Untuk Apa Memperbaiki Kekurangan?

Saya ini paling tidak berani mengendarai sepeda motor.

Bagi saya pribadi, kendaraan beroda dua itu ibarat pisau bermata dua; di satu sisi sangat menguntungkan karena mudah digunakan dan gesit di jalan raya, tetapi di sisi lain jumlah kematian akibat kecelakaan sepeda motor jauh lebih tinggi ketimbang kendaraan lain.

Namun, bukan berarti saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Kalau cuma seliweran di jalan kecil saja sih berani, tetapi kalau dibawa ke jalan raya… aduh.

Intinya, saya ini pengecut.

Terkadang saya mikir: Bagaimana nanti kalau saya sudah bekerja kantoran seperti orang-orang? Bukankah orang-orang kantoran sering bolak-balik di jalan raya? Satu-satunya kendaraan yang murah meriah, sedikit mewah dan memiliki mobilitas tinggi ya sepeda motor. Sepeda pancal pun tergolong murah meriah, tapi siapa sih yang mau siang-siang panas terik menggowes pedal? Saya yakin kamu pasti lebih mikir gengsi daripada efisiensi.

Selain itu bagaimana nanti kalau saya sudah punya pacar dan mesti mengajak pacar saya jalan-jalan ke kafe dan bioskop? Tidak mungkin kan kami berdua hanya mojok di kamar kost sambil main catur? Tentu kami harus keluar dan menikmati saat-saat berdua.

Halah.

Sampai sekarang saya tidak punya Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya merasa berbeda dengan orang lain yang sudah memiliki SIM, bahkan anak SMA saja sudah punya SIM. Apakah saya ini ditakdirkan jadi satu-satunya manusia di Indonesia yang tidak punya SIM meski usia sudah menginjak dua puluhan?

Semakin dipikir, semakin membingungkan. Jadi saya harus apa dong?

Anehnya kalau dipikir lebih lanjut, saya sama sekali tidak masalah dengan bisa atau tidaknya membawa sepeda motor ke jalan raya.

Keuntungannya ada banyak:

  1. Saya tidak perlu pusing delapan keliling dengan harga BBM yang melonjak. Walau itu berdampak dengan harga sembako yang juga ikut naik, tapi saya tidak perlu ditambah pusing ketika berada di pom bensin.
  2. Kulit saya tidak sehitam orang-orang yang seliweran di jalan raya. Mau bukti?
  3. Saya tidak perlu sarapan asap knalpot di pagi hari.
  4. Yang paling penting: saya bisa menabung untuk beli ini dan itu. Tidak seperti pengguna sepeda motor lainnya yang harus menyisihkan uang gajinya untuk sepeda motor kesayangannya. Uang tabungan tersebut saya gunakan untuk membeli buku dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan sepeda motor. Apakah saya bahagia? Pastinya.

Bukan berarti hal itu tidak ada kekurangannya. Salah satu yang menyakitkan adalah ketika saya harus ke tempat tertentu sedangkan hari sudah malam dan kendaraan umum sudah tidak beroperasi lagi. Saya merasa terhina karena sebagai laki-laki, saya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa selain bengong.

Tapi itu sebentar doang. Setelahnya biasa-biasa saja.

Justru karena saya tidak berani mengendarai sepeda motor di jalan raya, akhirnya itu mendesak saya untuk bekerja secara freelance, entah itu sebagai penulis atau editor lepas.

Tidak masalah. Saya cinta mati dengan pekerjaan sebagai penulis lepas.

Kenapa tidak? Penghasilan saya dari menulis untuk ini dan itu dalam sebulan setara dengan gaji karyawan kantoran pada umumnya. Ketika yang lainnya bertangis-tangis ria disembur atasan, saya bisa mengerjakan pekerjaan sambil baring-baring di kasur. Jumlah penghasilan sama, tapi nasib berbeda.

