Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?

Jika saya ditanya, apakah rela jika Indonesia menjadi Biggest Islamic State in The World ? Jawaban resmi dari saya pribadi adalah :”Tidak mengapa, asalkan damai, toleran dan menjamin hak asasi manusia”. Jawaban ini bukan dalam konteks menggantikan ideologi pancasila dengan khilafah. Bukan itu maksud saya.

Bagi saya, ideologi bangsa adalah alat untuk mempersatukan setiap individu-individu dalam suatu bangsa untuk maju bersama mencapai tujuan yang ditentukan. Entah pancasila akan di-mix and match dengan sistem kepemerintahan dan hukum syariah, codex civil prancis, mau meniru tata kepemerintahan jepang, china, arab saudi atau USA, semua bisa dikondisikan. Toh, governance atau tata kelola kenegaraan dan kepemerintahan kita kebanyakan adalah adopsi dari negara lain. Termasuk jika menggunakan syariat islam. Yah, kecuali ideologi dasar pancasila, ini harga mati, demi pancasila ini, dahulu kala masyarakat indonesia mau disatukan menjadi satu negara bangsa.

Yang menjadi menarik sebagai topik bahasan pada artikel ini adalah : Mengapa kaum populis konservatif di Indonesia begitu bernafsu sekali dengan sistem kepemerintahan “khilafah” ? Janji manis apa yang diberikan sistem khilafah di masa lalu yang bisa memajukan negara Indonesia ?

Menilik sejarah, khilafah adalah sistem kepemerintahan yang menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW dalam mengurus berbagai permasalahan umat. Dimulai dari ditunjuknya  khalifah abu bakar ash-siddiqh ra pada tahun 632 M hingga dibubarkannya kekhalifahan oleh Dewan Perwakilan Nasional Turki pada tahun 1924. Semejak itu, upaya-upaya mendirikan ulil amri atau penguasa bagi umat muslim selalu memenuhi jalan buntu. Tidak ada sistem yang pakem dalam memilih khalifah, mekanisme pemilihan khalifah dilakukan baik dengan wasiat ataupun dengan majelis syura’ yang merupakan majelis Ahlul Halli wal Aqdi yakni para ahli ilmu (khususnya keagamaan) dan mengerti permasalahan ummat. Komando kekhalifahan sempat terhenti pada tahun 1258 M karena serangan dari pasukan tartar pimpinan Hulagu Khan yang sempat meluluh lantakan Kota Baghdad.

Kembali lagi pada pemikiran sebagian masyarakat dunia yang ingin mendirikan kekhalifahan. Sebegitu banyaknya dan panjangnya historis dari sistem kekhalifahan yang pernah ada, mana yang lebih tepat digunakan untuk sistem kepemerintahan modern saat ini ?

Kekhalifahan Khulafaur Rasyidin, Bani Ummayah, Turki Utsmani lebih berkutat pada perebutan wilayah, intrik politik, pemberontakan dan penyatuan umat islam dalam bernegara. Keemasan islam yang selama ini dibangga-banggakan justru merujuk pada Kekhalifahan Bani Abbasiyah dan sisa kekuasaan Bani Ummayah di Semenanjung Iberia / Andalusia (Portugal, Spanyol dan Prancis Selatan saat ini). Kedua wilayah kekhalifahan ini dianggap maju karena kecintaan terhadap ilmu pengetahuan di saat eropa sedang tertidur dengan abad kegelapannya.

Terdapat dua fase yang mendukung kemajuan Bani Abbasiyah, Fase Pertama adalah fase kemajuan ekonomi. Daerah jajahan yang teramat luas membentang dari Afrika Utara, keseluruhan jazirah arabia hingga barat laut india membuat seluruh sumber daya kemakmuran terpusat pada Kota Baghdad. Selain itu, pemilihan Baghdad sebagai ibukota menjauhi pusat penyebaran islam di mekkah dan madinah, menghindarkan khalifah dari konflik keagamaan seperti yang terjadi pada kepemerintahan Bani Ummayah. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini halifah al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif.  Kekuatan ekonomi didukung pula dengan posisi pelabuhan Bhasrah yang dilewati oleh jalur perdagangan dari timur menuju ke barat. Pada kepemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid adalah masa dimana istana bagaikan di negeri dongeng. Imajinasi liar yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia pada saat itu, dapat direalisasikan karena melimpahnya segala sumber daya dan komoditas dari belahan barat bumi dan belahan timur bumi berkumpul di Baghdad.

