Deal With It, Motherfucker!

Buddha pernah berkata: “Hidup adalah menderita dan penderitaan itu terjadi karena ketidaktahuan manusia akan kebenaran yang hakiki.”

Bagi saya pribadi yang hidupnya selalu terlunta-lunta dari satu masalah ke masalah yang lainnnya, kata-kata Buddha itu sungguh tepat adanya.

Dari dulu sampai sekarang, hidup saya tidak pernah melambung tinggi seperti orang-orang dengan segudang prestasi lainnya. Keluarga saya adalah kaum menengah biasa. Pagi bekerja, sore pulang. Saya mengenyam pendidikan di sekolah yang biasa-biasa saja. Ketika kuliah pun saya terancam drop out di universitas negeri. Perekonomian keluarga juga tidak kunjung menanjak. Dalam setahun, menonton film bioskop saja bisa dihitung pakai jari. Itu pun saya selalu dibayarin teman-teman saya melulu. Liburan? Oh itu hanya dalam mimpi saja. Liburan bagi saya adalah nonton film hasil download di warnet dengan sebotol minuman soda dan satu piring gorengan yang dibeli dengan uang receh kembalian Indomaret.

Sebelum kamu menitikan air mata membaca paragraf di atas, saya kasih tahu bahwa saya sudah sangat biasa menjalani hidup ala ‘jejak petualang’ seperti itu. Meski di sepanjang hidup saya selalu dihantui masalah dan serba kekurangan, toh saya masih bisa hidup sampai sekarang dan mengetik artikel ini sembari mendengar suara petok ayam di pekarangan rumah.

Pada kenyataannya, tidak peduli seberapa tinggi jabatan atau pendidikan yang dicapai, tetap saja masalah PASTI akan datang dan menempel erat seperti stiker sepeda motor kreditan. Lucunya, orang-orang banyak yang berusaha mati-matian menghindari masalah, padahal itu adalah hal yang mustahil.

Menghindari masalah bukan selamanya lari dari masalah. Menghindari masalah bisa saja dalam bentuk berjuang menggapai sesuatu dan berharap ‘sesuatu’ tersebut bisa menjauhkannya dari masalah.

Contohnya:

  • Kuliah tinggi-tinggi supaya mudah mencari kerja. Namun, setelah lulus ternyata masih saja sulit mencari kerja.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ditemukan bahwa terdapat 857 ribu orang pengangguran terdidik di tahun 2015 yang lalu. Itu baru yang tercatat saja. Bagaimana dengan yang tidak tercatat? Saya yakin jumlahnya bakal lebih banyak lagi.

  • Kerja mati-matian dengan harapan bisa kaya raya, tetapi kenyataannya malah bikin sengsara.

Kerja keras memang lebih baik daripada menganggur. Namun, itu tidak menjamin bisa menjauhkan kamu dari kemiskinan. Reza A.A. Wattimena, seorang dosen filsafat politik dari Unika Widya Mandala, pernah berkata: “Cara paling ampuh untuk memerangi kemiskinan adalah menciptakan kesempatan yang sama untuk setiap orang.” Artinya, setiap orang (tidak peduli ras, suku, dan agamanya) berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu dan tanpa biaya, atau setidaknya dikenakan beban biaya murah.

Jadi, tidak peduli seberapa keras kamu bekerja agar terhindar dari masalah kemiskinan, selama kamu tidak memiliki kesempatan yang sama seperti orang lain, maka kamu tetap terperangkap dalam lubang kemiskinan yang dalam.

  • Kamu ngebet nikah agar bisa menyusul teman-teman yang sudah menikah duluan.

Kamu jelas mendambakan hidup bahagia setelah pernikahan. Iri rasanya melihat senyuman bahagia para pasangan di foto pre-wedding. Namun, apakah semudah itu? Tentu saja tidak.

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menemukan bahwa indeks kebahagiaan orang-orang yang tidak menikah jauh lebih tinggi ketimbang yang sudah menikah. Pernikahan bukan jaminan kebahagiaan. Richard Lucas, seorang profesor dari Michigan State University, pernah mengatakan bahwa kebahagiaan bersifat dinamis dan mengikuti adaptation model di mana ketika seseorang mengalami kejadian yang menyenangkan, maka kebahagiaannya akan meningkat. Namun, kebahagiaan itu akan berangsur-angsur kembali menurun hingga mencapai titik stabil.

Melihat itu semua, dapat disimpulkan kalau kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan pernikahan. Kalau kamu sudah bahagia saat single, maka itu sudah cukup. Jangan sampai penilaian orang bisa merendahkan kadar kebahagiaan kamu.

 

Ketimbang mempelajari masalah yang ada, orang-orang lebih suka berlomba-lomba mencapai puncak keinginan yang malah semakin memerosotkan mereka ke masalah. Saya tidak menyarankan untuk bermalas-malasan dan menerima keadaan apa adanya, tetapi alangkah baiknya kalau kamu mau memandang masalah tersebut ke dalam diri kamu dahulu sebelum melakukan hal-hal yang orang lain sarankan.

Ketika saya terancam drop out, orang-orang berusaha memanasi saya dengan ucapan “Sayang waktu yang terbuang” atau “Coba lihat orang lain sudah wisuda kok kamu belum”. Mereka tidak tahu bahwa banyak faktor yang menyebabkan kuliah saya melorot sampai enam tahun. Kalau saya dibilang bodoh, maka saya akan ucapkan “Ya, saya memang bodoh” karena saya sadar diri ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan ribuan orang yang lulus dengan cum laude.

Namun, apakah drop out adalah akhir dari semua? Tentu saja tidak. Saya sama sekali tidak pernah menyesal bila harus angkat kaki dari kampus. Kenyataannya adalah banyak teman-teman saya yang tergolong pintar di kelas, tetapi tetap saja kelimpungan mencari kerja.

Bagi saya pribadi, kampus adalah tempat mencari ilmu dan bukan sebagai syarat mencari kerja. Boleh-boleh saja kalau kamu menganggap kuliah adalah syarat mencari kerja. Namun, coba kamu lihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini. Apakah jumlah wisudawan mempengaruhi tingkat pendidikan di Indonesia? Kalau di benak kamu terlintas kata “Tidak”, maka bisa dibilang wisuda hanyalah topeng untuk menutupi kebodohan di dalam diri.

Jadi sebelum kamu gegabah mengambil langkah penyelesaian masalah, saya bisikkan kata-kata dari Carl Gustav Jung, seorang psikiater legendaris dari Swiss:

“Your vision becomes clear when you look inside your heart. Who looks outside, dreams. Who looks inside, awakens.

 

Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s