Bukan berarti menjadi karyawan kantor itu buruk, malah itu bagus karena kamu tidak perlu pusing dengan jumlah saldo tabungan di akhir bulan. Kalau dalam sebulan saya tidak bekerja, maka penghasilan saya langsung ambruk menjadi Rp 0,- sedangkan seorang karyawan tetap dapat gaji UMR meski dia hanya setengah-setengah dalam bekerja (saya bisa mendengar kamu berbisik: “Ah enggak jugaaaa”).

Kekurangan saya adalah tidak berani membawa sepeda motor ke jalan raya dan itu mendesak saya untuk lebih mengasah kelebihan saya sebagai penulis lepas. Saya tidak fokus ke kekurangan tersebut, tetapi saya lebih fokus kepada kelebihan saya. Ibaratnya ksatria pincang, untuk apa saya memperhatikan kaki saya yang cacat? Lebih baik saya menajamkan pedang dan memperkuat perisai, bukan? Logika yang sederhana.

Jikalau kamu memiliki kekurangan (dan kamu pasti punya), ada baiknya kamu bertanya ke diri kamu terlebih dahulu: apa kelebihan yang kamu miliki? Kalau sudah dapat jawabannya, maka jadikan kelebihan itu sebagai pedang dan perisai kamu. Kekurangan atau kelemahan memang sebaiknya tidak perlu diperbaiki, melainkan harus ditutupi dengan kelebihan atau keahlian yang kamu miliki. Satu-satunya kekurangan yang harus kamu perbaiki hanyalah kebodohan, selain itu ya tidak ada yang harus diperbaiki.

 

Vladd Voltaire

 

 

 

 

 

 

How Lucky Are You?

Sebelumnya saldo tabungan saya tidak pernah mencapai angka satu jutaan ke atas.

Sekarang setidaknya saya bisa mengangguk-anggukan kepala dengan puas; puas karena saldo tabungan saya yang tidak terlalu menyedihkan seperti tahun-tahun lalu dan puas karena terbebas dari rasa khawatir bakalan mati kelaparan.

Sungguh. Dulu saya paling takut dengan yang namanya mati kelaparan. Uang bulanan saya dulunya hanya sekitar Rp 300.000,- dan itu HARUS cukup selama sebulan. Teori matematika mana pun tidak bakal bisa membuat selisih antara uang segitu dengan biaya hidup sehari-hari. Continue reading “How Lucky Are You?”

Memikirkan Batasan Kedurhakaan

A lot of parents will do anything for their kids except let them by themselves – Banksy

Lebih dari seperempat abad saya hidup, begitu banyak penyesalan yang biasanya dilatarbelakangi karena menuruti apa kata orang tua daripada membuat keputusan sendiri. Bukannya tidak sayang dengan orang tua, tetapi rasanya kita perlu mengevaluasi langkah-langkah yang pernah kita ambil.

Sekarang saya telah menjadi orang tua. Tentunya saya perlu mengambil hikmah dari kesalahan-kesalahan orang tua dahulu yang tidak perlu lagi diterapkan pada anak saya kedepannya. Continue reading “Memikirkan Batasan Kedurhakaan”

Kamu Itu Gak Penting!

Lha, pada kenyataannya kamu memang gak penting-penting banget.

Ketika kamu lahir, apakah tatanan politik di Indonesia berubah menjadi lebih baik? Ketika kamu mengenakan seragam putih dan celana pendek merah, apakah harga sembako turun? Ketika kamu baru pertama kali berpacaran, apakah Palestina dan Israel berdamai? Dan ketika kamu lulus kuliah, apakah pertambangan liar di Kalimantan dihentikan?

Barangkali dunia memang berubah menjadi lebih baik ketika kamu lahir, tetapi itu bukan karena kelahiran kamu, melainkan oleh sebab lain. Jadi, apa yang membuat diri kamu merasa penting?

