Bahagia di (Platform) Mana Saja

aaa

Di era sosial media seperti abad ke-21 ini, sungguh mudah bagi kita untuk mempubikasi kehidupan sehari-hari, pemikiran kita tentang kehidupan, ataupun liburan dan makan-makan bintang lima nan porsi kecil kita.

Tentu saja ada postingan berarti ada view. Ada view berarti ada likes yang membuat adiktif seperti narkoba dan komentar teman-teman sepermainan kita.

Akan ada yang berkomentar memuji, lucu, hinaan penuh canda dan akan ada komentar yang tidak ditulis di sosiyel media :].

Kali ini saya tertarik untuk membahas jenis yang terakhir.

Nah, kira-kira pernahkah anda dan teman anda membicarakan postingan teman yang lain yang kemudian dibumbui dengan sebuah penilaian yang sungguh sensional.

“Ah, dia mah pencitraan doang di twitter”

“Dia tuh sok romantic di Instagram aja, aslinya mah kelahi mulu pacarannya”

“Kekayaan orang tua aja pamer-pamer di socmed, huh!”

Suatu hari saya sedang berjalan-jalan ke rumah teman saya yang berada di komplek rumah sakit jiwa. Saya berolahraga ringan di kompek itu dan mengobrol dengan seorang yang jauh usianya 2x lipat daripada usia saya. Kelak, saya tahu belakangan ia adalah seorang dokter di RSJ tersebut.

Dasar emang selalu ingin tahu, saya menanyakan sebuah pertanyaan yang saya yakin sudah sering ditanyakan kepada bapak ini.

“Apa yang menyebabkan kegilaan? Kenapa seseorang bisa menjadi gila?” Tanya saya.

Sang bapak menjawab saya dengan sabar sambil mengudap sepiring siomay bersama saya.

“Tak ada yang tahu pasti kenapa seseorang menjadi gila. Tapi banyak orang yang menjadi gila karena mendapatkan perasaan yang tidak ia dapatkan di dunia nyata.”

Bapak itu menceritakan sebuah kisah klasik kepada saya.

Beliau mempunyai seorang pasien. Seorang perempuan muda berumur 30-an yang seluruh kehidupannya merupakan tragedi. Harapannya akan kehidupan cinta, seks yang indah, dan prestise sosial sirna bersama perlakuan suaminya yang tidak menghargai perempuan itu sama sekali.

Suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tidak memiliki anak yang ia dambakan apalagi kedudukan sosial.

Dan setiap malam perempuan itu mengkhayal bahwa dia telah menceraikan suaminya kemudian menikah lagi dan setiap malam dia akan bercerita tentang anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Keluarganya mengirim ia ke RSJ.

Hidup menghancurkan semua mimpi-mimpinya dengan kejam; namun dalam fantasinya (baca:kegilaannya), ia adalah seorang perempuan yang bersinar bagai tuan putri.

Lantas bagaimana menyembuhkan penyakit kegilaan, tanya saya lagi. Siomay sudah habis dan saya masih tertarik dengan cerita dokter ini.

Dia menjelaskan beberapa cara yang popular dan pada akhirnya dia menambahkan sebuah pemikiran yang terngiang-ngiang di kepala saya.

“Kalau saya hanya perlu mengulurkan tangan saya untuk menolong perempuan itu, saya tidak akan melakukannya. Dia lebih bahagia dalam kegilaannya”

—-

Sekarang saya pulang dengan pertanyaan di kepala. Haruskah kita mengatur kebahagiaan orang lain disosmed? Perlukah kita menyindir makanan yang diposting orang lain di Instagram?

Sejak saat itu saya tidak lagi mengkritik seseorang yang saya tahu hanya mencitrakan image bahagia di sosmed.

Saya tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain.

Silahkan pamer kebahagiaan anda. Silahkan pamer makanan bintang lima anda. Posting foto jalan-jalan anda. Tampilkan senyum yang antara kamu dan pacar kalian.

Nikmati setiap likes yang datang. Resapi setiap komentar pujian yang masuk, abaikan yang hanya mengolok-olok. Tidak usah pedulikan komentar negatif orang lain.

Selamat bahagia di (platform) mana saja!

 

Vilranendra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s