Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?

Jika saya ditanya, apakah rela jika Indonesia menjadi Biggest Islamic State in The World ? Jawaban resmi dari saya pribadi adalah :”Tidak mengapa, asalkan damai, toleran dan menjamin hak asasi manusia”. Jawaban ini bukan dalam konteks menggantikan ideologi pancasila dengan khilafah. Bukan itu maksud saya.

Bagi saya, ideologi bangsa adalah alat untuk mempersatukan setiap individu-individu dalam suatu bangsa untuk maju bersama mencapai tujuan yang ditentukan. Entah pancasila akan di-mix and match dengan sistem kepemerintahan dan hukum syariah, codex civil prancis, mau meniru tata kepemerintahan jepang, china, arab saudi atau USA, semua bisa dikondisikan. Toh, governance atau tata kelola kenegaraan dan kepemerintahan kita kebanyakan adalah adopsi dari negara lain. Termasuk jika menggunakan syariat islam. Yah, kecuali ideologi dasar pancasila, ini harga mati, demi pancasila ini, dahulu kala masyarakat indonesia mau disatukan menjadi satu negara bangsa. Continue reading “Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?”

Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia. Continue reading “Buntut Kemalasan”

How to Avoid Overcommitment

Bukan hal yang baru lagi kalau kita seringkali melihat orang-orang yang berkomitmen untuk berubah dan mereka menulis komitmennya di sosial media atau sekedar menjadi obrolan di warung kopi. Maka dari itu muncullah istilah January wish, February wish, March wish, dan wish-wish lainnya yang ora uwis-uwis. Semua itu merujuk pada harapan akan perubahan menuju ke arah hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun, tidak jarang orang-orang membuat komitmen yang berlebihan dalam mencapai tujuannya. Hasilnya? Tidak ada yang dilakukan. Cuma sebatas komitmen omong kosong doang tanpa ada kegiatan yang berarti. Continue reading “How to Avoid Overcommitment”

Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!

Kenapa kamu masih membuka artikel ini? Bukankah sudah ada peringatannya?

Baiklah baiklah, saya tentu hanya bercanda saja ketika menulis judul di atas. Kamu tidak akan tertimpa hal yang buruk bila membaca tulisan ini, barangkali nanti kamu hanya mengidap biang keringat selama setahun penuh. Itu saja kok. Continue reading “Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!”

Belum Ada Apa-apanya

Hargai diri anda sendiri!

Diri anda adalah investasi!!

Di tengah menjamurnya berbagai kelas kepribadian dan pengembangan diri terutama dalam hal percintaan di luar sana, banyak pria yang mengikuti kelas kelas kepribadian yang popular. Beberapa kelas kepribadian di luar sana akan menyuruh anda untuk mengutamakan diri anda sendiri.

Tidak ada masalah sama sekali dengan petuah ini. Saya tidak sama sekali sinis terhadap prinsip mengutamakan diri sendiri dibanding orang lain. Continue reading “Belum Ada Apa-apanya”

Konservatisme : Menyangkal Perubahan

Apa yang terjadi ketika generasi papah mamah kita melihat kemajuan teknologi informasi saat ini ? Tidak bisa dibayangkan, dulu informasi nyaris dimonopoli oleh televisi dan koran. Sekarang, laju berita hoax di akun sosial media kita nyaris secepat cahaya.

Anak kecil jangan diberi ponsel, kalau pesan makanan jangan via ojek online, kalau makan itu berdoa dulu bukan makanannya difoto, jangan ngomongin urusan orang di media sosial, dan lain sebagainya. Continue reading “Konservatisme : Menyangkal Perubahan”

Untuk Apa Memperbaiki Kekurangan?

Saya ini paling tidak berani mengendarai sepeda motor.

Bagi saya pribadi, kendaraan beroda dua itu ibarat pisau bermata dua; di satu sisi sangat menguntungkan karena mudah digunakan dan gesit di jalan raya, tetapi di sisi lain jumlah kematian akibat kecelakaan sepeda motor jauh lebih tinggi ketimbang kendaraan lain.

Namun, bukan berarti saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Kalau cuma seliweran di jalan kecil saja sih berani, tetapi kalau dibawa ke jalan raya… aduh.

Intinya, saya ini pengecut.

Terkadang saya mikir: Bagaimana nanti kalau saya sudah bekerja kantoran seperti orang-orang? Bukankah orang-orang kantoran sering bolak-balik di jalan raya? Satu-satunya kendaraan yang murah meriah, sedikit mewah dan memiliki mobilitas tinggi ya sepeda motor. Sepeda pancal pun tergolong murah meriah, tapi siapa sih yang mau siang-siang panas terik menggowes pedal? Saya yakin kamu pasti lebih mikir gengsi daripada efisiensi.

Selain itu bagaimana nanti kalau saya sudah punya pacar dan mesti mengajak pacar saya jalan-jalan ke kafe dan bioskop? Tidak mungkin kan kami berdua hanya mojok di kamar kost sambil main catur? Tentu kami harus keluar dan menikmati saat-saat berdua.