Baghdad menjadi saingan satu-satunya bagi Bizantium. Kejayaannya berjalan seiring dengan kemakmuran kerajaan, terutama ibu kotanya. Kemegahan Baghdad mencapai puncaknya pada masa Harun al-Rasyid, dengan julukan Baghdad sebagai “kota melingkar”.

baghdad

Fase kedua adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya di bawah kepemerintahan Khalifah Al-Makmun dimana turut memajukan Perpustakaan Baitul Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) sebagai perpustakaan, lembaga penerjemahan dan pusat penelitian terbaik pada saat itu. Baitul Al-Hikmah juga memiliki peran penting dalam sejarah ilmu pengetahuan peradaban manusia, sebagai kunci transfer transliterasi dari filsuf-filsuf hellenistik yunani-romawi, filsuf timur tengah, rennaisance di eropa hingga ilmu pengetahuan modern yang kita pelajari saat ini. Khalifah mengutus orang-orang terbaiknya untuk mencari berbagai sumber teks ilmuwan yunani-romawi terutama filsafat aliran neoplatonisme dan aristotelesian dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia untuk diterjemahkan, dikaji, disintesa dan dikembangkan untuk referensi literatur-literatur baru ilmuwan Abbasiyah.

Dua hal penting yang perlu digaris bawahi pada masa Keemasan Dinasti Abbasiyah yakni kemakmuran dan stabilitas pemerintahan -lah yang membawa masyarakat Baghdad menuju taraf aktualisasi diri pada hal-hal yang bersifat progresif :kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya.

Begitu pula dengan negara-negara islam kecil (Taifa) bekas pecahan Bani Ummayah di Andalusia. Persaingan antar Taifa dalam membangun infrastruktur kota dan kehidupan sosial masyarakat di wilayah Andalusia -lah yang mendukung peradaban ini menjadi cahaya di langit kegelapan eropa. Taifa Cordoba begitu digdaya dalam memperkaryakan filsuf, ilmuwan, dan senimannya membangun kota paling beradab di wilayah barat daya eropa ini. Hal ini memicu Taifa lainnya seperti Toledo, Sevilla, Malaga, Valencia dan lainnya beradu dalam kemegahan. Dalam rangka perang bintang antar Taifa ini, justru perbedaan seperti suku, agama, ras dapat dikonsolidasikan. Identitas yang ada hanyalah sebagai penduduk suatu Taifa. Hal ini yang merangsang kemajuan pemikiran yang beradab di Bumi Andalusia. Bahkan ilmuwan yahudi seperti Moses Maimonedes justru lahir dan berkembang di Cordoba. Bahkan banyak ilmuwan-ilmuwan eropa yang menerjemahkan teks-teks buah pikir ilmuwan Andalusia di Kota Penerjemahan paling padat di Eropa : Toledo, sesuatu yang disadari di kemudian hari sebagai pemicu Rennaisance di Negara-negara Kota di semenanjung Italia.

Masih ada beberapa lagi kerajaan bercorak islam yang memiliki kemajuan signifikan bagi peradaban manusia seperti Kesultanan Moghul di India yang mendirikan karya seni arsitek Taj Mahal.

Gambaran yang saya berikan mungkin hanyalah gambaran umum dari sejarah 1.300 tahun perjalanan kekhalifahan, bukan sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah atas lebih kurangnya. Namun saya memberi penekanan bahwa sejarah keemasan khalifah itu ada karena didukung oleh kejadian-kejadian yang sangat kondisional. Tidak serta-merta juga selama 1.300 tahun kepemerintahan khalifah, masyarakat berada di jalur keemasan peradaban. Banyak kisah kekhalifahan yang diwarnai dengan peperangan, perongrongan kekuasaan, gaya hidup hedonisme, genosida, dan kejahatan hak asasi manusia. Anda bisa mencari referensi tentang kejahatan genosida Tentara Turki Utsmani terhadap Bangsa Armenia.

