Wahai Kaum Intelektual, Mohon Berbicaralah!

Membaca berita di sosial media adalah kegiatan rutin saya setiap hari. Lupakan koran dan televisi karena berita di sosial media maupun di situs berita seringkali lebih cepat dan lebih up to date ketimbang media-media jadul lainnya.

Namun, yang membuat saya kesal, berita-berita yang disiarkan seringkali menjurus ke kebodohan-bodohan individu atau organisasi. Misalnya berita tentang sekelompok organisasi agama tertentu yang menyuarakan kebencian terhadap komunis, China, atau malah gabungan dari keduanya. Malah beberapa individu terang-terangan mengancam bakalan membunuh orang yang dianggap kafir dan tidak sepaham dengan mereka.

What the fuck?

Apakah saya kesal dengan manusia-manusia yang gemar mengajak perang terebut? Tentu saja. Namun, saya jauh lebih kesal apabila kaum intelektual malah diam saja dan enggan menanggapi isu-isu miring yang beredar.

Saya percaya, ketika akses internet semakin mudah digunakan, semakin banyak pula individu-individu yang pikirannya terbuka dan terpelajar tanpa harus duduk di bangku kuliah. Jadi, jangan heran kalau sekarang banyak lulusan SMA yang jauh lebih cerdas dan mengerti politik daripada sarjana jurusan politik sekalipun.

Sayangnya, individu-individu yang intelektual tersebut terkadang lebih memilih diam ketika kebodohan merajalela di sekitar mereka.

Saya banyak menjumpai mahasiswa-mahasiswa yang tergolong cerdas dan mampu menggunakan otaknya dengan baik ternyata lebih banyak diam di forum diskusi kampus atau sekedar manggut-manggut mendengar orang lain berbicara. Tidak ada yang berani mengutarakan pendapatnya atau minimal bertanya tentang pendapat lawan bicaranya.

Apa pasal?

Kalau ditilik lebih jauh, budaya berbicara kita memang pada dasarnya kaku dan cenderung monolog.

Coba saja kamu kembali ke masa lalu, dimana kamu masih duduk di bangku sekolah dasar. Apabila guru menerangkan dan bertanya ke murid-muridnya, “Ada yang kurang jelas? Ada yang mau bertanya?

Apa yang terjadi?

Hampir sebagian besar muridnya terdiam dan kepala menunduk ke bawah seakan-akan takut dimarahi. Padahal guru tersebut sudah memasang wajah ramah dan senyum yang dibuat-buat, tetapi tetap tidak ada yang berani bertanya. Kalaupun ada, palingan hanya satu atau dua orang yang berani bertanya dan orang yang bertanya ya itu-itu melulu.

Kenapa mereka takut bertanya? Apakah mereka adalah murid bodoh? Jelas tidak! Saya percaya bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan bodoh, bahkan orang yang autis sekalipun seringkali jauh lebih pintar dari  orang normal pada umumnya.

Mereka memilih diam karena takut salah! Yap, itu dia masalahnya.

Saya tidak tahu apakah yang saya alami juga sama dengan yang orang lain alami, tetapi saya dulu memiliki guru yang selalu memarahi muridnya bila salah mengerjakan soal di papan tulis. Guru tersebut menyuruh seorang anak maju ke depan dan mengerjakan soal di papan tulis dan bila anak itu salah menjawab, maka guru itu akan membentak, “Kamu tidak paham ya?!

Belum sampai di situ, guru tersebut akan menjelaskan ulang soal-soal sambil marah-marah di depan kelas. Mending kalau hanya satu orang guru yang seperti itu, tapi sekolah saya dulu memiliki sepuluh orang guru yang tingkahnya seperti itu. Karena takut dimarahi, maka murid-murid lebih memilih diam daripada menyuarakan pendapat.

Selain itu, acara keagamaan juga membuat kita menjadi individu yang enggan berbicara.

Pehatikan saja, ketika ceramah Jum’at dilaksanakan, umat Islam dilarang bertanya bahkan berbicara dengan ustad yang berkhotbah.  Tidak hanya umat Islam, umat Kristen dan Katolik juga tidak diperkenankan bertanya balik ke pendeta saat misa berlangsung.

Karena hal seperti itu dilakukan secara terus menerus, akibatnya kita menjadi terbiasa diam dan menerima mentah-mentah setiap ucapan yang masuk ke telinga. Saya tidak menganggap khotbah keagamaan itu buruk, tetapi coba bayangkan bila ada orang yang menyuarakan permusuhan dan ternyata kita hanya diam mendengarkan tanpa melawan baik. Apa yang akan terjadi?

Bagaimana kalau kamu memang pada dasarnya kurang suka berbicara panjang lebar tetapi ingin mengutarakan pendapat ke publik?

Sosial media adalah jawabannya. Sosial media adalah langkah paling minimal yang bisa kamu ambil kalau masih takut melawan secara terbuka.

Kalau kamu merasa tidak suka dengan kebodohan yang terjadi sekitar kamu, silakan tulis di Facebook atau Twitter. Pastikan pula kalau kamu memiliki dasar yang kuat dalam menyuarakan perlawanan terhadap kebodohan sehingga kamu tidak asal mengkritik tanpa alasan. Tulis ketidaksetujuan kamu dan jelaskan sebab-sebabnya.

Tidak suka dengan ormas agama tertentu? Tulis itu di sosial media. Gerah dengan oknum yang hobi menyangkut-pautkan sesuatu dengan PKI? Tulis itu di sosial media. Ingin mendukung gerakan yang menghentikan pembodohan publik? Tulis itu di sosial media. Pokoknya tulis, tulis dan tulis. Gunakan sosial media sebagai ajang melempar pendapat dan bukan sekedar ngetwit tentang sesuatu yang tidak jelas.

Kenapa saya sangat menginginkan agar kamu menyuarakan ketidaksetujuan?

Karena saya sudah jenuh dengan kebodohan yang terjadi tanpa ada perlawanan dari pihak lain. Semakin dibiarkan justru semakin menjadi. Jadi, saya sangat ingin kamu untuk ikut menghentikan atau setidaknya meminimalisir kebodohan yang ada.

Dear kaum intelektual, saya mohon berbicaralah!

 

(Vladd Voltaire)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s