Kutukan Kesibukan

Bangun jam delapan pagi. Berangkat kerja. Menghadapi macetnya ibu kota. Bercapek-capek ria di dalam ruangan bernama kantor selama berjam-jam. Pulang kerja. Ketemu kemacetan lagi. Sampai rumah langsung tidur. Besoknya, bangun lagi jam delapan. Ulangi lagi dan seterusnya.

Iya, saya paham betapa sibuknya diri ini ketika usia sudah beranjak dewasa. Dituntut mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar ini itu dan tagihan ini itu. Jangankan menyempatkan waktu untuk mengumpul bersama kawan-kawan yang lain, menyempatkan diri untuk sekedar membaca saja sudah nyari tidak mungkin. Waktu dua puluh empat jam rasanya tidak cukup untuk keseluruhan hidup saya. Saya butuh waktu tambahan dua puluh lima jam atau mungkin tiga puluh jam sehari supaya saya bisa beristirahat dan punya waktu untuk bersenang-senang.

Namun, jelas saja itu tidak mungkin. Dua puluh empat jam ya tetap dua puluh empat jam. Tidak ada yang bisa menambah waktu tersebut selama Bumi masih berputar di rotasinya. Barangkali ada yang bisa menegoisasikan ke Tuhan untuk mengubah waktu di Bumi menjadi dua puluh empat jam lebih?

Banyak yang bilang kalau kehidupan saya sangat santai karena pekerjaan saya tidak terikat tata tertib kantor sehingga waktu yang saya miliki sangat fleksibel. Pekerjaan saya hanya tergantung pada laptop butut, koneksi internet dan sedikit insipirasi di otak. Tinggal buka laptop, ketik-ketik sebentar, lalu kirim ke alamat email klien dan bimsalabim! Pekerjaan beres!

Itu memang benar.

Kelebihan menjadi seorang freelance adalah saya memiliki waktu yang sangat fleksibel sehingga bisa menyempatkan diri membaca, bermain video game, berolahraga, dan sekedar nongkrong bersama teman-teman. Namun, bukan berarti saya 100% bebas dari tuntutan.

Seringkali saya kebablasan tidak menulis sehingga pekerjaan menjadi semakin menumpuk tiap harinya. Tidak jarang saya harus bergadang sambil ditemani berkaleng-kaleng kopi agar mata saya tetap jernih di depan laptop. Kelebihan bekerja  freelance merupakan kekurangannya juga: kalau tidak pintar mengatur waktu dan pekerjaan ternyata belum selesai, maka bersiap-siaplah kaget ketika klien menghubungi untuk meminta hasil pekerjaan.

Namun, jangan salah. Saya pernah bekerja selama hampir 19 jam sehari dalam seminggu dan itu berlangsung beberapa bulan. Jadi, sesibuk-sibuknya kamu sekarang, saya pernah jauh lebih sibuk daripada kamu.

Ketika saya menjadi seorang content writer  pun saya harus mengatur jadwal agar pekerjaan saya tidak lagi terbengkalai. Dengan kata lain saya masih punya kesibukan, tetapi saya juga memiliki waktu untuk memanjakan diri sendiri. Siapa sih yang mau hidupnya cuma diisi dengan kerja, kerja dan kerja selama 24 jam penuh?

Sebanyak-banyaknya pekerjaan yang saya hadapi, saya harus menyempatkan waktu dua jam dalam sehari untuk diri saya sendiri. Itu sudah harga mati. Dua jam tersebut saya isi dengan kegiatan favourit seperti membaca buku atau berolahraga.

Kenapa saya ngotot harus memiliki waktu untuk diri sendiri? Jawabannya mudah saja: saya bukan kerbau yang kerjaannya hanya membajak sawah dan tidur. Kalau kamu bersikeras terus bekerja tanpa menyisihkan waktu untuk diri sendiri, ya silakan saja. Mungkin nanti di kepala kamu akan muncul dua tanduk dan suara kamu berubah menjadi “Mooo… moooo…

Kalau kamu merasa diri kamu terlalu sibuk, percayalah itu cuma perasaan kamu saja. Kamu bebas memilih untuk tetap sibuk atau menyempatkan waktu untuk diri sendiri. Kalau kamu nanti merasa otak kamu tumpul karena tidak pernah lagi membaca buku, perut membunci karena tidak pernah berolahraga, atau merasa teman-teman semakin menjauh karena kamu tidak lagi berkumpul bersama mereka, maka salahkan diri kamu sendiri siapa suruh sok sibuk ketika yang lainnya memilih untuk berbahagia.

 

Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s