Memikirkan Batasan Kedurhakaan

A lot of parents will do anything for their kids except let them by themselves – Banksy

Lebih dari seperempat abad saya hidup, begitu banyak penyesalan yang biasanya dilatarbelakangi karena menuruti apa kata orang tua daripada membuat keputusan sendiri. Bukannya tidak sayang dengan orang tua, tetapi rasanya kita perlu mengevaluasi langkah-langkah yang pernah kita ambil.

Sekarang saya telah menjadi orang tua. Tentunya saya perlu mengambil hikmah dari kesalahan-kesalahan orang tua dahulu yang tidak perlu lagi diterapkan pada anak saya kedepannya.

Hubungan Ortu – Anak di keluarga indonesia memiliki tipikal yang sama. Orang tua mengurus dan membesarkan anak. Sebagai imbalannya anak harus menghormati, tunduk, dan patuh pada titah orang tua. Ada semacam utang budi yang perlu diungkit-ungkit karena orang tua, khususnya ibu, telah mengandung kita. Jika tidak, siap-siap si anak mendengar dongeng Malin Kundang.

Ditambah pola pikir jika anak adalah investasi masa depan, itulah mengapa Ortu sangat rempong turut campur dari memilih jodoh hingga cita-cita anda mau jadi apa. Sangat sulit ortu memberi restu anda menikahi pasangan berbeda agama. Yang berbeda jenis kelaminnya saja, agamanya jangan ikut beda.

Ketika saya telah menjadi orang tua, saya memikirkan ulang pola pikir totaliter sewenang-wenang ini. Apakah anak saya memiliki kehendak untuk dilahirkan ? Bukankah dia ada karena kelakuan bapaknya ? Apa saja batasan-batasan anak saya untuk memutuskan hidupnya sendiri ?

Nurture vs Nature, bukan ?  Adakalanya kita perlu mengajari bagaimana cara makan, bagaimana menggunakan toilet, bagaimana meraih pendidikan. Namun, anak, sebagai manusia, mereka juga memiliki konsep diri, kehendak bebas dan hak asasi. Kita layak mempertimbangkan, apakah menentukan cita-citanya, pasangannya, selera makannya, ataupun keyakinannya adalah suatu kesewenang-wenangan ?

Pada dasarnya setiap anak, terlahir sebagai manusia bebas, hingga orang tuanya memberi identitas, kewarganegaraan, agama, bahasa, pola pikir, gaya hidup, hingga mungkin restu memilih pasangan  yang dia belanya sampai mati.

Sungguh sedih jika anak tumbuh berkembang tidak memiliki “konsep diri” – semua orang adalah individu bebas, meskipun anda berhutang budi banyak kepada orang tua, anak anda adalah dirinya sendiri, mereka unik dan cuman mereka satu-satunya manusia dimuka bumi yang seperti itu.

Konsep durhaka perlu direkonstruksi ulang. Jangan sampai karena ego tidak mau didurhakai anak, justru kita malah melakukan Abuse of Child atau penyalahgunaan terhadap anak.

Tapi…. Orang tua kan maksudnya baik, dia gak mungkin mengarahkan anaknya ke jurang kehancuran. Apalagi orang tua hidup lebih dulu di dunia ini, jadi udah makan asam pahit manis asinnya air laut kehidupan ? Mengapa kita tidak menurut sama orang tua saja ?

Ini bukan masalah melawan orang tua, ini hak asasi. Karena manusia rawan menjadi submisif ketika tidak memiliki konsep diri. Tidak ada salahnya kok jadi anak papi atau anak mami, tapi mau sampai kapan ? ketika anda dewasa, anda harus mandiri, anda harus berkarya, anda harus berguna bagi masyarakat. Lagipula benar dan salah tidak ditentukan dari seberapa tua manusia itu pernah hidup, itu namanya kesesatan berlogika. Kalau mau cari kebenaran itu dari diskusi dialektis, uji empiris, atau uji analitis lainnya.

Jadi, ketika ada perbedaan pandangan dengan orang tua, bukannya langsung frontal melawan, bukan begitu. Bukan juga diam tak bergeming, takut kualat. Tapi ajak diskusi sambil minum teh, serta siapkan argumen kamu untuk diuji.

Karena peran orang tua hanyalah sebagai fasilitator, bukan diktator bagi anaknya.

(Joule Gallantea)

 

Advertisements

One thought on “Memikirkan Batasan Kedurhakaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s