Mengapa Banyak Yang Kelabakan Mencari Penulis?

Disadari atau tidak, selama ini sering terjadi diskriminasi terhadap cita-cita atau profesi. Ada profesi yang mendapat penghargaan tinggi, ada pula yang dilirik pun tidak. Profesi yang mendapat status sosial tinggi di antaranya: pegawai negeri sipil, polisi, tentara, bankir, dan guru. Sementara itu, profesi yang berhubungan dengan karya seni sering dipandang sebelah mata karena tidak menjanjikan kekayaan dan kehormatan. Makanya banyak orang berbondong-bondong masuk kuliah fakultas ekonomi dan politik hanya karena kedua fakultas tersebut menjanjikan pekerjaan yang layak di masa depan. Sebaliknya, fakultas yang berhubungan dengan sastra dan bahasa selalu sepi peminat. Orangtua mana pun pasti menginginkan anaknya bisa masuk ke fakultas yang tidak ada hubungannya dengan dunia kepenulisan. Penyebabnya ya karena itu tadi: pekerjaan penulis dianggap tidak menjanjikan secara materi. Continue reading “Mengapa Banyak Yang Kelabakan Mencari Penulis?”

Advertisements

Booklicious: Memahami Eksistensialisme Melalui Buku “Catatan Dari Bawah Tanah” Karya Fyodor Dostoyevski

Beberapa hari ini saya lagi suka mengunjungi Gramedia karena ada banyak karya sastra klasik dunia yang diterbitkan ulang oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Tentu saja hal ini membuat saya betah berjam-jam berdiri di depan rak-rak buku Gramedia. Mengapa saya sampai rela berdiri lama di situ? Karena uang saya tidak cukup buat membeli semua buku-buku tersebut. Itu jelas.

Saya sangat menyukai beberapa sastrawan klasik Rusia seperti Anton Chekhov, Leo Tolstoy, dan Fyodor Dostoyevski. Sebagian besar karya mereka cenderung bernuansa dark dan gloomy; mungkin disesuaikan dengan keadaan Rusia yang masih carut-marut di era sebelum dan sesudah pemerintahan Bolshevik. Seperti yang kita tahu, Rusia memiliki sejarah panjang nan kelam di masa lalu. Kalau begitu saja tidak tahu, maka sebaiknya Anda pikirkan kembali faedah kehidupan Anda selama ini.

Awalnya saya was-was saat membuka halaman pertama buku ini. Jelas saja saya was-was; sebagian besar buku terjemahan di Indonesia memiliki susunan kata dan tanda baca yang berantakan. Robert Langdon mungkin bakalan kebingungan ketika membaca buku-buku terjemahan di Indonesia. Saya tidak mau kehilangan uang Rp 60.000 dengan sia-sia hanya karena membeli buku yang terjemahannya berantakan seperti gorengan pinggir jalan. Continue reading “Booklicious: Memahami Eksistensialisme Melalui Buku “Catatan Dari Bawah Tanah” Karya Fyodor Dostoyevski”

Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?

Jika saya ditanya, apakah rela jika Indonesia menjadi Biggest Islamic State in The World ? Jawaban resmi dari saya pribadi adalah :”Tidak mengapa, asalkan damai, toleran dan menjamin hak asasi manusia”. Jawaban ini bukan dalam konteks menggantikan ideologi pancasila dengan khilafah. Bukan itu maksud saya.

Bagi saya, ideologi bangsa adalah alat untuk mempersatukan setiap individu-individu dalam suatu bangsa untuk maju bersama mencapai tujuan yang ditentukan. Entah pancasila akan di-mix and match dengan sistem kepemerintahan dan hukum syariah, codex civil prancis, mau meniru tata kepemerintahan jepang, china, arab saudi atau USA, semua bisa dikondisikan. Toh, governance atau tata kelola kenegaraan dan kepemerintahan kita kebanyakan adalah adopsi dari negara lain. Termasuk jika menggunakan syariat islam. Yah, kecuali ideologi dasar pancasila, ini harga mati, demi pancasila ini, dahulu kala masyarakat indonesia mau disatukan menjadi satu negara bangsa. Continue reading “Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?”

Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia. Continue reading “Buntut Kemalasan”

How to Avoid Overcommitment

Bukan hal yang baru lagi kalau kita seringkali melihat orang-orang yang berkomitmen untuk berubah dan mereka menulis komitmennya di sosial media atau sekedar menjadi obrolan di warung kopi. Maka dari itu muncullah istilah January wish, February wish, March wish, dan wish-wish lainnya yang ora uwis-uwis. Semua itu merujuk pada harapan akan perubahan menuju ke arah hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun, tidak jarang orang-orang membuat komitmen yang berlebihan dalam mencapai tujuannya. Hasilnya? Tidak ada yang dilakukan. Cuma sebatas komitmen omong kosong doang tanpa ada kegiatan yang berarti. Continue reading “How to Avoid Overcommitment”

Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!

Kenapa kamu masih membuka artikel ini? Bukankah sudah ada peringatannya?

Baiklah baiklah, saya tentu hanya bercanda saja ketika menulis judul di atas. Kamu tidak akan tertimpa hal yang buruk bila membaca tulisan ini, barangkali nanti kamu hanya mengidap biang keringat selama setahun penuh. Itu saja kok. Continue reading “Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!”

Belum Ada Apa-apanya

Hargai diri anda sendiri!

Diri anda adalah investasi!!

Di tengah menjamurnya berbagai kelas kepribadian dan pengembangan diri terutama dalam hal percintaan di luar sana, banyak pria yang mengikuti kelas kelas kepribadian yang popular. Beberapa kelas kepribadian di luar sana akan menyuruh anda untuk mengutamakan diri anda sendiri.

Tidak ada masalah sama sekali dengan petuah ini. Saya tidak sama sekali sinis terhadap prinsip mengutamakan diri sendiri dibanding orang lain. Continue reading “Belum Ada Apa-apanya”