The Lone Wolf

Manusia adalah makhluk sosial.

Itu benar.

Kalau manusia memilih untuk hidup menyendiri tanpa membuat komunitas, tentu umat manusia sudah mengalami kepunahan sejak zaman purba dulu. Itu membuat beberapa orang sangat mengagungkan kebersamaan di atas segala-galanya. Orang-orang yang suka menyendiri dianggap aneh dan tidak menghargai kebersamaan; segala macam bentuk pemikiran yang dianggap mencoreng kebersamaan, dilibas habis karena berpotensi memecah belah kelompok, dan sebagainya.

Namun, saya menganggap “kebersamaan” yang terlalu dipuja-puja tersebut seringkali mendatangkan masalah ketimbang menyelesaikan masalah.

Saya terlahir sebagai seorang maniak video games, kutu buku dan sangat jarang bergaul di luar ruangan. Semenjak bergabung dengan beberapa komunitas pada tahun 2012, saya mulai sering menjejakkan kaki ke luar ruangan dan menikmati suasana kumpul-kumpul yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Karena kegemaran saya cenderung mengarah ke sesuatu yang tidak membutuhkan partner, akibatnya saya hanya memiliki segelintir kawan; bertemu dengan mereka pun cukup dua kali dalam seminggu. Selebihnya saya menghabiskan waktu di dalam kamar sembari bermain video games atau sekedar menulis dan menggambar.

Bagi sebagian besar orang, kehidupan saya tentu menyedihkan dan terlihat suram. Awalnya saya menganggap sama seperti mereka, tetapi setelah saya amati dengan cermat, justru kebiasaan menyendiri itu malah menguntungkan saya.

Saya tipikal manusia yang tidak mau repot-repot mencari partner atau kawan yang sepemikiran dengan saya. Kalaupun ada, ya syukur. Namun, kalau tidak ada ya tidak masalah. Ketika orang-orang rajin menggembor-gemborkan bahwa memiliki banyak teman itu baik, saya lebih suka memiliki sedikit teman, tetapi benar-benar yang menunjang segala aktivitas saya.

Terdengar egois? Yup. Manusia mana sih yang tidak egois?

Yang saya pelajari adalah: kebersamaan seringkali menjadi penghambat dalam perkembangan individu.

Misalnya, saya memiliki seorang teman yang SAMA SEKALI tidak ingin mengkonsultasikan skripsinya ke dosen pembimbing kalau tidak berbarengan dengan mahasiswa lain. Ketika saya bertanya alasannya, dia dengan santainya menjawab, “Nanti saja barengan sama yang lain.

Goodluck, karena ancaman dikeluarkan oleh pihak kampus semakin dekat setiap harinya.

Selain itu, budaya kebersamaan justru membuat kita menjadi tergantung dengan orang lain.

Contohnya lagi: kamu berencana berolahraga lari sore dengan seorang kawan pada jam empat sore nanti, tetapi setelah waktunya tiba, tahu-tahu kawan tersebut membatalkan olahraganya karena dia harus menemani pacarnya membeli obat di apotek. Apa yang kamu lakukan?

Saya yakin 70% kamu ikut-ikutan tidak jadi berolahraga daripada bersikap bodo amat dan melanjutkan olahraga apa pun yang terjadi.

Masalahnya adalah kita sering membiarkan aksi kita berhenti karena tidak ada yang mau menemani kita. Kita menjadi individu yang manja dan lembek dalam mengambil keputusan. Akibatnya perkembangan kita hanya jalan di tempat karena perkembangan teman-teman kita juga jalan di tempat. Efek domino yang mengerikan.

Memang tidak semua orang memiliki tekad yang kuat dalam meraih sesuatu, tetapi jumlah orang-orang manja jauh lebih banyak ketimbang dengan yang bertekad kuat.

Saya pribadi adalah pecinta olahraga angkat besi dan calisthenic yang ternyata memiliki banyak efek positif terhadap mental saya yang sering marah di luar kontrol (akan saya tulis lebih lengkap tentang ini kalau ada waktu). Kalau saya memutuskan untuk berangkat ke fitness center pada pukul tujuh sore, maka saya akan datang ke sana apa pun yang terjadi (kecuali hujan sangat deras). Bagaimana kalau tidak ada kendaraan? Maka saya akan berjalan kaki ke sana. Hitung-hitung sekalian pemanasan. Saya percaya selalu ada hasil dibalik sikap disiplin yang dipadu dengan sikap konsisten.

Terkadang ada beberapa teman kampus yang ingin ikut berolahraga dan meminta saya menemani mereka. Tidak masalah. Masalahnya adalah ketika saya berhalangan hadir, mereka juga absen berolahraga. Hei, katanya ingin membentuk badan bagus? Apa hanya sampai di situ saja keinginan kalian? Bagaimana kalau saya mati, apakah kalian berhenti berolahraga selamanya?

Itu sebabnya mengapa saya tidak tertarik mencari partner in crime atau sebangsanya. Kenapa? Karena pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Apalagi kalau orang tersebut tergolong manja dan hanya beraksi kalau saya beraksi lebih dulu. BIG NO!! Saya lebih baik melaju duluan daripada harus mengurusi yang lambat-lambat.

Bagi sebagian orang, memiliki partner in crime atau sebangsanya mungkin berpengaruh besar dengan kesuksesan, tetapi tidak bagi saya. Dengan bertindak sendirian, saya justru lebih fokus pada apa yang saya kerjakan dan itu membuat saya bisa menggapai apa yang saya inginkan dengan lebih mudah. Tentu saya memiliki teman-teman sepergaulan, tetapi apabila saya ditinggalkan oleh mereka, hal itu tidak terlalu berdampak besar pada perkembangan saya.

Daripada sibuk mencari partner in crime, lebih baik waktu yang ada kamu manfaatkan untuk mengembangkan apa yang sedang kamu usahakan.

Itu saja pesan saya.

 

(Vladd Voltaire)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s