Ngapain Mudik ?

Artikel ini berat sebelah. Saya hanya ingin membahas sisi negatif dari budaya mudik massal ketika lebaran telah tiba. Karena jika membahas sisi positifnya, anda bisa menemukan 1.000 alasan penting banget kenapa harus mudik di simbah google.

Masalah Keselamatan

Berdasarkan data Korlantas Polri, selama mudik 2016, diketahui telah terjadi 2.719 kecelakaan lalu lintas yang terjadi di seluruh jalur mudik. Dari jumlah i sebanyak 504 orang meninggal dunia, 634 orang luka berat dan 3.635 luka ringan. Angka ini menunjukkan terjadi penurunan jumlah kecelakaan lalu lintas saat arus mudik dan balik Lebaran 2016 jika dibanding pada 2015 dan pada 2014.

Memang terjadi penurunan, angka tersebut semakin tidak signifikan jika dibandingkan peningkatan jumlah pemudik setiap tahunnya. Tapi, data yang kita bicarakan adalah nyawa manusia, sudah menjadi risiko melekat (inherent risk) kalau anda mudik massal, risiko kehilangan nyawa anda semakin besar. Jalan-jalan dilalui pemudik menjadi arena sabung nyawa manusia saban tahunnya. Jalan seketika menjadi neraka yang takterperikan seperti kejadian di Tol Brebes Timur (Brexit) pada tahun 2016 karena infrastruktur jalan yang tidak mendukung.

Katakan saja, di tahun-tahun kedepannya, infrastruktur menjadi sangat memadai, sarana perhubungan terintegrasi mengurai titik kemacetan, tidak ada korban nyawa manusia saat mudik, apalagi masalah utama mudik massal ketika menjelang lebaran ?

Masalah Ekonomi

Memang terjadi repratriasi uang-uang dari perkotaan menyebar ke daerah lainnya. Ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi ekonomi daerah. Adanya pergerakan masyarakat ke kampung-kampung halamannya, tentunya dibarengi dengan pergerakan uang ke daerah. Uang tersebut akan terserap maksimal ke daerah, jika adanya infrastruktur daerah siap untuk menyerapnya. Masyarakat akan menghabiskan uangnya untuk berwisata kampung halaman, berkuliner, dan bagi-bagi duit sebagai sarana pembuktian pencapaian kesuksesan yang didapat di perkotaan. Ini tidak terjadi masalah, jika daerah-daerah ini memiliki infrastruktur ekonomi yang maksimal untuk menyerap dana setahun sekali tersebut. Jika tidak, ini bisa menjadi penyumbang inflasi daerah. Uang yang beredar di daerah sangat besar namun barang komoditas jumlahnya begitu-begitu saja, yang terjadi bisa ditebak, harga barang menjadi tambah mahal tanpa adanya peningkatan kualitas barang. Tidak perlu sekolah ekonomi tinggi-tinggi untuk memahami mekanisme pasar seperti itu. Akan semakin parah lagi jika kurva permintaan/penawaran barang tidak elastis, harga barang sembako misalnya, kalau sudah keenakan naik, lebaran sudah lewat, harganya tidak mau turun.

Inflasi secara nasional jelas akan terjadi, bayangkan saja kombinasi kejadi ini terhadap ekonomi :

  1. Semua orang berharap THR yang menyebabkan uang beredar meningkat,
  2. Barang-barang tentunya menurun. Produksi dan distribusi barang menurun karena liburan dan truk-truk pembawa barang dilarang melewati daerah-daerah yang dilalui jalur pemudik individu.
  3. Permintaan barang semakin meningkat, semua orang butuh bahan makanan untuk pesta makan-makan, semua orang butuh eksis jadi orang sukses, menyewa mobil, beli ponsel baru, beli baju baru, dan komoditas pameran kesuksesan lainnya sampai ada yang harus menggadaikan harta di kantor pagadaian demi mudik dan pesta lebaran.

Uang semakin banyak, barang semakin turun. Boom !!!! Kenaikan harga barang. Duit banyak, orang pada butuh barang, tetapi jumlah barangnya berkurang di pasaran. Mungkin saja itu sebenarnya tidak terjadi. Pelaku pasar sangat memahami geliat-geliat ekonomi pada saat lebaran, mereka sudah memprediksinya karena sudah terjadi setiap tahunnya. Tetapi ini sudah kadung menjadi alasan pembenaran untuk menaikkan harga, karena permintaan pasti meningkat, mereka hanya perlu meningkatkan jumlah barang dan meningkatkan harga barang untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Masalah Sosial

Kesuksesan semu yang dibawa perantau ke daerahnya, akan merangsang generasi pemuda tanggung untuk mengadu nasib di kota-kota besar. Yah, menambah orang yang tidak berguna lagi di kota dan menambah lahan-lahan tidak tergarap lagi di desa. Kota dengan segala fasilitasnya ditambah iklan yang menggiurkan konsumen, menjadi detinasi menetapkan hidup yang menawan untuk sebagian orang. Ada gadis desa yang cantik, tentunya potensinya tidak terekspose jika tidak pindah ke kota besar dan menjadi model. Iya kalau menjadi model, jika hanya menjadi korban eksploitasi perdagangan seks di kota besar, alangkah jauh lebih bergunanya dia membantu menggarap lahan agrikultur di desanya.

Jadi, Ngapain Mudik ?

Lebaran adalah sarana pamer dan menuai pujian dari sanak saudara selain memiliki fungsi silaturahmi. Anda boleh mengelaknya dengan alasan-alasan hipokrisi lainnya. Saya orang indonesia, bertahun-tahun juga menjalani ritual lebaran, meskipun statemen saya butuh penelitian yang lebih lanjut, tetapi ini sudah alam bawah sadar manusia, bahwa pengakuan dari individu lain atas kesuksesan hidup (dengan memiliki barang-barang tersier) adalah suatu kebutuhan yang ingin dipenuhi meskipun alasan-alasan sadar anda mengatakan sebaliknya.

Mudik secara massal, budaya primordial yang rindu kepangkuan ibu pertiwi, perlu diakhiri. Memang selain indonesia terdapat 5 Negara yang memiliki budaya mudik massal ketika lebaran telah tiba. Tetapi efek yang ditimbulkan oleh budaya ini sudah sangat massif merugikan di Indonesia.

Ada 12 bulan 365 hari dalam setahun, tidak perlu semua orang pulang kampung pada satu periode tertentu saja. Memang anda jadi tidak bisa buka bersama atau halal bihalal dengan teman-teman SD atau Playgrup, karena momen itulah semua kolektif pulang kampung. Namun kalau memang niat reuni bisa anda rundingkan itu di grup sosial media. Silaturahmi tetaplah silaturahmi, meminta maaf adalah sikap, jika anda memang niat melakukan itu tidak perlu juga menunggu hari lebaran. Meminta maaf kok nunggu lebaran. Kalau mudik hanya untuk memenuhi hal sesentimentil itu, mending gak usah mudik.

 

Jarang pulang kampung saat lebaran,

Joule Gallantea

 

Bacaan lebih lanjut:

  1. Purwakananta, M. Arifin, dkk. Ekonomi mudik:potret potensi ekonomi mudik lebaran dan gagasan mudik berdayakan desa.
  2. Dwi Rini Hartati & Adji Krisbandono. Statistik Mudik dan Urgensi Transportasi Umum.
  3. https://ugm.ac.id/id/berita/12031-menggagas.zero.accident.saat.mudik.lebaran
  4. http://www.femina.co.id/trending-topic/mudik-jadi-ajang-pamer-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s