Bagaimana Brad Anderson Mengupas Rasa Bersalah Di Pikiran Manusia Melalui Film The Machinist

Seberapa besarkah dampak kesalahan di masa lalu terhadap kehidupan seseorang?

Trevor Reznik (diperankan oleh Christian Bale dengan sangat sangat sangat luar biasa) tampaknya sangat mengerti dengan hal itu. Ia hanyalah seorang mekanik mesin di sebuah pabrik yang menjalani kehidupan dengan biasa. Namun, yang membuatnya luar biasa dan membuat kamu berdecak kagum sekaligus ngeri adalah: tubuhnya yang kurus kering mengalahkan orang kurus mana pun yang pernah kamu temui!

Diceritakan bahwa Trevor mengalami insomnia parah yang membuatnya tidak tidur selama satu tahun. Hal itu tentu saja membuat kondisi mental dan fisiknya sangat terganggu. Apa lagi pekerjaannya sebagai mekanik mewajibkannya untuk tetap fokus saat berhadapan dengan mesin-mesin di pabrik. Kehidupannya yang biasa-biasa saja (datang kerja, pulang bercinta) mendadak terusik oleh orang misterius berbadan besar dan berkepala plontos yang tahu-tahu muncul di pabrik tempatnya bekerja. Semenjak kehadiran orang berkepala plontos tersebut, penonton perlahan-lahan disuguhi adegan-adegan membingungkan seputar teror yang tampaknya dilakukan oleh orang misterius itu. Namun, ternyata orang berkepala plontos itu adalah…

Film besutan Brad Anderson ini sedikit mengingatkan pada Fight Club, tetapi lebih kental dengan unsur misterinya dibandingkan dengan unsur ayo-semangat-mendobrak-kemapanan ala Tyler Durden. Kesampingkan pikiran kamu yang bertanya-tanya tentang bagaimana Christian Bale bisa sampai memiliki tubuh sekurus itu, film ini sebenarnya berusaha memberitahu bahwa lari dari masalah ternyata sama sekali tidak menyelesaikan masalah; rasa bersalah itu justru akan menumpuk selama berhari-hari dan berbulan-bulan sampai akhirnya ada titik dimana manusia tersebut tidak bisa membendung rasa bersalah yang dipendamnya dan pikirannya mulai mengambil alih untuk menghakimi dirinya sendiri.

Ini menggugah hati nurani kita untuk bertanya: apakah para penjahat di sekeliling kita bisa hidup tenang setelah melakukan kejahatan?

Seringkali kita menghakimi pelaku kejahatan yang wajahnya tersenyum bahagia di koran-koran lokal dan berharap mereka dihukum seberat-beratnya demi menghapus senyum bahagia di wajah mereka. Namun, apakah mereka benar-benar bahagia setelah melakukan kejahatan? Atau mereka hanya berusaha tampil biasa-biasa saja sambil tersenyum ceria, tetapi kenyataannya mereka dihakimi oleh rasa bersalah yang mereka perbuat sendiri?

Saya lebih setuju dengan poin kedua, bahwa meski seorang manusia bisa lari dari kejahatan yang ia perbuat, tidak ada satu pun manusia yang tidak tersiksa oleh pikirannya sendiri yang terus menerus mengatakan bahwa dirinya adalah penjahat. Ya, itu memang belum cukup untuk membebaskan penjahat itu dari lembaran hukum yang berlaku, tetapi setidaknya kita bisa berhenti menilai dan menghakimi orang lain karena toh mereka sudah terhakimi oleh pikiran mereka sendiri.

Jujur saja, setelah selesai menonton film ini saya jadi berpikir: jangan-jangan insomnia yang saya alami akhir-akhir ini karena saya ada berbuat kesalahan di masa lalu?

Bagaimana dengan kamu?

(Vladd Voltaire)