Back To The Wild

Secara alamiah, manusia adalah makhluk liar sama seperti makhluk lain.

Eits … sebelum kamu mau memprotes “Kita ini manusia woy! Bukan binatang!” tolong jahit dulu mulut kamu karena banyak memprotes tidak akan membuat kamu lebih kaya.

Ribuan tahun lalu, nenek moyang manusia hidup di alam liar bersama dengan makhluk-makhluk lain. Mereka tinggal di dalam goa atau membangun tempat tinggal dari ranting dan dedaunan, makan dari hasil berburu atau bertani, dan bersosialisasi layaknya makhluk hidup yang sesungguhnya, yaitu dengan menggunakan mulut untuk berbicara dan telinga untuk mendengar.

Sayangnya, tradisi alam liar tersebut sudah jauh ditinggalkan oleh para keturunan manusia di zaman sekarang; manusia kini lebih memilih duduk selama lebih dari sembilan jam sehari ketimbang harus bergerak mencari makan. Tubuh rasanya malas sekali bergerak. Kalaupun terpaksa harus bergerak, palingan bergerak saat hendak meraih gorengan atau mencari charger ponsel.

Jadi, jangan heran kalau sekarang kita banyak menjumpai manusia setengah balon yang berkeliaran di jalan, terutama di jam makan siang. Kalau kamu tidak menjumpai manusia seperti itu, berarti kamu tidak sedang berada di Indonesia. Silakan laporkan diri kamu ke kepolisian setempat dan mereka akan membawa kamu ke divisi khusus yang menangani orang hilang.

Intinya, secara alamiah, tubuh manusia tidak didesain untuk duduk selama berjam-jam. Mau tahu kenapa nenek moyang purba kita tidak pernah ada yang mati karena obesitas? Karena mereka selalu berolahraga, meskipun itu dilakukan tanpa mereka sadari. Nenek moyang kita tentu tidak duduk leha-leha ketika dikejar singa kelaparan dan mereka mahir memanjat pohon untuk mengambil buah-buahan yang letaknya sangat tinggi di ujung pohon. Kondisi alam yang buas telah mengharuskan mereka untuk berolahraga setiap hari demi kelangsungan hidup mereka.

Namun, ketika makanan semakin mudah didapat, manusia semakin melupakan berolahraga. Mengapa? Karena ya itu tadi, keadaan di zaman sekarang tidak mengharuskan kita untuk berolahraga. Manusia tidak perlu lagi mengintai hewan buruannya selama berjam-jam hanya untuk makan siang, mereka tinggal tancap gas sepeda motor dan … ngggggeeeeeeeennng! Sampai deh ke warteg anak kost yang murah meriah dengan porsi nasi sebakul.

Tanpa disadari, kebiasaan itu berlangsung selama bertahun-tahun sehingga menumpuk lemak di dalam tubuh. Makan banyak, tetapi badan tidak mau gerak; tinggal menunggu waktu saja sampai badan benar-benar tidak mau bergerak alias mati.

Saya tidak perlu menjabarkan alasan mengapa pengidap obesitas di Indonesia semakin tinggi setiap tahunnya karena itu sudah sering dibahas di jurnal-jurnal kesehatan atau di acara-acara kesehatan lainnya. Apa? kamu tidak tahu kalau penderita obesitas di Indonesia semakin meningkat? Makanya jangan keseringan streaming acara-acara YouTube tidak jelas. Bukalah mata kamu lebar-lebar dengan informasi kesehatan karena itu pasti berguna bagi kamu.

Sama seperti kamu dan jutaan orang lainnya, saya dulu juga menganggap remeh olahraga. Saya pikir olahraga itu hanya kerjaan orang tua di sore hari (sering lihat orang tua jalan-jalan sore dengan tidak memakai alas kaki bukan?) dan cukuplah para atlet atau binaragawan yang berolahraga karena itu sudah menjadi pekerjaan mereka.

Namun, saya salah.

Dengan tinggi tubuh hampir 180 cm dan berat badan hanya 54 kg, ditambah lagi postur tubuh yang sering membungkuk membuat saya lebih mirip Igor, pembantu Dokter Frankenstein, ketimbang menjadi sosok pria gagah seperti Superman.

Pria mana sih yang tidak ingin terlihat gagah?

Akhirnya, satu setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk mengubah pola hidup saya yang malas-malasan dan tidak bertenaga. Waktu itu keuangan saya masih sulit dan tidak semakmur sekarang, jadi saya berolahraga dengan gerakan yang paling saya kuasai: push ups.

Ya benar. Siapa sih yang tidak tahu push ups? Gerakan itu paling saya kuasai karena saya sering dihukum guru ketika masih SMA dulu. Selain itu, push ups sama sekali tidak membutuhkan peralatan apa pun. Selama ada tempat berpijak, kamu tinggal tengkurap dan letakkan kedua telapak tangan kamu di lantai, lalu dorong tubuh kamu ke atas. Itu adalah 1 repetisi push ups.

Lalu ketika saya asyik browsing tentang push ups, saya baru tahu kalau gerakan tersebut tergolong ke dalam gerakan calisthenic, dimana kita berolahraga dengan menggunakan berat badan sendiri. Meski hanya menggunakan bobot tubuh sendiri, jangan menganggap remeh gerakan calisthenic karena tetap saja dapat menyebabkan cedera bila dilakukan dengan gerakan yang salah.

