Konservatisme : Menyangkal Perubahan

Apa yang terjadi ketika generasi papah mamah kita melihat kemajuan teknologi informasi saat ini ? Tidak bisa dibayangkan, dulu informasi nyaris dimonopoli oleh televisi dan koran. Sekarang, laju berita hoax di akun sosial media kita nyaris secepat cahaya.

Anak kecil jangan diberi ponsel, kalau pesan makanan jangan via ojek online, kalau makan itu berdoa dulu bukan makanannya difoto, jangan ngomongin urusan orang di media sosial, dan lain sebagainya.

Rupanya beberapa orang tidak siap atau bahkan tidak sadar akan adanya revolusi digital secara global. Mereka menilai dengan menggunakan standar hidup mereka yang sudah usang. Memang hidup di gua kenyamanan membuat otak menjadi malas berpikir dan berkreasi. Budaya, sebagai identitas masyarakat, telah banyak berubah. Perlahan namun pasti, budaya sudah terbentuk secara global. Sudah terlalu dangkal jika berpikir jati diri negara ini karena keanekaragaman budaya primordialnya. Jangan takut budaya barat merusak budaya timur. Siapa yang mengajari jika kedua budaya tersebut perlu dibeda-bedakan ?

Masyarakat dunia secara kolektif akan membentuk kesadaran budaya bersama yang toleran. Masyarakat tanpa batas kenegaraan atau produk politik lainnya. Mereka mulai menyatu, awalnya dari asimilasi budaya melalui produk-produk digital. Jangan salah, jika suatu saat nanti, kesadaran untuk berbagi sumber daya akan muncul. Tidak ada lagi batasan antara negara maju dengan terbelakang. Logika sederhana, batasan kaya dan miskin itu ada karena memang sengaja dibatasi. Jika tidak ada negara, tidak ada pula istilah negara maju, negara berkembang, dan negara miskin. Adanya batasan, justru memancing keserakahan yang akan memperuncing jurang tersebut. Sumpah demi planet mungil ini, mengapa kita tidak bersatu saja, berbagi makanan dan kasih sayang. Sebelum General Zodd dari planet krypton menyerang bumi.

Mengapa takut berpikir perspektif ? saya bukan menyarankan bertindak makar. Tetapi saya menyarankan agar pola pikir kolot dan berdebu perlu kita analisa kembali.

Tidak perlu parno adanya revolusi digital. Tidak perlu menghujat atas produk-produk media sosial. Sebelum revolusi industri, baju manusia tidak sebanyak sekarang. Kain harus ditenun terlebih dahulu berhari-hari kemudian dijahit secara manual. Sekarang, apakah anda perlu menghujat revolusi industri di tahun 1700-an ? tidak perlu bukan ? kecuali anda ingin membuat baju-baju anda secara manual. Begitu juga dengan revolusi digital, perlahan-lahan hidup akan terbiasa menerima kejutan budaya atau culture shock sebagai efek sampingnya.

Melestarikan budaya yang tradisional itu tidak mengapa. Tidak ada yang salah. Namun, pola pikir resisten terhadap kemajuan teknologi dan informasi yang perlu kita sikapi.

Saya tidak sabar menunggu masa-masa dimana  kerjaan kantoran bisa dikerjakan sambil santai di rumah . Dan tentunya kita berharap agar revolusi digital ini jadi katalisator revolusi sosial budaya di masyarakat yang tidak menumpahkan darah lagi seperti revolusi-revolusi sebelumnya.

(Joule Gallantea)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s