Deadly Silence (Part.1)

(Artikel panjang ini lebih menceritakan tentang diri saya. Meski terdengar selfies, tapi siapa tahu ada nilai-nilai yang bisa kamu pelajari)

Kamu harus kerja cerdas dan bukannya kerja keras,” kata seseorang sewaktu saya masih bekerja dengannya di sebuah usaha kecil.

Kalau kamu belum tahu, saya dulu pernah bekerja selama hampir 19 jam penuh dalam sehari dan itu berlangsung selama hampir setahun.

Kamu tahu berapa gaji saya waktu itu?

Dibawah satu juta Rupiah!

Saya mengerti benar bahwa gaji saya sangat tergantung pada jumlah penghasilan dalam sehari yang dikalkulasikan hingga satu bulan. Dalam artian, bila pemasukan di bulan ini hanya sedikit, maka gaji saya pun sedikit. Bila pemasukan bulan ini banyak, maka begitu pula dengan gaji saya.

Kamu harus kerja cerdas dan bukannya kerja keras

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala. Bagaimana caranya bekerja cerdas? Saya ini bukan tipikal orang cerdas dan bukan tergolong orang kaya. Jadi, yang saya lakukan hanya bekerja semaksimal yang saya bisa.

Sistem di tempat saya kerja dulu adalah memastikan dalam sebulan harus berhasil mengumpulkan uang setidaknya Rp 10.000.000/bulan, bila lebih dari itu maka gaji saya akan bertambah.

Dengan jumlah customer yang terus meningkat, saya optimis bisa mendapatkan pemasukan Rp 10.000.000/bulan. Namun, kenyataannya tidak semudah yang diimpikan.

Tiap bulannya, usaha kami ternyata hanya bisa mampu menghasilkan Rp 9.000.000 atau malah di bawah itu. Jumlah segitu hanya mampu menambal biaya operasional dan perawatan fasilitas kerja. Mimpi buruknya… itu berpengaruh ke gaji saya.

Bukan. Bukan masalah kualitas. Saya berusaha mati-matian menjaga kualitas agar customer terpuaskan dan tidak beralih ke pesaing sebelah. Jikalau terjadi human error, itu pun hanya terjadi sesekali saja. Masalah utama justru disebabkan oleh biaya operasional dan biaya sewa tempat yang mencapai lima jutaan tiap bulannya dan itu harus dibayar saat itu juga tanpa bisa ditunda sama sekali.

Saya bekerja dan terus bekerja dengan harapan keadaan menjadi lebih baik. Bahkan saking kerasnya saya bekerja, sampai-sampai saya hanya bisa sekali saja menjenguk ibu saya yang saat itu mengidap penyakit tumor paru-paru.

Waktu itu saya ingin sekali menjaga ibu di rumah sakit. Memang sudah ada bapak dan kakak saya yang menjaganya, tetapi pikiran saya tidak bisa tenang dan selalu memikirkannya.

Kakak saya sudah memarahi saya untuk segera pulang ke Balikpapan dan menjenguk ibu selama beberapa hari. Saya kebingungan. Kalau saya  pergi, siapa yang mejaga kerjaan? Rekan-rekan yang biasa menggantikan saya waktu itu sedang sibuk menyelesaikan skripsi sehingga tidak ada yang bisa menggantikan posisi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya ke rekan saya lainnya yang merupakan komisaris sekaligus investor untuk menggantikan saya selama beberapa hari.

Tapi apa jawabnya?

Wah itu terserah kamu. Aku juga sibuk kerja nih, kalau bukan kamu yang jaga lalu siapa lagi?

DEEG!

Saya semakin bingung. Antara marah, bingung dan sedih semuanya bercampur aduk. Semuanya seperti lepas tangan dan tidak mau tahu tentang keadaan saya. Salah satu rekan saya malah bertanya konyol:

Ibu kamu gak bisa dirawat di Samarinda bro?”

YA GAK BISALAH, NJING!

Fyi, saya belum memberitahu tentang penyakit ibu ke rekan-rekan saya. Saya hanya mengatakan kalau beliau sedang sakit paru-paru basah.

Dan seperti yang kamu duga, saya mengambil keputusan yang paling bodoh dan tolol di sepanjang kehidupan saya:

Saya memilih untuk tetap bekerja.

Sebuah keputusan maha bodoh yang sampai sekarang terus saya sesali. Siapa saja yang bisa ke masa lalu, tolong bunuh saya di masa itu.

Lalu satu minggu kemudian, bapak saya menelepon saya dengan suara terisak-isak:

Ibu sudah meninggal

Saya tidak bisa menceritakan apa yang saya rasakan saat itu. Semuanya terlalu absurd untuk dijelaskan. Yang pasti adalah…

Ibu sudah tiada.

