Tan Malaka, Idealisme, dan Ibu Saya

Pernahkah anda mendengar nama Tan Malaka?
Bila anda belum pernah mendengar nama Tan Malaka, anda tak perlu gelisah, minder atau merasa kurang update karena memang nama ini tak pernah disebut dalam buku pelajaran sekolah di Indonesia.
Saya pun hanya sebatas pernah mendengar nama Tan Malaka. Tidak pernah saya mendiskusikan pemikiran beliau. Saya tidak mengikuti kisah hidup, sejarah, dan perjuangan beliau. Satu-satunya karya beliau yang pernah saya konsumsi hanya madilog. Itupun hanya saya baca loncat-loncat dan tidak selesai.
Nah, ada satu kutipan Tan Malaka yang cukup terkenal yang setidaknya sering saya dengar dan baca di internet. Kutipan itu kira-kira berbunyi seperti ini:
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh anak muda.
Sampai saat ini, saya tidak tau kutipan itu berasal dari buku apa, dan dikatakan dalam konteks apa. Saya tau saya bisa mengoogle, tapi sifat menunda saya cukup besar sehingga saya belum mendapatkan informasi ini.
* * *
Pada suatu sore, saya sedang mengobrol santai dengan ibu saya. Sambil membaca artikel-artikel di internet, saya menemukan fakta bahwa di beberapa negara maju ada kondisi dimana generasi muda “menolak untuk menjadi dewasa”. Anak-anak muda yang tidak merencanakan karir mereka dengan baik. Anak-anak muda malas untuk berkeluarga dan membesarkan anak.dikarenakan biaya hidup yang makin tinggi. Bahwa banyak anak muda malas untuk memikirkan masa depan mereka, mereka pergi menghabiskan waktu untuk berpergian dan bersenang-bersenang. Mereka benci komitmen yang memberatkan.
Saya membicarakan fakta ini dengan ibu saya. Saya memberitahu beliau tren yang sedang terjadi di belahan dunia lain.
Tiba-tiba ibu saya memberikan tanggapan dengan menyeletuk “Anak muda kok pesimis. Gak punya idealisme”
Setelah kata-kata sindiran itu, saya tiba-tiba melayang kembali ke kata-kata Tan Malaka.
Ibu saya, tanpa bersikap menjadi sangat serius, menambahkan penjelasan akan statementnya. Anak muda itu harusnya percaya pada kemampuannya sendiri. Percaya bahwa bahwa dia akan menaklukkan hidup ini seberapapun susahnya.
Anak muda tidak menyerah dengan keadaan karena dia percaya dia sudah mengenggam masa depan. Anak muda tidak bernegosiasi dengan keadaan sulit sekarang. Kita tidak boleh membuat diri kita nyaman dengan ketidak-nyamanan.
Itulah idealisme anak muda. Si bodoh yang percaya dia bisa merubah masa depan. Si naif yang selalu mencoba untuk membuat hidup ini jauh lebih baik.
Kabar baiknya: Anda mungkin saja bisa.
Tentu saya membuat interpretasi sendiri terhadap kata-kata Tan Malaka. Tentu saya hanya menyambungkan benang merah antara opini Tan Malaka dan ibu saya. Saya berharap anda mengerti poin saya. Dan mari kita sama-sama mengubah dunia ini.Sudah kehilangan idealisme,
Vilranendra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s