Bagaimana Berinteraksi Tanpa Berekspektasi

“Si Fulan bin Fulan itu rapi, baik, dan setiap hari disiplin masuk kerja tepat waktu, tapi kok aslinya gitu ya? Di komputer kantornya banyak video bokep yang pemainnya anak kecil loh”

Pernah menemukan pertanyaan di atas? Atau pertanyaan sejenis itu? Atau mungkin malah kamu sendiri yang bertanya seperti itu?

Ketika kita merasa sudah mengenal seseorang dan mencapai fase “we know every little thing about him/her” seringkali kita sudah memiliki pandangan tersendiri terhadap orang tersebut. Pandangan tersebut bisa jadi hal-hal positif mengenai dirinya, tetapi kemudian hal-hal yang membekas di ingatan ternyata justru hal negatif yang tidak kita sangka muncul secara tiba-tiba; kita dikagetkan dengan tingkah laku orang tersebut yang ternyata di luar dugaan kita.

Well, akan saya jabarkan dulu proses interaksi mulai dari pertama kalinya kita berinteraksi dengan orang asing sampai fase dimana kita cukup aman untuk menyatakan bahwa kita tahu semuanya tentang dia:

Saat awal kita bertemu orang asing, pasti ada perasaan canggung yang membuat kita tidak nyaman. Itu dikarenakan alam bawah sadar kita secara otomatis melakukan filter untuk memastikan apakah orang ini aman untuk diajak berinsteraksi atau tidak. Pikiran kita melakukan filterisasi dengan mengamati cara orang asing tersebut berpakaian, berbicara, atau mungkin cara dia menyentuh orang lain. Otak kita akan menilai berdasarkan data-data dari hasil interaksi kita dengan orang lain sebelumnya.

Apabila orang asing tersebut telah lolos fase filterisasi ini, maka kita masuk ke fase dimana kita nyaman berinteraksi dengan orang asing tersebut dengan lebih leluasa: seperti bercanda dan saling bercerita tanpa ada rasa canggung. Di saat seperti ini, alam bawah sadar kita sudah menaruh ekspektasi karena kita merasa dari penilaian tadi kita mengetahui semuanya tentang orang tersebut. Orang asing itu tidak lagi terasa asing. Kita mengenalnya sebagaimana kawan-kawan yang kita kenal pada umumnya.

Namun, dunia ini dipenuhi dengan jutaan kejadian yang tidak bisa kita prediksi sebelumnya. Termasuk dengan orang-orang yang kita anggap sudah mengenalnya dengan baik. Hal itu biasa disebut dengan reality crash, suatu momen dimana realita yang terjadi ternyata tidak seindah dengan bayang-bayang imajinasi kita.

Misal, dia yang biasanya suka bercanda dan periang ternyata punya pemahaman tentang agama atau politik yang berbeda dengan yang kamu pahami. Lebih parah lagi, misalnya dia yang terlihat seperti orang normal pada umumnya, tetapi ternyata dia banyak menyimpan link situs-situs  website yang membuat kamu tak nyaman saat melihatnya.

Kamu sulit menerima kenyataan itu dan berteriak “KOK DIA BEGINI SIH?!”.

Patut diketahui bahwa saya tidak mengatakan kalau teman-teman di sekeliling kamu adalah sekelumpulan monster aneh atau psikopat yang sedang menyamar menjadi manusia normal, karena saya percaya setiap orang berhak melakukan hal-hal yang dia mau selama dia bertanggung jawab dan cukup dewasa untuk tahu apakah tingkah laku atau sifat di dalam dirinya itu mengganggu orang lain atau tidak.

Saya hanya ingin menjelaskan kalau walaupun pikiran kamu sudah mengenal seseorang sedekat apa pun, tetap saja kamu (apalagi saya!) tidak akan pernah bisa mengontrol setiap keputusan yang dia ambil. Sadari bahwa semakin besar kamu menaruh ekspektasi terhadap seseorang, maka akan semakin besar pula reality crash yang akan kamu alami bila kamu mengetahui sifat asli orang tersebut yang ternyata sama sekali jauh dari tampilannya sehari-hari.

Selalu berikan skala 50:50 ketika menilai orang lain. Jangan menilai seseorang dengan skala 80 kebaikan dan 20 keburukan. Jangan juga menilai seseorang dengan skala 80 keburukan dan 20 kebaikan.

Mengapa harus 50:50? Karena kamu tidak akan tahu keseluruhan sifat seseorang hanya dengan melalui interaksi sehari-hari. Dengan memberikan skala 50:50, kamu bisa terbebas dari rasa kecewa ketika orang yang kamu kenal ternyata memiliki perilaku atau sifat yang berbeda dengan yang kamu pikirkan.

Sadari bahwa diri kamu juga memiliki sifat dan perilaku yang tidak ingin kamu tunjukkan ke orang lain. Kamu dan saya adalah sama. Sama-sama memiliki sisi gelap dan sisi terang karena tidak ada manusia yang 100% hati nuraninya dipenuhi kebaikan. Namun, selama sisi gelap tersebut tidak mengganggu orang lain, ya itu sama sekali tidak masalah.

Mungkin cara di atas tidak selamanya bisa mencegah kamu untuk kecewa dengan orang yang kamu kenal, tetapi saya harap dengan ini kita bisa melihat orang lain dari persepsi lain tanpa harus mengorbankan memori indah berinteraksi dengan orang lain.

Sudah paham?

Kalau belum paham ya baca lagi dari atas.