Halah.

Sampai sekarang saya tidak punya Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya merasa berbeda dengan orang lain yang sudah memiliki SIM, bahkan anak SMA saja sudah punya SIM. Apakah saya ini ditakdirkan jadi satu-satunya manusia di Indonesia yang tidak punya SIM meski usia sudah menginjak dua puluhan?

Semakin dipikir, semakin membingungkan. Jadi saya harus apa dong?

Anehnya kalau dipikir lebih lanjut, saya sama sekali tidak masalah dengan bisa atau tidaknya membawa sepeda motor ke jalan raya.

Keuntungannya ada banyak:

  1. Saya tidak perlu pusing delapan keliling dengan harga BBM yang melonjak. Walau itu berdampak dengan harga sembako yang juga ikut naik, tapi saya tidak perlu ditambah pusing ketika berada di pom bensin.
  2. Kulit saya tidak sehitam orang-orang yang seliweran di jalan raya. Mau bukti?
  3. Saya tidak perlu sarapan asap knalpot di pagi hari.
  4. Yang paling penting: saya bisa menabung untuk beli ini dan itu. Tidak seperti pengguna sepeda motor lainnya yang harus menyisihkan uang gajinya untuk sepeda motor kesayangannya. Uang tabungan tersebut saya gunakan untuk membeli buku dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan sepeda motor. Apakah saya bahagia? Pastinya.

Bukan berarti hal itu tidak ada kekurangannya. Salah satu yang menyakitkan adalah ketika saya harus ke tempat tertentu sedangkan hari sudah malam dan kendaraan umum sudah tidak beroperasi lagi. Saya merasa terhina karena sebagai laki-laki, saya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa selain bengong.

Tapi itu sebentar doang. Setelahnya biasa-biasa saja.

Justru karena saya tidak berani mengendarai sepeda motor di jalan raya, akhirnya itu mendesak saya untuk bekerja secara freelance, entah itu sebagai penulis atau editor lepas.

Tidak masalah. Saya cinta mati dengan pekerjaan sebagai penulis lepas.

Kenapa tidak? Penghasilan saya dari menulis untuk ini dan itu dalam sebulan setara dengan gaji karyawan kantoran pada umumnya. Ketika yang lainnya bertangis-tangis ria disembur atasan, saya bisa mengerjakan pekerjaan sambil baring-baring di kasur. Jumlah penghasilan sama, tapi nasib berbeda.

Bukan berarti menjadi karyawan kantor itu buruk, malah itu bagus karena kamu tidak perlu pusing dengan jumlah saldo tabungan di akhir bulan. Kalau dalam sebulan saya tidak bekerja, maka penghasilan saya langsung ambruk menjadi Rp 0,- sedangkan seorang karyawan tetap dapat gaji UMR meski dia hanya setengah-setengah dalam bekerja (saya bisa mendengar kamu berbisik: “Ah enggak jugaaaa”).

Kekurangan saya adalah tidak berani membawa sepeda motor ke jalan raya dan itu mendesak saya untuk lebih mengasah kelebihan saya sebagai penulis lepas. Saya tidak fokus ke kekurangan tersebut, tetapi saya lebih fokus kepada kelebihan saya. Ibaratnya ksatria pincang, untuk apa saya memperhatikan kaki saya yang cacat? Lebih baik saya menajamkan pedang dan memperkuat perisai, bukan? Logika yang sederhana.

Jikalau kamu memiliki kekurangan (dan kamu pasti punya), ada baiknya kamu bertanya ke diri kamu terlebih dahulu: apa kelebihan yang kamu miliki? Kalau sudah dapat jawabannya, maka jadikan kelebihan itu sebagai pedang dan perisai kamu. Kekurangan atau kelemahan memang sebaiknya tidak perlu diperbaiki, melainkan harus ditutupi dengan kelebihan atau keahlian yang kamu miliki. Satu-satunya kekurangan yang harus kamu perbaiki hanyalah kebodohan, selain itu ya tidak ada yang harus diperbaiki.

 

Vladd Voltaire

 

 

 

 

 

 

How Lucky Are You?

Sebelumnya saldo tabungan saya tidak pernah mencapai angka satu jutaan ke atas.

Sekarang setidaknya saya bisa mengangguk-anggukan kepala dengan puas; puas karena saldo tabungan saya yang tidak terlalu menyedihkan seperti tahun-tahun lalu dan puas karena terbebas dari rasa khawatir bakalan mati kelaparan.

Sungguh. Dulu saya paling takut dengan yang namanya mati kelaparan. Uang bulanan saya dulunya hanya sekitar Rp 300.000,- dan itu HARUS cukup selama sebulan. Teori matematika mana pun tidak bakal bisa membuat selisih antara uang segitu dengan biaya hidup sehari-hari. Continue reading “How Lucky Are You?”