Deadly Silence (Part.2)

(Kamu bisa membaca artikel sebelumnya di sini: Deadly Silence (Part.1))

Fuck. Fuck. Fuck.

Tiga kata itu adalah pembuka yang tepat bagi hari-hari saya yang baru. Setelah ibu tiada, entah mengapa saya merasa jauh lebih powerfull dari sebelumnya; seakan-akan saya kini bisa mengakses bagian lain dari otak saya yang sebelumnya jarang digunakan.

Saya sudah pernah merasakan berbagai macam kehilangan; ditinggal pergi kekasih sudah saya alami berkali-kali, ditinggal pergi oleh kawan-kawan yang satu per satu menghilang atau meninggal dunia juga sudah sering saya rasakan, tetapi kehilangan ibu yang saya cintai benar-benar merupakan tamparan maha keras.

Kematian ibu saya tersebut menjadi semacam alarm wake up yang membangunkan saya kalau selama ini jalan yang saya ambil itu sama sekali tidak berguna.

Bagaimana tidak?

Dulu saya berpikir kalau dengan bekerja keras maka itu bisa membantu keluarga saya. Pikiran saya didogma oleh kaum kapitalis abal-abal yang terus bersuara “Kerja! Kerja! Kerja!” sehingga saya terpacu untuk terus bekerja sehingga mengesampingkan keluarga.

Namun, sekarang saya paham bahwa yang benar adalah “Keluarga! Kerja! Keluarga!” mau bagaimana pun keluarga adalah nomor satu. Hendak kemana tubuh ini pulang dan beristirahat kalau bukan di rumah bersama keluarga? Saya tidak mungkin beristirahat di tempat kerja yang mana justru malah membuat saya ingin terus bekerja.

Itu adalah hal pertama yang saya pelajari.

Yang kedua adalah saya dulu lebih banyak diam ketimbang melawan.

Saya adalah tipikal yang malas berdebat apalagi mengkritik. Bodohnya lagi, ketika semua rekan-rekan kerja tidak bisa menggantikan pekerjaan saya, bukannya melawan, saya malah mengalah! Padahal pada posisi itu, saya seharusnya bisa menganggap masa bodoh dengan pekerjaan dan langsung segera pulang ke Balikpapan. Namun, kenyataannya apa?

Saya cuma diam.

Saya seperti sampah, bukan?

Dan itu membuat saya gila.

Ya, benar-benar gila.

Saya benci diri saya yang hanya diam mematung. Saya benci diri saya yang suka mengalah. Saya benci diri saya yang membiarkan orang lain merebut kebebasan saya. Saya benci diri saya yang lemah.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkhianati diri saya sendiri.

Benar sekali. Saya berkhianat…

…dengan cara membunuh kepribadian saya di masa lalu.

Dan itu membutuhkan waktu yang berbulan-bulan lamanya. Membunuh seseorang yang bercokol di kepala itu sulit karena dia tidak memiliki tubuh fisik yang bisa dibunuh. Satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan memaksa diri ini bertindak kebalikan dari apa yang dia suarakan. Kalau dia bersuara “Jangan melawan!” maka itu tandanya harus melawan. Kalau dia bersuara “Mengalah saja!” berarti jangan mengalah. Terdengar mudah? Memang. Namun konflik batin itu terus bergelung-gelung di kepala selama berhari-hari sampai saya sempat mengalami insomnia parah.

Kejadian itu terus berlangsung hingga akhirnya…

Tidak ada lagi Vladd Voltaire yang baik hati dan mengalah. Tepatnya dia menghilang pada tanggal berapa, saya tidak ingat. Barangkali dia mati? Saya doakan dia bisa beristirahat dengan damai di dalam limbo yang tak berujung.

Hasilnya, saya menjadi lebih blak-blakan dari sebelumnya.

Tidak suka sama orang? Ngomong saja langsung di depan mukanya. Orang-orang tidak memberikan kesempatan berbicara? Geprak saja meja. Keputusan orang lain sama sekali tidak menguntungkan? Keluar saja. Ada yang marah-marah karena tidak suka dengan saya? Suruh saja datangi saya. Tidak apa-apa kalau nantinya berujung pada perkelahian atau mungkin… kematian.

Anehnya, saya sama sekali tidak merasa ketakutan melakukan itu. Benar-benar fearless.

Benar kata Tyler Durden, “It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything!

Apakah saya otomatis menjadi orang yang mengesalkan? Jelas.

Saya akui kalau diri ini semakin sering membuat orang lain jengkel dan musuh terus bertambah setiap waktu, tetapi hei! Bukankah itu jauh lebih baik daripada memiliki banyak teman yang di setiap sudut bibirnya hanya ada kepalsuan?

Setiap manusia menciptakan self-defense di pikirannya masing-masing ketika dirinya pernah tertimpa masalah berat. Begitu pula dengan pikiran saya; dia mengeluarkan semua apa yang dikandungnya selama ini: diri saya yang pemarah dan tidak segan-segan menampar balik bila ditampar duluan.

Saya percaya bahwa setiap manusia (bahkan kamu) akan mengalami turning point-nya sendiri. Itu bisa berarti kamu harus menghadapi sebuah bencana besar yang bisa muncul kapan saja. Turnng point itu sendiri bisa berbagai macam bentuknya. Mungkin kamu suatu saat bisa dtinggal oleh kekasih kamu sehingga kamu memutuskan untuk berubah. Mungkin nanti kamu akan mengalami kebangkrutan sampai-sampai tidak ada yang bisa jadikan pijakan selain kedua kaki kamu sendiri. Atau… bisa jadi kamu akan mengalami apa yang telah saya alami: overworking, dianggap remeh oleh rekan kerja, tidak sempat menghabiskan waktu bersama keluarga, dan ditinggal mati oleh orangtua. Tidak ada yang tahu.

Kalau di pikiran kamu sudah muncul sensasi ingin memberontak, itulah turning point kamu. Bila itu terjadi, JANGAN DIAM SAJA! Suarakan keberanian kamu! Kalau kamu tidak setuju dengan pendapat atau tindakan orang lain, lawan balik! Persetan dengan hidup damai karena hidup damai hanya ada di buku menggambar anak TK! Kedamaian hanyalah topeng palsu untuk menutupi kenyataan yang bobrok.

Namun, kalau kamu ingin diam saja ketika diinjak orang lain, itu terserah kamu sih. Barangkali kamu memang berbakat menjadi keset lantai.

 

Vladd Voltaire

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s