Saya tidak bisa lagi mendengar suara cerianya, kecantikannya, masakannya, dan terlebih lagi, kasih sayangnya.

Saya langsung meminta seorang teman untuk mengantar saya ke rumah kontrakan tempat tinggal saya dan kakak saya. Di sana, kakak saya sudah menanti di atas sepeda motornya. Kami lalu berpelukan. Orang yang paling kami sayangi kini sudah beristirahat dalam damai.

Kebetulan kakak ipar saya juga sudah berada di sana dan menyarankan untuk pergi ke Balikpapan dengan menggunakan taksi karena terlalu berbahaya pergi ke Balikpapan di malam hari menggunakan sepeda motor. Akhirnya kami bertiga pergi ke Balikpapan saat itu juga dengan memakai taksi.

Di sepanjang perjalanan menuju Balikpapan, saya terus terbayang-bayang wajah ibu. Rasanya baru kemarin beliau mengucapkan “Hati-hati di jalan” ketika saya mau berangkat ke Samarinda, rasanya baru kemarin beliau mengucapkan “Ibu sayang kamu, rasanya baru kemarin beliau menyuruh saya makan agar tidak sakit, rasanya baru kemarin saya diantar ke sekolah sambil menggenggam tangannya yang kasar karena teriris pisau, rasanya baru kemarin beliau melahirkan saya.

Rasanya semua baru saja terjadi.

Sesampainya di rumah, saya langsung menghambur di antara para pelayat dan mendapati tubuh ibu sudah terbujur kaku di ruang tamu. Saya sangat berharap kalau tubuh yang kaku tersebut adalah jenazah orang lain dan bukannya ibu saya.

Namun, saya salah. Meski sudah dipeluk berkali-kali, tubuh kaku tersebut tetaplah ibu saya.

Saya pandangi wajahnya yang tenang seperti orang yang sedang tertidur. Ibu sangat cantik. Tidak ada wanita lain yang kecantikannya melebihi dia. Bahkan bibirnya terlihat tersenyum meski sudah tak bernyawa.

Bu, aku pulang,” bisik saya sambil memeluk tubuhnya yang dingin.

Pemakaman beliau dilangsungkan di keesokan harinya. Saya terus berada di sebelah beliau sampai dia dimasukkan ke dalam liang lahat. Untuk pertama kalinya, saya tidak ingin jauh-jauh darinya.

Ibu sudah tiada, begitu pula dengan saya.

Penyesalan karena tidak bisa menjaganya selama dia terbaring di rumah sakit terus menghantui saya sampai saat ini. Tak terhitung sudah berapa kali saya memimpikan beliau sedang terkapar di rumah sakit dan saya berada di sebelahnya sambil menghiburnya atau memijat telapak tangannya. Otak saya menciptakan simulasi dunia alternatif tentang sesuatu yang tidak saya lakukan di masa lalu.

Saya anggap itu sebagai tamparan keras.

Saya benci diri saya yang lebih memilih bekerja daripada bersama beliau, saya benci rekan-rekan kerja saya yang lebih mementingkan kuliahnya dibandingkan menggantikan saya, saya ingin membunuh para komisaris abal-abal yang seakan-akan lepas tangan dengan kondisi saya.

Saya benci semuanya.

Anehnya beberapa hari kemudian, ada sesuatu yang timbul di pikiran saya. Sesuatu yang sangat kuat dan tampaknya itu merupakan pertanda bahwa harus ada yang berubah atau setidaknya, diperbaiki.

Saya bersiap mati untuk yang kedua kalinya…

 

Vladd Voltaire

Bagaimana Cerdas Memilih Pemimpin dalam Pemerintahan ?

Saya rasa semua setuju, ketika beberapa manusia mulai berkolaborasi untuk MENCAPAI SUATU TUJUAN, maka perlu ditunjuk seorang pemimpin. Tugas pemimpin adalah menyatukan isi otak setiap anggota dan memutuskan segala rencana dan tindakan hingga mencapai tujuan. Tidak perlu mengikuti sekolah bisnis untuk mengerti dasar-dasar kepemimpinan seperti demikian. Continue reading “Bagaimana Cerdas Memilih Pemimpin dalam Pemerintahan ?”

The Lone Wolf

Manusia adalah makhluk sosial.

Itu benar.

Kalau manusia memilih untuk hidup menyendiri tanpa membuat komunitas, tentu umat manusia sudah mengalami kepunahan sejak zaman purba dulu. Itu membuat beberapa orang sangat mengagungkan kebersamaan di atas segala-galanya. Orang-orang yang suka menyendiri dianggap aneh dan tidak menghargai kebersamaan; segala macam bentuk pemikiran yang dianggap mencoreng kebersamaan, dilibas habis karena berpotensi memecah belah kelompok, dan sebagainya. Continue reading “The Lone Wolf”

Wahai Kaum Intelektual, Mohon Berbicaralah!