Kamu, saya, dan orang-orang kelas menengah lainnya adalah sama. Sama-sama tidak berdampak signifikan terhadap perubahan di sekitar. Jikalau kamu mati pun, itu tidak berpengaruh apa-apa pada dunia, kecuali kamu adalah presiden Amerika Serikat atau termasuk golongan orang-orang yang beneran penting lainnya, maka kamu silakan menyombongkan diri sebagai orang penting.

But hey, saya di sini tidak sedang merendahkan diri kamu, tetapi coba kamu pikir lagi, apa sih yang membuat kamu penting di mata orang lain?

Mungkin kamu akan menjawab, “Pacar saya bilang kalau saya orang penting di hatinya!

Ah, kamu yakin cuma kamu doang yang dianggap penting? Kamu yakin dia nggak ngomong begitu ke orang lain?

Atau kamu menjawab, “Orangtua saya menganggap kalau saya orang penting bagi mereka!

Ya iyalah, mana ada orangtua yang mau ngomong “Kamu mah gak penting, nak” ke anak mereka sendiri.

Kenyataannya adalah: Kamu hanya penting bagi diri kamu sendiri dan kedua orangtua kamu. Selain itu, tidak ada lagi yang menganggap kamu penting.

Merasa diri ini lebih penting ketimbang orang lain hanyalah masalah ego di dalam diri. Ketika kamu naik jabatan, dipuji orang lain, atau mendapatkan pacar yang baru, pikiran kamu melambung tinggi dan menganggap bahwa kamu mendapatkan itu semua karena hasil kerja keras yang dilakukan selama ini akhirnya mendapatkan hasil. Seketika itu juga kamu merasa paling dibutuhkan sekaligus diinginkan oleh orang lain. Kamu merasa mereka membutuhkan kehadiran kamu. Tanpa kamu, mereka bukanlah siapa-siapa.

Goblok.

Itulah penyebab mengapa banyak orang yang tambah stress ketika terkena pengurangan di perusahaannya. Itu juga yang membuat banyak orang depresi ketika mereka diputusin oleh pacarnya.

Karena mereka menganggap diri mereka dibutuhkan oleh orang lain.

Dan ketika orang lain memutuskan hubungan dengan mereka, orang-orang yang menganggap diri mereka penting ini pun mengalami reality crash, suatu kondisi dimana realita ternyata jauh lebih buruk ketimbang khayalan.

Mereka sadar kalau ternyata diri mereka itu gak penting-penting amat. Mereka sadar kalau orang lain toh bisa tetap hidup tanpa mereka. Mereka sadar kalau mereka hanyalah manusia biasa sama seperti yang lain.

Sebagaimana manusia pada umumnya, saya tentu pernah mengalami hal seperti itu. Merasa diri ini penting dan suara saya rasanya wajib dipatuhi orang lain, tetapi setelah ditampar berkali-kali oleh kenyataan, saya buru-buru sadar bahwa saya ini gak penting-penting banget bagi orang lain.

Saya hanyalah satu dari sejuta wajah di dunia.

Selama saya bukan menjadi tokoh penting di dunia, saya hanyalah manusia biasa yang keberadaannya hanya segelintir orang saja yang tahu.

Begitu pula dengan kamu.

Bila kamu menganggap diri kamu adalah orang penting, padahal pada kenyataannya kamu hanyalah manusia biasa yang tinggal di rumah kontrakan dan hidup serba kekurangan pula, maka sebaiknya otak kamu tolong dicebok dulu sebelum kamu diludahi oleh kenyataan. Lebih baik saya yang tampar kamu duluan sebelum kamu nanti ditampar oleh kehidupan yang sebenarnya.

 

Vladd Voltaire

Kutukan Kesibukan

Bangun jam delapan pagi. Berangkat kerja. Menghadapi macetnya ibu kota. Bercapek-capek ria di dalam ruangan bernama kantor selama berjam-jam. Pulang kerja. Ketemu kemacetan lagi. Sampai rumah langsung tidur. Besoknya, bangun lagi jam delapan. Ulangi lagi dan seterusnya.

