Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia.

Itu yang membedakannya dengan pemalas.

Seorang pemalas tahu masalah yang dihadapinya bisa diselesaikan dengan beberapa solusi yang sederhana. Namun tololnya, mereka masih saja malas untuk mengubah keadaan dengan alasan yang cenderung absurd atau tidak masuk akal.

Contohnya seperti ini:

A adalah seorang perokok berat. Dia ingin sekali berhenti merokok karena akhir-akhir ini dia sering batuk-batuk tak berkesudahan. Selain itu, keuangannya semakin memburuk karena dia bisa membeli berkotak-kotak rokok dalam sehari. Ujung-ujungnya, si A menemui si B dan meminta meminta nasehat atau saran untuk membuatnya berhenti merokok. Si B menyarankan agar si A mengalihkan kebiasaan merokoknya dengan banyak-banyak mengonsumsi permen pedas. Namun, apa komentar si A?

“Wah harga permen sebanyak itu bisa dapat rokok satu kotak. Mending beli rokok saja deh.”

Contoh lainnya:

A adalah seorang obesitas. Tubuhnya yang seukuran tandon air hujan telah membuatnya sulit bergerak dan membuat tidak percaya diri di hadapan orang lain. Dia menjadi orang yang sulit bergaul dan minder bila diajak berkenalan dengan wanita. Sehari-harinya dihabiskan dengan makan berkilo-kilo gorengan sambil mengeluh mengapa dia tidak dilahirkan dengan tubuh yang atletis. Setelah bertahun-tahun merenungi nasib, si A memutuskan untuk berubah. Dia meminta bantuan si B untuk mengajarinya berolahraga dan menentukan kapan waktu yang tepat untuk memulai latihan. Si B dengan senang hati mau mengajari si A untuk latihan berolahraga. Setelah dia menjelaskan jadwal latihan, coba tebak apa komentar si A?

“Aduh aku sibuk kerja nih. Kapan-kapan saja deh kalau ada waktu.”

Kedua contoh di atas adalah nyata. Jadi, kalau kamu merasa tersinggung dengan kedua contoh di atas, maka bisa jadi saya benar-benar sedang membicarakan kamu.

Saya secara pribadi adalah orang yang pemalas: malas bertemu dengan orang yang malas. Apalagi kalau dimintai pertolongan untuk membantu mengubah kehidupan mereka yang berantakan. Jauh lebih mudah mengajari seorang balita berjalan ketimbang harus membimbing orang dewasa yang pemalas. Malah hasilnya bisa saja nihil.

Ketika seseorang mengatakan kata “Nanti”, percayalah bahwa sesungguhnya waktu yang dimaksud itu tidak ada. Akan ada banyak “nanti nanti nanti” yang lain. Pada akhirnya apa yang dia inginkan tidak akan pernah terjadi. Intinya jadi bullshit  doang di mulut.

Satu-satunya cara untuk mengubah hidup adalah dengan menerapkan disiplin tinggi di kehidupan sehari-hari. Misalnya: saya ingin menjadi penulis profesional dengan bayaran tinggi. Jadi apa yang harus saya lakukan agar cita-cita saya tercapai? Mau tidak mau, saya harus memaksa diri ini untuk menulis setiap hari, entah itu menulis di komputer atau menulis di atas kertas. Apa pun yang terjadi ya saya harus menulis. Kalau saya hanya menulis seminggu sekali, maka cita-cita saya hanya sekedar menjadi angan-angan saja tanpa ada realisasinya.

Disiplin bukan hanya perkara menentukan waktu yang cocok untuk melakukan sesuatu. Namun, yang tidak kalah penting, disiplin adalah kegiatan apa yang bisa kamu lakukan hari ini yang dapat membuat kamu menjadi semakin dekat dengan cita-cita yang kamu mimpikan.

Jujur saja, jam kehidupan saya berantakan. Kadang-kadang saya tidur jam sepuluh malam dan besoknya begadang semalaman. Tidak jarang saya harus bangun siang karena saya lebih suka menulis di malam hari. Namun, meski jam kehidupan saya berantakan, saya membiasakan diri untuk menulis apa saja yang ada di kepala saya selama enam puluh menit. Tidak peduli apakah saya menulis cerita pendek, cerita seram, cerita mesum, cerita mesum sekaligus seram, menulis buat artikel di blog ini, atau tulisan-tulisan tidak mutu lainnya, ya tetap saja saya harus menulis setiap hari agar cita-cita saya untuk menjadi penulis profesional dapat tercapai. Titik.

Begitu pula dengan kegiatan saya yang lain seperti membaca buku atau berolahraga. Sesibuk-sibuknya saya dengan pekerjaan, saya harus menyempatkan diri membaca buku setidaknya dua halaman dalam sehari. Tidak perlu berkomitmen tinggi ketika mau melakukan sesuatu, karena komitmen tinggi malah membuat kamu sulit untuk mencapainya. Buatlah komitmen yang serealistis mungkin. Kalau saya cuma bisa membaca dua halaman buku dalam sehari, mengapa tidak?

Saya tidak pernah percaya dengan orang yang menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk menutupi kemalasan. Itu adalah alasan paling basi dalam sejarah umat manusia. Saya pernah bekerja selama 19 jam dalam sehari dan itu berlangsung selama hampir setahun. Sehingga saya tahu rasanya menjadi orang yang beneran sibuk. Kalau kamu kerja dari jam delapan pagi lalu pulang jam enam sore, itu masih terlalu enteng bagi saya. Kamu masih punya sisa enam jam yang bisa digunakan untuk melakukan sesuatu yang berguna seperti berolahraga, membaca buku, bekerja sambilan, atau kegiatan lainnya.

Satu lagi.

Saya benci ditanya: “Bagaimana cara cepat menguruskan berat badan?” atau “Bagaimana cara cepat menulis yang baik dan benar?” atau lagi “Bagaimana cara cepat ____ (sebut sendiri)?”

Hanya pecundang yang ingin segalanya serba cepat. Kalau kamu bertemu dengan orang yang bertanya seperti itu, saya sarankan mereka untuk pergi tidur saja dan bermimpi indah tentang impian-impian yang tidak bakalan tercapai.

Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s