Membaca berita di sosial media adalah kegiatan rutin saya setiap hari. Lupakan koran dan televisi karena berita di sosial media maupun di situs berita seringkali lebih cepat dan lebih up to date ketimbang media-media jadul lainnya.

Namun, yang membuat saya kesal, berita-berita yang disiarkan seringkali menjurus ke kebodohan-bodohan individu atau organisasi. Misalnya berita tentang sekelompok organisasi agama tertentu yang menyuarakan kebencian terhadap komunis, China, atau malah gabungan dari keduanya. Malah beberapa individu terang-terangan mengancam bakalan membunuh orang yang dianggap kafir dan tidak sepaham dengan mereka.

What the fuck? Continue reading “Wahai Kaum Intelektual, Mohon Berbicaralah!”

Mengapa iPhone Tidak Ditemukan Sebelum Yesus Lahir ?

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017 bagi yang merayakan. Hadiah apa yang sudah anda dapatkan dari orang tercinta atau diri sendiri ? Playstation 4 ? iPhone 7 ?

Menyenangkan bukan ? Hidup di era setelah revolusi industri hingga revolusi digital ? Setidaknya isi otak anda tidak monoton itu-itu saja. Hiburan dan pengetahuan juga jadi sangat bervariasi. Kotak televisi serasa usang dibanding konten Youtube, Instagram, maupun BIGO.

Seperti pertanyaan pada judul. Jadi ‘umat manusia’ selama ini ngapain saja ? dari 6000 tahun lamanya peradaban manusia, dibanding dengan 5 hari jangka waktu untuk merakit iPhone  ?

Bayangkan jika manusia macam Tsailun, Aristoteles, Gutenberg, Newton, Faraday, Tesla, Charles Babbage, Alan Turing, Martin Cooper, hingga Steve Jobs lahir dalam satu jalur generasi. Anggap saja umur mereka rata-rata 50 tahun. Dikali ada 40 generasi yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan digital. (50 Tahun x 40 Generasi = 2.000). Tadaaa… 2.000 Tahun.. Atau, sekitar Tahun 2.000 Sebelum Masehi, kita sudah bisa mengabadikan momen dengan Iphone ketika Nabi Musa membelah Laut Merah dengan Tongkatnya. Bisa dibayangkan, peradaban seperti apa saat ini , jika iPhone 77 saja sudah ditemukan saat Aristoteles lahir, misalnya.

Iya saya tahu, otak anda pasti berargumen macam-macam, kebutuhan manusia sebelum menggunakan otaknya untuk memikirkan teknologi itu banyak banget dari kebutuhan pangan, kebutuhan rasa aman dari kerasnya alam, kebutuhan memastikan dapat berkembang biak, kebutuhan pengakuan diterima secara sosial, hingga kebutuhan aktualisasi diri lewat kebudayaan dan melebarkan wilayah kekuasaan.

Adapun, jika ada teknologi, akan dikembangkan sesuai prioritas. Teknologi pangan dahulu, terus bikin bangunan sampe segede piramida mesir, baru setelah itu memikirkan ilmu pengetahuan murni. Namun, hal itu semua akan terjadi jika rasa aman telah didapat. Iyah, teknologi akan diprioritas utamakan untuk : PERANG. Peradaban manusia selalu dihiasi dengan kisah PEPERANGAN, bukan ? Berapa juta, kalau bukan milyar, anak manusia yang dilahirkan ibunya untuk mati di medan perang ?

Awalnya peperangan terjadi antar kelompok manusia atau dengan kelompok hewan buas, selanjutnya untuk mempertahanan otokrasi raja, kerakusan atas komoditas ekonomi, menanamkan kredo agama, hegemoni negara superpower, mempertahankan identitas negara bangsa. Selanjutnya untuk apa lagi ? Pasti anda tidak mau bukan, medan perang di Allepo melebar hingga ke kota anda ? Apakah perlu Monster Kaiju datang ke Bumi dari belahan dimensi lain, baru manusia di muka bumi ini bersatu ?

(Jadi pengen main game Civilization gara-gara menulis paragraf di atas)

Ada banyak hal yang membuat manusia tidak bisa menciptakan Iphone atau Ponsel Android sedini mungkin, selain perang. Banyak hal-hal kontra produktif yang dilakukan, seperti kisah pilu ala romeo dan juliet. Intinya, hingga saat ini, kita, MANUSIA, tidak sedang dalam kondisi efisien membangun peradaban yang maju.

Mungkin Thanos akan ketawa kecut, ketika datang ke Bumi, melihat manusia suka menyabotase kemajuannya sendiri.

(Joule Gallantea)