Iya, saya paham betapa sibuknya diri ini ketika usia sudah beranjak dewasa. Dituntut mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar ini itu dan tagihan ini itu. Jangankan menyempatkan waktu untuk mengumpul bersama kawan-kawan yang lain, menyempatkan diri untuk sekedar membaca saja sudah nyari tidak mungkin. Waktu dua puluh empat jam rasanya tidak cukup untuk keseluruhan hidup saya. Saya butuh waktu tambahan dua puluh lima jam atau mungkin tiga puluh jam sehari supaya saya bisa beristirahat dan punya waktu untuk bersenang-senang. Continue reading “Kutukan Kesibukan”

Low Self-Esteem Sampah

Yap. Saya jenuh dengan orang-orang di Facebook atau Twitter yang membagikan postingan-postingan yang berbau low self-esteem. Kebanyakan postingan tersebut berhubungan dengan masalah kepribadian yang minderan, miskin, tidak mampu berbuat apa-apa, atau masalah romansa dan… skripsi.

Saya cuma mau ngasih tahu kalau diri kamu tidaklah serendah postingan tersebut. Manusia dan jutaan makhluk hidup lainnya secara alamiah akan terus meng-upgrade dirinya sendiri apabila mereka terlahir di lingkungan yang tidak mendukung atau ketika mereka terkena masalah. Masalah itu ada bukan untuk dipasrahkan; justru masalah itu seharusnya dipelajari untuk meningkatkan kemampuan kamu dalam menghadapi masalah tersebut. Continue reading “Low Self-Esteem Sampah”

Deadly Silence (Part.2)

(Kamu bisa membaca artikel sebelumnya di sini: Deadly Silence (Part.1))

Fuck. Fuck. Fuck.

Tiga kata itu adalah pembuka yang tepat bagi hari-hari saya yang baru. Setelah ibu tiada, entah mengapa saya merasa jauh lebih powerfull dari sebelumnya; seakan-akan saya kini bisa mengakses bagian lain dari otak saya yang sebelumnya jarang digunakan.

Saya sudah pernah merasakan berbagai macam kehilangan; ditinggal pergi kekasih sudah saya alami berkali-kali, ditinggal pergi oleh kawan-kawan yang satu per satu menghilang atau meninggal dunia juga sudah sering saya rasakan, tetapi kehilangan ibu yang saya cintai benar-benar merupakan tamparan maha keras.

Kematian ibu saya tersebut menjadi semacam alarm wake up yang membangunkan saya kalau selama ini jalan yang saya ambil itu sama sekali tidak berguna.

Bagaimana tidak?

Dulu saya berpikir kalau dengan bekerja keras maka itu bisa membantu keluarga saya. Pikiran saya didogma oleh kaum kapitalis abal-abal yang terus bersuara “Kerja! Kerja! Kerja!” sehingga saya terpacu untuk terus bekerja sehingga mengesampingkan keluarga.

Namun, sekarang saya paham bahwa yang benar adalah “Keluarga! Kerja! Keluarga!” mau bagaimana pun keluarga adalah nomor satu. Hendak kemana tubuh ini pulang dan beristirahat kalau bukan di rumah bersama keluarga? Saya tidak mungkin beristirahat di tempat kerja yang mana justru malah membuat saya ingin terus bekerja.

Itu adalah hal pertama yang saya pelajari.

Yang kedua adalah saya dulu lebih banyak diam ketimbang melawan.

Saya adalah tipikal yang malas berdebat apalagi mengkritik. Bodohnya lagi, ketika semua rekan-rekan kerja tidak bisa menggantikan pekerjaan saya, bukannya melawan, saya malah mengalah! Padahal pada posisi itu, saya seharusnya bisa menganggap masa bodoh dengan pekerjaan dan langsung segera pulang ke Balikpapan. Namun, kenyataannya apa?

