How Lucky Are You?

Sebelumnya saldo tabungan saya tidak pernah mencapai angka satu jutaan ke atas.

Sekarang setidaknya saya bisa mengangguk-anggukan kepala dengan puas; puas karena saldo tabungan saya yang tidak terlalu menyedihkan seperti tahun-tahun lalu dan puas karena terbebas dari rasa khawatir bakalan mati kelaparan.

Sungguh. Dulu saya paling takut dengan yang namanya mati kelaparan. Uang bulanan saya dulunya hanya sekitar Rp 300.000,- dan itu HARUS cukup selama sebulan. Teori matematika mana pun tidak bakal bisa membuat selisih antara uang segitu dengan biaya hidup sehari-hari.

Bayangkan saja: di Samarinda, makan nasi campur saja sudah kena biaya Rp 10.000 atau 12.000 seporsi. Belum lagi saya harus naik angkot ke kampus dengan tarif Rp 4.000 dalam sekali jalan. Parahnya lagi, saya harus ganti dua kali naik angkot agar sampai di kampus yang jaraknya cukup jauh dengan rumah kontrakan yang saya tinggali.

Hitung-hitungannya:

Makan 2x sehari dalam 30 hari: Rp 12.000 x 2 = Rp 24.000 x 30 = Rp 720.000

Naik angkot 2x dalam 5 hari seminggu (kuliah saya lima hari dalam seminggu):

Rp 4.000 x 2 = Rp 8.000 x 5 = Rp 40.000 x 4 (jumlah minggu dalam sebulan) = Rp 160.000

Total yang saya butuhkan untuk makan 2x sehari selama 30 hari dan naik angkot adalah:

… Rp 880.000!

Sementara uang bulanan saya hanya Rp 300.000, bagaimana saya bisa hidup dan makan normal seperti manusia pada umumnya?!

Belum lagi dengan pengeluaran tak terduga seperti biaya obat-obatan bila saya jatuh sakit atau beli isi ulang air gallon yang selalu kering bersamaan dengan keringnya isi dompet.

Jujur saja, saya sendiri heran kok bisa saya masih hidup sehat wal afiat sampai sekarang. Logikanya, saya seharusnya sudah mati kelaparan bertahun-tahun lalu karena tidak punya uang buat beli makan. Kalau sakit pun saya harus menahannya agar tidak buru-buru membeli obat. Setiap hari saya harus siap dijemput malaikat maut bila lambung sudah tidak sanggup lagi memeras lemak di setiap sudut tubuh saya.

Hei, hei! Tapi saya masih hidup sampai sekarang, bukan? Saya menganggapnya sebuah keajaiban. Seorang teman pernah berkata bahwa di Indonesia, orang miskin masih bisa hidup sehat meski hanya makan umbi-umbi liar atau makan dari pemberian orang lain. Yah, walau saya sendiri tidak pernah sampai berburu umbi-umbi liar di hutan, tetapi saya dikelilingi oleh teman-teman yang selalu siap membantu ketika saya mengalami kesulitan.

Teman-teman saya bukanlah orang kaya atau anaknya orang kaya; mereka sama seperti saya. Makan tidak teratur, tubuh kurus kerempeng sampai sulit dibedakan dengan sapu ijuk sekolahan, rambut gondrong, dan hal-hal lain yang jauh dari kata kemapanan. Sekilas mereka tidak mampu membantu siapa-siapa, lha membantu diri mereka saja sulit apalagi membantu orang lain.

Namun, di situ keseruannya.

Kalau ada yang pernah membuat jokes tentang mahasiswa yang hobi datang ke pernikahan orang lain demi mendapat sepiring nasi, maka kami dulu beneran pernah melakukannya. Modalnya sederhana: cukup mengenakan kemeja dan celana panjang, langsung pergi ke TKP, saliman ke pengantin pria dan wanita, lalu bantai semua makanan yang disediakan! Saran saya adalah: Ambil nasinya cukup sedikit saja, tapi ambil lauknya yang banyak. Itu biar kamu tidak cepat kenyang, dan bukankah kenyang karena daging itu lebih lama ketimbang kenyang karena nasi?

Selain itu saya dulu juga rutin mendatangi pengajian seminggu sekali bersama kawan-kawan yang lain hanya karena pengajian itu memberikan Rp 20.000 ke setiap peserta pengajian. Perut kenyang, dapat uang, hati pun senang. Itu jauh lebih membahagiakan daripada foto selfie liburan di luar negeri.

Saya sadari bahwa otak ternyata tidak butuh lama beradaptasi saat sedang menyangkut masalah perut. Sedari kecil saya adalah anak yang tergolong gengsi bila harus menumpang makan di rumah orang lain. Namun, ketika keadaan memaksa saya untuk mencari makan, otak saya langsung melepas semua ego sehingga saya mau tidak mau harus tebal muka muncul di pernikahan orang yang tidak saya kenal dan mereka pun tidak mengenal saya.

Hal itu membuat saya bertanya-tanya ke diri sendiri: “How lucky are you?

Kehidupan yang sulit tidak serta merta membuat saya menjadi bangkai, justru saya menjadi lebih kuat karena mampu survive di belantara ibukota Kalimantan Timur. Betapa beruntungnya saya.

Nah, saya juga mau tanyakan itu ke kamu.

How lucky are you?

Saya yakin kamu jauh lebih beruntung dari saya. Barangkali kamu terlahir di keluarga yang cukup mapan sehingga kamu tidak perlu pusing memikirkan uang bulanan untuk makan. Mungkin kamu sekarang memiliki pasangan yang mau mengerti kesusahan kamu. Atau mungkin kamu dikelilingi teman-teman yang selalu ada ketika kamu memerlukan bantuan.

Mau bagaimanapun, kamu tetap saja beruntung.

Apa pun yang kamu miliki sekarang, kamu beruntung telah memilikinya. Sesusah-susahnya kehidupan yang kamu jalani, kamu beruntung masih bisa menikmati kesusahan itu. Bahkan orang mati jauh lebih beruntung daripada orang hidup, karena orang mati tidak perlu merasakan penderitaan orang hidup.

Jad, sebelum kamu membuka mulut untuk mengeluh. Ada baiknya kamu perhatikan sekeliling kamu. Apa yang kamu punya? Bagaimana keadaan diri kamu? Apa yang bisa dilakukan saat ini untuk mengubah kehidupan kamu? Apa kamu memilih diam saja atau berjuang dengan menggunakan semua fasilitas yang kamu punya?

Semua terserah kamu.

 

Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s