Booklicious: Maskulinitas Alam Liar Dalam Buku “The Call Of The Wild” Karya Jack London

Dua puluh juta tahun yang lalu, saya mengetahui Jack London dari salah satu situs favourit saya yaitu Artofmanliness.com yang sering membahas buku-buku yang berisi tentang nilai-nilai kepriaan. Saya pribadi menyukai novel dan cerita pendek yang ditulis di era sebelum 1990-an karena banyak karya sastra unik yang dtulis di tahun-tahun sebelum itu. Tidak seperti novel di zaman sekarang yang isinya tentang cinta-cintaan melulu. Padahal hidup ini tidak selalu tentang cinta, melainkan juga nestapa.

Ritual wajib yang saya lakukan sebelum membeli buku terjemahan adalah berdo’a. Ya, saya benar-benar berdo’a! Padahal saya ini sholat saja jarang. Itu pun hanya saat hari jumat doang. Entah apakah saya ini kafir atau tidak, yang penting berdo’a dulu agar takdir menuntun tangan saya ke buku yang memiliki terjemahan yang bagus.

Jadi setelah saya hompimpa, lempar koin, dan suit dengan mbak-mbak kasir Gramedia, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku ini. Saya sebenarnya sudah memiliki buku ini dari awal tahun lalu, tetapi baru kepikiran untuk me-review sekarang. Harganya saja saya sudah lupa. Syukurlah saya belum punya anak, jadi saya bisa menyisihkan uang untuk beli buku ketimbang beli susu.

Buku ini berkisah tentang seekor asu bernama Buck dalam petualangannya menjadi asu nomor satu di alam liar. Berbeda dengan asu-asu penuh panu yang luntang-lantung di pasar tradisional, Buck adalah asu yang terhormat dan dibesarkan oleh hakim yang terkenal di California. Suatu hari, Buck diculik oleh pelayan tuan rumahnya dan dijual untuk menjadi asu penarik kereta di daerah Yukon yang berselimut salju. Dari sini kita bisa menebak sebagian besar jalan ceritanya: Buck harus berjuang beradaptasi dengan lingkungan yang kejam dan itu semua berbanding terbalik dengan kehidupan yang nyaman di tempat tinggalnya terdahulu.

Jalan cerita novel ini tidak mindfuck atau mindblowing macam novel karya Dan Brown atau Sydney Sheldon. Jadi siapa saja bisa menikmati buku ini sambil santai. Namun, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang memiliki kontoru. Apa itu kontoru? Gunakanlah imajinasi Anda sedikit. Masa begitu saja tidak tahu?

Bagi kamu yang memiliki kontoru, maka sebaiknya membaca buku ini untuk menambah nilai-nilai maskulinitas yang semakin terkikis oleh budaya K-Pop. Buku ini sangat lakik! Sampul bergambar Buck yang sedang melolong saja seharusnya sudah menggambarkan betapa lakiknya buku ini!

Di dalam buku ini diceritakan bagaimana suka duka Buck dalam menghadapi alam liar yang sangat ganas. Awalnya Buck sulit beradaptasi dengan sesama asu penarik kereta, tetapi alam liar benar-benar mampu mengubah Buck menjadi asu yang paling berkuasa diantara asu yang lain. Tentu saja Buck tidak begitu saja menjadi asu yang terhebat. Dia tidak menghabiskan hari-harinya dengan berguling-gulingan di kasur sambil nonton bokep dan berharap Mio Takahashi mengetuk pintu kamarnya. Dia tidak serendah itu! Dia menghadapi alam liar dengan cakar dan taringnya! GROOOOOOAAAAARRR!

Dalam perjalanannya menjadi asu nomor satu, Buck bertemu dengan berbagai macam majikan dan asu-asu lain yang tidak suka kepadanya. Kalau kamu berpikir hewan-hewan ini dapat berbicara layaknya manusia, maka kamu salah besar. Di buku ini, asu ya asu. Manusia ya manusia. Yang bisa berbicara hanyalah manusia dan asu cuma bisa menggonggong. Tidak ada dialog antar asu. Pembaca akan disuguhi dengan tingkah polah asu yang sudah sering kita lihat: menggonggong, berlari, bermain, guling-guling di tanah, dan melolong.

Itu adalah bagian yang paling saya suka di buku ini. Jack London dengan cerdas mampu membuat pembaca mengikuti sepak terjang Buck dengan menggambarkan apa saja yang dia lakukan dan bukan dari apa yang dia pikirkan. Membaca buku ini seperti menonton acara Animal Planet. Asu-asu di buku ini juga sangat menghormati satu sama lain. Mereka menghormati duel dua ekor asu yang saling memperebutkan kekuasaan. Mereka juga tunduk kepada asu yang berkuasa. Bila ingin menentang kekuasaan yang ada, maka duel pun terjadi. Satu-satunya cara untuk melawan adalah dengan berduel! Tunduk menyerah atau bangkit melawan!

Overall, saya sangat puas dengan buku ini. Terjemahannya sangat bagus dan ceritanya pun mengalir lancar. Desain sampulnya juga sangat sederhana. Ini adalah salah satu buku terbaik yang saya punya.

Kelebihan:

(+) Terjemahan bagus. Mantab soul. Saya beri nilai 100.

(+) Cerita mengalir lancar dan konflik yang ada tidak berlarut-larut.

(+) Membaca buku ini seperti menonton Animal Planet.

(+) Wajib dibaca bagi siapa saja yang memiliki kontoru karena buku ini mengandung maskulinitas yang tidak main-main.

(+) Ini bukan buku cerita dongeng. Tidak ada hewan yang bisa berbicara.

Kekurangan:

(–) Sampul putihnya cenderung mudah kotor dan menguning.

(–) Bukunya bisa basah kalau terkena air.

(–_–) ini emot orang cina.

 

Vladd Voltaire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s