Hal-hal kondisional yang dapat diambil dari Masa Keemasan Khilafah Islamiyah adalah :

  1. Pembangunan infrastruktur-infrastruktur untuk mendukung tampil dalam pencaturan ekonomi dunia. Infrastruktur adalah pembuluh darah dari perekonomian. Tanpa ada infrastruktur, sumber daya ekonomi (alam, tenaga kerja, dan modal) sebagai darah perekonomian akan sulit mengalir untuk mendukung denyut nadi aktivitas-aktivitas ekonomi.
  2. Pembagian kemakmuran kepada masyarakat secara merata sehingga dapat diharapkan tatanan masyarakat menuju taraf peradaban yang maju. Di saat perut masyarakat dapat dipenuhi, maka hal ini dapat mendukung kestabilan bernegara. Stabil dalam artian tidak ada demo-demo receh ala masyarakat kelaparan karena kepentingannya tidak diakomodir oleh Negara. Bagaimana jika sebagian kepentingan rakyat itu adalah menjadi preman yang memalaki rakyat lainnya ? Ini kanker namanya. Sistem ekonomi manapun baik syariah, liberal, maupun sosialis tidak akan mampu menyembuhkan kecuali dengan cara kankernya harus diangkat.
  3. Penghargaan atas ilmu pengetahuan, kebudayaan dan humaniora. Bangkitnya eropa dari abad kegelapan adalah atas uluran tangan ilmuwan-ilmuwan muslim di Andalusia, Afrika Selatan dan Jazirah Arabia. Dengan sukarela, mereka membantu menerjemahkan teks arabic ke teks latin atas karya-karya ilmuwan muslim untuk memicu kebangkitan ilmu pengetahuan, seni dan budaya di eropa. Konflik keagamaan yang berkepanjangan di Eropa telah diselesaikan dengan revolusi-revolusi dan konsolidasi. Piagam Hak Asasi Manusia Magna Carta di Inggris, Revolusi Protestan di Jerman dan Revolusi penghapusan feodalime di Prancis adalah contoh bagaimana masyarakat bersatu menghilangkan identitas-identitas sosial mereka untuk kepentingan yang lebih baik lagi. Jika masyarakat di Indonesia masih mengatas-namakan agama untuk berkonflik dengan sesama, ini sama saja kita masih berada di titik Abad Kegelapan Eropa, bedanya kita sudah pegang ponsel pintar dan sosial media. Rujuk lagi bagaimana Taifa-Taifa di Andalusia mengkonsolidasi perbedaan-perbedaan suku dan agama mereka agar mampu bersaing membangun kota mereka.
  4. Otonomi daerah sebagai sistem untuk mengoptimalkan potensi daerah. Masing-masing daerah memiliki karakteristiknya masing-masing yang perlu dikuatkan untuk selanjutnya dikonsolidasi saling menyokong kebutuhan-kebutuhan sumber daya ekonomi antar daerah, dengan pembangunan infrastruktur transportasi tentunya.

Masyarakat populis konservatif yang menginginkan adanya Khilafah di Bumi Indonesia, saya rasa mereka perlu lebih dalam mempelajari sejarah naik turunnya Khilafah yang pernah terjadi. Sejarah indonesia begitu panjang sebagai bangsa, untuk mendirikan negara ini, perlu mengkompensasikan perbedaan-perbedaan agar dapat mencapai tujuan bersama. Kekhalifahan, sebelum mencapai masa keemasan, harus melewati puluhan atau ratusan tahun hingga mencapai masa keemasannya, baik dengan cara berlaga di medan perang atau dengan diplomasi politik.

Nostalgia keemasan sejarah Kekhalifahan memang sangat menarik untuk dipelajari, namun bukan berarti dapat menjadi sistem yang tepat untuk diterapkan di Indonesia dengan bentuk sosial masyarakat yang majemuk. Karena dapat menyebabkan lebarnya jurang  perbedaan dan potensi konflik. Sampai saat ini, Pancasila adalah ideologi terbaik yang pernah kita gali sendiri, bukan dari impor budaya lain, karena disusun dari dari corak pemikiran asli pendiri bangsa, dapat menyatukan perbedaan-perbedaan serta memperkuat persamaan-persamaan dalam mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Cukup meniru dan mereplikasi saja yan baik-baik dari Era Keemasan Islam saja dengan disesuaikan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa.

Selamat Hari Lahir Pancasila,

Joule Gallantea

Referensi :

George Saliba, ‘Islamic science and the making of the European Renaissance“. (2007)

Roshdi Rashed, Encyclopedia of the History of Arabic Science. Routledge (1996)

Suryantara, H. Bahroin. 2011. Sejarah Kebudayaan Islam. Bogor: Yudhistira.

https://elfioemar.wordpress.com/perjuangan/mengarungi-sejarah-keemasan-daulah-islam-hingga-keruntuhannya/

http://warungbaca.blogspot.sg/2008/09/masa-keemasan-islam-bani-abbasiyah.html

Bacaan lebih lanjut :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s