Saya cuma diam.

Saya seperti sampah, bukan?

Dan itu membuat saya gila.

Ya, benar-benar gila.

Saya benci diri saya yang hanya diam mematung. Saya benci diri saya yang suka mengalah. Saya benci diri saya yang membiarkan orang lain merebut kebebasan saya. Saya benci diri saya yang lemah.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkhianati diri saya sendiri.

Benar sekali. Saya berkhianat…

…dengan cara membunuh kepribadian saya di masa lalu.

Dan itu membutuhkan waktu yang berbulan-bulan lamanya. Membunuh seseorang yang bercokol di kepala itu sulit karena dia tidak memiliki tubuh fisik yang bisa dibunuh. Satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan memaksa diri ini bertindak kebalikan dari apa yang dia suarakan. Kalau dia bersuara “Jangan melawan!” maka itu tandanya harus melawan. Kalau dia bersuara “Mengalah saja!” berarti jangan mengalah. Terdengar mudah? Memang. Namun konflik batin itu terus bergelung-gelung di kepala selama berhari-hari sampai saya sempat mengalami insomnia parah.

Kejadian itu terus berlangsung hingga akhirnya…

Tidak ada lagi Vladd Voltaire yang baik hati dan mengalah. Tepatnya dia menghilang pada tanggal berapa, saya tidak ingat. Barangkali dia mati? Saya doakan dia bisa beristirahat dengan damai di dalam limbo yang tak berujung.

Hasilnya, saya menjadi lebih blak-blakan dari sebelumnya.

Tidak suka sama orang? Ngomong saja langsung di depan mukanya. Orang-orang tidak memberikan kesempatan berbicara? Geprak saja meja. Keputusan orang lain sama sekali tidak menguntungkan? Keluar saja. Ada yang marah-marah karena tidak suka dengan saya? Suruh saja datangi saya. Tidak apa-apa kalau nantinya berujung pada perkelahian atau mungkin… kematian.

Anehnya, saya sama sekali tidak merasa ketakutan melakukan itu. Benar-benar fearless.

Benar kata Tyler Durden, “It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything!

Apakah saya otomatis menjadi orang yang mengesalkan? Jelas.

Saya akui kalau diri ini semakin sering membuat orang lain jengkel dan musuh terus bertambah setiap waktu, tetapi hei! Bukankah itu jauh lebih baik daripada memiliki banyak teman yang di setiap sudut bibirnya hanya ada kepalsuan?

Setiap manusia menciptakan self-defense di pikirannya masing-masing ketika dirinya pernah tertimpa masalah berat. Begitu pula dengan pikiran saya; dia mengeluarkan semua apa yang dikandungnya selama ini: diri saya yang pemarah dan tidak segan-segan menampar balik bila ditampar duluan.

Saya percaya bahwa setiap manusia (bahkan kamu) akan mengalami turning point-nya sendiri. Itu bisa berarti kamu harus menghadapi sebuah bencana besar yang bisa muncul kapan saja. Turnng point itu sendiri bisa berbagai macam bentuknya. Mungkin kamu suatu saat bisa dtinggal oleh kekasih kamu sehingga kamu memutuskan untuk berubah. Mungkin nanti kamu akan mengalami kebangkrutan sampai-sampai tidak ada yang bisa jadikan pijakan selain kedua kaki kamu sendiri. Atau… bisa jadi kamu akan mengalami apa yang telah saya alami: overworking, dianggap remeh oleh rekan kerja, tidak sempat menghabiskan waktu bersama keluarga, dan ditinggal mati oleh orangtua. Tidak ada yang tahu.