 

(Luce Aluzio)

Memikirkan kekerasan pada perempuan

Apapun keyakinan anda, apapun standar moral anda, dari segi etika, moral maupun hukum, semua orang pasti tahu bahwa tindak kekerasan merupakan suatu perilaku manusia yang tidak pantas dilakukan. Begitu juga ketika perempuan dalam ancaman kekerasan seksual di ruang publik. Gagasan umum yang seolah konkrit namun sesat pikir adalah “salah perempuannya juga, suka mengumbar aurat”. Anda pikir pandangan seperti itu benar ?

Continue reading “Memikirkan kekerasan pada perempuan”

Mengapa Pasangan Yang Bahagia Masih Dapat Berselingkuh ?

Mengapa kita berselingkuh? Dan mengapa mereka yang bahagia pun melakukannya? Saat kita menyebut “perselingkuhan,” apa sebenarnya yang kita maksud? Apakah itu kencan, kisah cinta, seks berbayar, ruang obrolan, ataukah pijatan dengan akhir yang bahagia? Mengapa kita pikir pria  berselingkuh karena bosan dan takut keintiman, sedangkan wanita berselingkuh karena kesepian dan haus keintiman? Dan apakah perselingkuhan selalu merupakan akhir dari sebuah hubungan? Continue reading “Mengapa Pasangan Yang Bahagia Masih Dapat Berselingkuh ?”

PERNIKAHAN : SEBUAH FASE ATAU PILIHAN HIDUP ?

Mungkin selama ini anda sangat familiar dengan meme yang bertebaran di internet mengenai joke “Kapan Kawin ?”. Apalagi jika ada momen lebaran, joke ini tidak pernah basi di makan zaman. Begitu juga dengan teman-teman saya yang bereaksi berlebihan seperti dikejar-kejar deadline jika diberi pertanyaan semacam itu. Continue reading “PERNIKAHAN : SEBUAH FASE ATAU PILIHAN HIDUP ?”

Apakah Ukuran Penis Penting ?

Seperti kata pepatah ‘Bukan ukuran yang penting, melainkan bagaimana anda menggunakannya’ – tapi tidak selama ini berdiri cincin frase benar dalam topik sangat diperdebatkan ukuran penis? Apakah anggota Anda benar-benar membuat perbedaan dalam daya tarik atau kemampuan untuk kesenangan pasangan Anda? Menariknya, manusia memiliki penis terbesar dari primata apapun, baik dalam ukuran mutlak dan relatif terhadap proporsi tubuh … sehingga Anda dapat dibanggakan itu! Melalui sejarah evolusi kita, perempuan cenderung mengembangkan minat dan preferensi untuk bentuk penis dan ukuran – seperti bagaimana burung-burung merak betina memiliki preferensi untuk laki-laki dengan bulu yang menakjubkan. Akibatnya, mereka memilih pasangan dengan penis yang lebih besar, akhirnya lulus pada gen tersebut. Hal ini dikenal sebagai seleksi seksual. Hal ini juga mungkin keuntungan bagi laki-laki, sebagai penis yang lebih panjang lebih efisien untuk menghilangkan sperma dari laki-laki saingan selama hubungan seksual. Semakin lama Anda kedalaman dorong, lebih baik semen perpindahan, memastikan gen Anda bisa diteruskan. Satu studi tertentu menemukan bahwa beberapa wanita mengalami orgasme vaginal lebih sering dengan penis yang lebih panjang, menunjukkan bahwa itu mungkin dapat merangsang seluruh panjang vagina dan leher rahim. Namun, penting untuk dicatat bahwa perempuan mengalami berbagai jenis orgasme; pada kenyataannya, orgasme vaginal dan klitoral mungkin fenomena benar-benar terpisah – mereka menggunakan saraf yang berbeda, dan bahkan merangsang area otak yang berbeda. Bahkan didambakan “G-Spot”, daerah lain yang sensitif seksual pada wanita, terletak hanya ⅓ dari jalan ke dalam vagina. Terlepas dari ini, banyak survei perempuan menemukan bahwa mereka hampir tidak peduli dengan ukuran, sebagai laki-laki mungkin berpikir, dan preferensi bervariasi. Namun, penelitian pada laki-laki homoseksual telah menunjukkan bahwa mereka menganggap penis yang lebih besar sebagai ideal. Studi lain pada tahun 2013 benar-benar menemukan bahwa ukuran penis lembek juga dapat menjadi faktor utama dalam daya tarik laki-laki – bahkan sebelum kontak seksual. Yang mungkin tampak aneh mengingat kita memakai pakaian saat ini; tapi untuk nenek moyang kita, alat kelamin akan terlihat. Dalam studi tersebut, para wanita diminta untuk peringkat daya tarik laki-laki berdasarkan gambar yang dihasilkan komputer mencerminkan jenis tubuh yang berbeda dan ukuran penis. Dari ini, jelas bahwa tidak hanya lebih tinggi dan lebih banyak orang fit jauh lebih diinginkan, tapi ukuran penis lembek memainkan peran dalam tarik mereka dirasakan juga. Semakin besar penis, makin tinggi mereka dinilai. Tapi ada batasnya – penis lembek lebih besar dari sekitar 7,6 cm dan tarik mulai berkurang. Tampaknya penis dalam proporsi mungkin yang paling diinginkan. Setelah semua, lebih dari sifat berlebihan – bahkan yang berkaitan dengan daya tarik – sering dapat menjadi tanda dari masalah. Dan ternyata orang melekat penis membuat perbedaan juga – dengan hampir semua penelitian yang menunjukkan kepercayaan diri, kepribadian menyenangkan, dan tarik menjadi prediktor terbaik dari kepuasan seksual. Pada akhirnya, sedangkan ukuran tidak menjadi masalah dalam beberapa hal, lebih besar tidak selalu lebih baik! Hanya senang Anda tidak memiliki penis Bean Weevels. Kami memecah beberapa paling gila itu.