Bagaimana Cerdas Memilih Pemimpin dalam Pemerintahan ?

Saya rasa semua setuju, ketika beberapa manusia mulai berkolaborasi untuk MENCAPAI SUATU TUJUAN, maka perlu ditunjuk seorang pemimpin. Tugas pemimpin adalah menyatukan isi otak setiap anggota dan memutuskan segala rencana dan tindakan hingga mencapai tujuan. Tidak perlu mengikuti sekolah bisnis untuk mengerti dasar-dasar kepemimpinan seperti demikian.

Frase di atas yang perlu digaris bawahi adalah MENCAPAI SUATU TUJUAN.

Namun terjadi sesuatu yang menarik, ketika masyarakat majemuk demokratis berbicara tentang Ekpektasi akan Pemimpin. Tidak hanya variabel keahlian dalam memimpin yang dibicarakan, tetapi juga polesan sang pemimpin, rekam jejak kehidupan, latar belakang, hingga keyakinan yang dipeluk. Pemimpin jadi dibebani dengan ekspektasi macam-macam selain efektifitas-dalam-mencapai-tujuan. Kalau bisa ya satu paket, kalau mau ditunjuk jadi pemimpin. Ya harus ganteng, harus gagah, harus alim, beriman, bercitra positif, tegas, dan sebagainya selain tercapainya tujuan. Mungkin masyarakat seperti ini harus mengurangi menonton drama melankolis.

Ketika dataran di sekeliling sungai nil menjadi peradaban kompleks, raja yang digelari firaun, sukses mengkolaborasikan seluruh elemen masyarakat, agar kerajaan egypt gemah ripah loh jinawi. Masyarakat mengelu-elukan rajanya yang brilian. Tujuan bernegara, dimana masyarakat sejahtera, tercapai. Semua suka, semua kenyang, semua makmur. Ketika rajanya mengaku titisan dewa matahari, masyarakatnya baik-baik saja, tidak mempermasalahkan kewarasan rajanya. Yang mempermasalahkan justru para budak-budaknya. Mereka dengan sengaja delusi bersama akan Kekuatan Superstisi, berharap kekuatan tersebut mengutus juru selamat yang bisa membawa mereka bebas dari perbudakan buyut-cicit. Saya tidak tahu, siapa yang lebih waras kalau begini.

Kembali ke zaman modern, coba pelajari, apa yang dilakukan calon-calon pemimpin untuk meraih elektabilitas ? Pemilihan ketua kelas saja, contohnya. Pasti dipilih yang paling digandrungi ciwik2 atau yang paling charming. Adakah diantara kita yang mengevaluasi bagaimana pemimpin mencapai tujuannya ?

Dalam ilmu manajemen strategis, suatu visi, misi dan tujuan harus dijabarkan dengan sasaran-sasaran yang terukur. Setiap sasaran dijabarkan dalam suatu rencana tindakan berupa kebijakan, program dan kegiatan. Kinerja atas pencapaian sasaran diukur efisiensi, ekonomis dan efektifitasnya. Ribet yah ?

Contohnya seperti ini : Masyarakat ingin kotanya maju, ini namanya visi. Supaya maju, kotanya harus tertara secara rapi, ini dinamakan misi. Kota yang rapi adalah kota yang terbangun infrastrukturnya, sebut saja ini salah satu tujuannya. Infrastruktur yang rapi tercermin dari jalan-jalan yang berkondisi baik, ini contoh sasarannya. Bagaimana mengukur sasaran sudah tercapai atau tidak ? Gunakan saja indikator sasaran “Persentase jalan berkondisi baik”, Jumlah kilometer jalan berkondisi baik dan gak bolong-bolong harus 100%. Ini dikatakan efektif, salah satu sasaran dalam mencapai tujuan tercapai. Dikatakan efisien jika dalam mencapai 100% tadi menggunakan sumber daya yang seminim mungkin. Dikatakan ekonomis, jika duit yang dibutuhkan dalam membangun jalan tadi, ditekan semurah mungkin. Semua perencanaan ini harusnya sudah ditulis dalam dokumen Rencana Pembangunan. Anda tinggal googling saja.

Masih ribet ? Padahal ini adalah contoh yang paling sederhana tentang mengukur kebecusan pemimpin anda.

Ini adalah POLA PIKIR.  Jika anda males mikir yang beginian, wajar saja anda memilih pemimpin yang wajahnya paling ganteng. Wajar saja pemimpin cuman mikirin pencitraan sebagai makanan bagi konstituennya. Wajar saja kalau anda sering dibohongin para pemimpin anda. Karena kita, sebagai pemilih, terlalu males menggunakan otaknya.

Ini adalah tools atau alat untuk evaluasi. Jika anda meraung-raung protes menilai ketidak-becusan pemimpin anda, alatnya apa ? ukurannya apa ? tidak becusnya di bagian yang mana ? supaya becus harus bagaimana ?

Saya paling maaaless banget melihat demo absurd yang protes tentang pemimpin negara yang gagal. Bahasanya ngambang. Terlalu normatif. Gak ada ukurannya. Coba saja tanya sama mahasiswa yang demo, supaya pemimpinnya becus harus bagaimana ? Pasti isinya pemimpin disuruh mengutamakan kepentingan mereka. Sungguh demo yang masuk angin. Gak Visioner.

Begitu juga dengan peran wakil rakyat, anda bisa mengukur peran mereka, dengan cara melihat bagaimana mereka memperjuangkan ukuran-ukuran angka anak putus sekolah, angka pastisipasi murni, angka harapan hidup, angka pengangguran, tingkat aksesibilitas air bersih, dan lainnya. Bukan memperjuangkan PROYEKNYA.

Sekali lagi, ini contoh yang sangat-sangat keterlaluan sederhana. Saya hanya sedikit menggelitik pola pikir anda. Ilmunya bisa anda pahami dalam keilmuan manajemen strategis.

Ini cara cerdas masyarakat menilai kompetensi pemimpinnya. Ini pola pikir yang sehat, supaya anda terus melakukan evaluasi terhadap pemimpin. Kesewenang-wenangan dapat terjadi, ketika rakyat yang dipimpin tidak memiliki alat dalam mengevaluasi pemimpinnya.

Di alam demokrasi, kualitas pemimpin anda ditentukan oleh kualitas isi otak masyarakatnya. Sayangnya harus seperti itu.

(Joule Gallantea)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s