Apakah Semangat Phoenix Itu Ada di dalam dirimu??

Phoenix.

Tentu kamu pernah mendengar nama itu dari film atau buku, dan… hei! Saya tidak sedang membahas salah satu tokoh mutan di film X-Men!

Phoenix yang saya maksud di sini adalah salah satu makhluk mitologi yang berasal dari  Mesir Kuno. Phoenix merupakan burung legenda yang mirip seekor elang, tetapi memiliki warna merah menyala seperti api yang terbang di angkasa.

Menurut sejarah, Phoenix berasal dari Matahari dan digambarkan sebagai burung yang mati dan kemudian dilahirkan kembali dari api. Apabila sudah menjelang ajalnya, seekor Phoenix akan membangun sarang dari ranting kayu manis yang mana kemudian akan terbakar bersamaan dengan burung tersebut. Namun, dari abu-abu sisa pembakaran, seekor burung Phoenix yang lebih muda akan muncul kembali untuk meneruskan kehidupannya.

Mati, terlahir kembali, kemudian mati lagi, lalu hidup kembali. Begitu terus berulang-ulang. Seakan-akan tidak mengenal akhir. Terus melanjutkan hidup meski tidak terhitung lagi sudah berapa kematian yang telah dia hadapi.

Nah, coba renungkan kembali kehidupan kamu sekarang ini.

Sudah berapa kali kamu mengalami kejatuhan?

Sekali? Dua kali? Tiga kali? Ratusan kali? Ribuan kali?

Lalu coba tanya ke diri kamu sendiri, sudah berapa kali kamu bangkit kembali?

Seringkali kita terjatuh dan membiarkan diri kita tetap terpuruk di tanah tanpa ada niat untuk bangkit kembali. Saya tahu kalau berbaring di tanah jauh lebih nyaman daripada harus bersusah payah mencoba berdiri kembali, tetapi kamu tentu tahu kalau berbaring saja tidak akan mengubah apa-apa.

Seekor Phoenix selalu bertambah kuat setiap kali dirinya terlahir kembali dari abu-abu kematian. Bulu-bulunya akan semakin berkilau keemasan, kecepatan terbangnya meningkat, dan ukuran tubuhnya menjadi jauh lebih besar ketika dia beranjak dewasa. Dia bisa saja memilih untuk tetap mati dan bersikap bodo amat dengan kerasnya hidup, tetapi dia lebih memilih untuk terahir kembali karena dia tahu bahwa kematian hanyalah satu-satunya cara untuk bertambah kuat. Semakin sering dirinya mati, maka semangat hidupnya semakin berkobar. Baginya, kematian adalah anugerah yang seharusnya disyukuri dan bukannya untuk ditakuti.

Anggaplah diri kamu adalah seekor Phoenix dan “kematian” adalah masalah yang sedang kamu hadapi. Apakah kamu memilih untuk tetap “mati” bersama masalah-masalah tersebut atau kamu memilih untuk menatap langsung masalah-masalah itu dan menjadikannya sebagai acuan untuk menjadikan diri kamu jauh lebih kuat dari sebelumnya? Jawabannya ya terserah kamu, tetapi patut diingat bahwa seorang pengecut lebih memilih tidur dan melupakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya daripada menyelesaikannya..

Bagaimana sekarang? Apakah semangat Phoenix itu masih berkobar di dalam diri kamu atau justru padam tersiram air kemalasan?

 

Aaron Kavana Lee

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s