Kalau di pikiran kamu sudah muncul sensasi ingin memberontak, itulah turning point kamu. Bila itu terjadi, JANGAN DIAM SAJA! Suarakan keberanian kamu! Kalau kamu tidak setuju dengan pendapat atau tindakan orang lain, lawan balik! Persetan dengan hidup damai karena hidup damai hanya ada di buku menggambar anak TK! Kedamaian hanyalah topeng palsu untuk menutupi kenyataan yang bobrok.

Namun, kalau kamu ingin diam saja ketika diinjak orang lain, itu terserah kamu sih. Barangkali kamu memang berbakat menjadi keset lantai.

 

Vladd Voltaire

 

Tan Malaka, Idealisme, dan Ibu Saya

Pernahkah anda mendengar nama Tan Malaka?
Bila anda belum pernah mendengar nama Tan Malaka, anda tak perlu gelisah, minder atau merasa kurang update karena memang nama ini tak pernah disebut dalam buku pelajaran sekolah di Indonesia.
Saya pun hanya sebatas pernah mendengar nama Tan Malaka. Tidak pernah saya mendiskusikan pemikiran beliau. Saya tidak mengikuti kisah hidup, sejarah, dan perjuangan beliau. Satu-satunya karya beliau yang pernah saya konsumsi hanya madilog. Itupun hanya saya baca loncat-loncat dan tidak selesai.
Nah, ada satu kutipan Tan Malaka yang cukup terkenal yang setidaknya sering saya dengar dan baca di internet. Kutipan itu kira-kira berbunyi seperti ini:
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh anak muda.
Sampai saat ini, saya tidak tau kutipan itu berasal dari buku apa, dan dikatakan dalam konteks apa. Saya tau saya bisa mengoogle, tapi sifat menunda saya cukup besar sehingga saya belum mendapatkan informasi ini.
* * *
Pada suatu sore, saya sedang mengobrol santai dengan ibu saya. Sambil membaca artikel-artikel di internet, saya menemukan fakta bahwa di beberapa negara maju ada kondisi dimana generasi muda “menolak untuk menjadi dewasa”. Anak-anak muda yang tidak merencanakan karir mereka dengan baik. Anak-anak muda malas untuk berkeluarga dan membesarkan anak.dikarenakan biaya hidup yang makin tinggi. Bahwa banyak anak muda malas untuk memikirkan masa depan mereka, mereka pergi menghabiskan waktu untuk berpergian dan bersenang-bersenang. Mereka benci komitmen yang memberatkan.
Saya membicarakan fakta ini dengan ibu saya. Saya memberitahu beliau tren yang sedang terjadi di belahan dunia lain.
Tiba-tiba ibu saya memberikan tanggapan dengan menyeletuk “Anak muda kok pesimis. Gak punya idealisme”
Setelah kata-kata sindiran itu, saya tiba-tiba melayang kembali ke kata-kata Tan Malaka.
Ibu saya, tanpa bersikap menjadi sangat serius, menambahkan penjelasan akan statementnya. Anak muda itu harusnya percaya pada kemampuannya sendiri. Percaya bahwa bahwa dia akan menaklukkan hidup ini seberapapun susahnya.
Anak muda tidak menyerah dengan keadaan karena dia percaya dia sudah mengenggam masa depan. Anak muda tidak bernegosiasi dengan keadaan sulit sekarang. Kita tidak boleh membuat diri kita nyaman dengan ketidak-nyamanan.
Itulah idealisme anak muda. Si bodoh yang percaya dia bisa merubah masa depan. Si naif yang selalu mencoba untuk membuat hidup ini jauh lebih baik.
Kabar baiknya: Anda mungkin saja bisa.
Tentu saya membuat interpretasi sendiri terhadap kata-kata Tan Malaka. Tentu saya hanya menyambungkan benang merah antara opini Tan Malaka dan ibu saya. Saya berharap anda mengerti poin saya. Dan mari kita sama-sama mengubah dunia ini.Sudah kehilangan idealisme,
Vilranendra