sering pesta yang diadakan oleh masyarakat, bisa juga dijadikan indikator betapa stress-nya masyarakat kita.

Tidak ada yang salah dengan berpesta, salah satu sarana untuk bersosialisasi. Kecuali itu pesta kanibalisme layaknya suku pedalaman antah berantah seperti di film. Yang saya ilustrasikan di atas adalah contoh pesta yang perlu dipikirkan ulang sebelum dilaksanakan. Jangan sampai subtansi malah dikalahkan oleh formalitas seremonial. Justru harusnya kita lebih membiasakan diri dengan hal-hal praktis untuk hanya sekedar ingin bahagia, seperti menyantuni anak-anak panti asuhan atau jadi pengajar anak-anak pedalaman desa tertinggal. Sungguh, hidup kamu jadi jauh lebih berarti ketika berguna bagi masyarakat dibanding jumlah suprise yang kamu dapatkan dalam setiap set pesta kejutan.

Sungguh, demi kebahagiaan dan keberartian hidup ini, kegilaan ini harus direkonstruksi ulang. Minimal dari pikiran kamu, saat ini juga.

(Joule Gallantea)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s