Dari situ saya kemudian banyak belajar gerakan calisthenic lain seperti pull ups, dips, squat dan lain sebagainya. Di antara gerakan lain, saya akui kalau pull ups dan dips adalah gerakan yang cukup sulit untuk dikuasai. Kedua gerakan tersebut membutuhkan alat tertentu seperti pull ups bar atau bangku plastik untuk melakukan dips.

Awalnya saya sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat susah melakukan pull ups. Padahal dengan berat badan hanya 54 kg, seharusnya saya bisa mengangkat tubuh saya sendiri dengan mudah. Namun, kenyataannya tidak demikian; saya harus rehat seminggu penuh karena mengalami cedera di bagian bahu ketika ngotot berlatih pull ups.

1488278580676

Manusia bisa karena biasa. Setelah beberapa bulan berlatih, saya akhirnya bisa melakukan pull ups dengan enteng sampai akhirnya saya mengalami plateu, suatu kondisi dimana tubuh saya berhenti berkembang karena tidak ada penambahan beban selama proses latihan.

Mau tidak mau saya harus meningkatkan latihan dengan angkat beban di gym dan itu TIDAK GRATIS. Saya harus bayar bulanan dan berlatih setidaknya enam hari dalam seminggu. Cukup gila kan? Ya saya memang gila kok, siapa bilang saya waras.

Bagi saya, olahraga adalah sebaik-baiknya investasi bagi diri sendiri. Kamu boleh menginvestasikan uang kamu untuk membeli pakaian yang bagus dan mahal, tetapi rasa bangga memiliki badan yang enak dilihat tanpa pakaian adalah salah satu bentuk kebahagiaan tertinggi. Hasil kerja keras kamu selama berbulan-bulan dibayarkan dengan bentuk tubuh yang proposional dan tidak berat di depan (baca: buncit). Tidak hanya itu, ketika tubuh kamu masuk ke dalam kategori ideal, lawan jenis kamu pun menjadi lebih atraktif dari sebelumnya. Kalau tidak percaya ya silakan saja coba sendiri.

Meski tubuh saya tergolong susah gemuk, saya tetap harus menjaga pola makan. Benar sekali. Bukan hanya orang gemuk yang harus menjaga pola makan, tetapi orang kurus pun juga harus menjaga pola makan. Namun, saya (nyaris) tidak mungkin menjaga pola makan ala olahragawan yang harus makan telur berbutir-butir dan daging berkilo-kilo. Mahal woy! Saya bukan koruptor dan uang saya hanya cukup untuk makan di warteg. Jadi, saya makan setiap makanan yang bisa saya makan.

Untuk diet, saya menggunakan diet fasting atau puasa. Ya, beberapa mengenalnya dengan OCD (Obssessive Corbuzier Diet) dan saya berpuasa selama 24 jam atau dengan jendela makan 8 jam. Bagi saya pribadi, apa pun jenis dietnya, kalau itu bekerja bagi tubuh kamu maka gunakanlah! Saya memilih OCD karena itu adalah diet yang paling bisa saya terapkan dan—it works!

Dalam mengangkat beban, saya langsung mengangkat beban paling berat yang bisa saya angkat dengan repetisi sekitar 6 sampai 8. Namun, itu dengan catatan kalau saya sudah bisa melakukan gerakan dengan benar agar tidak terjadi cedera parah. Sebelum mengangkat beban, saya harus pemanasan terlebih dahulu dengan melakukan beberapa kali pull ups atau dips.

Misalnya:

Hari ini saya ingin berlatih shoulder dan biceps, maka saya akan pemanasan dengan melakukan pull ups beberapa kali sebelum melakukan gerakan inti seperti hammer curl. Kemudian saya akan mengambil dumbbell paling berat yang mampu saya angkat dan melakukan hammer curl hingga 6 repetisi. Saya juga beristirahat sekitar 30 detik di setiap set.

Jujur saja, ketika berolahraga calisthenic atau angkat beban seperti itu, saya seakan-akan merasakan napak tilas dari nenek moyang kita ribuan tahun lalu. Mereka harus menahan lapar berjam-jam lamanya dan hanya makan di malam hari, itu pun kalau mereka berhasil menangkap hewan buruan. Selain itu, dalam keadaan lapar pun mereka masih kuat berlari, bergelantungan di pohon, memanjat tebing yang curam dan berkelahi dengan hewan buas.

Kalian tahu mengapa acara-acara petualangan di alam liar selalu menarik perhatian penonton? Karena genetika purba kita tergelitik untuk mencicipi apa yang nenek moyang kita lakukan di masa lalu: kelaparan seharian dan berpetualang dengan menggunakan otot tubuh sendiri tanpa dibantu oleh kendaraan moderen sama sekali.

Di kehidupan perkotaan yang penuh dengan fasilitas yang memudahkan (sekaligus memanjakan) seperti sekarang ini, tidak ada salahnya mencicipi “keliaran” nenek moyang kita melalui olahraga. Namun, lagi-lagi itu semua kembali ke diri kamu:

Mau tetap duduk di kantor sambil menepuk-nepuk perut yang membuncit atau mengucap “Fuck you!” ke diri sendiri dan langsung melakukan 20x push ups tanpa jeda.

 

Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s