Kecewalah! Sebelum Kecewa Itu Diketawai.

Marry you will regret it; dont marry, you will also regret it. Marry or dont marry you will regret it either way.  Laugh at the world’s foolishness, you will regret it. Weep over it, you will also regret it. Hang yourself, you will regret it; dont hang yourself you will regret that too. Wether you hang yourself or dont hang yourself, you will regret both. This, gentleman, is the essence of philosophy.

Ucapan putus asa penuh kecemasan dari Bapak Eksistensialis Søren Aabye Kierkegaard yang dapat diartikan sebagai berikut :

Continue reading “Kecewalah! Sebelum Kecewa Itu Diketawai.”

Advertisements

Kenapa why selalu always?

Entah siapa yang mempopulerkan pertanyaan di atas. Pertanyaan yang memilliki bahasa campuran yang unik dan mengandung pola yang berulang. Kalimat tanya yang terdiri dari 4 kata yang dimana kata pertama dan kedua memiliki arti yang sama, itu juga berlaku untuk kata ketiga dan keempat. Jika diucapkan secara lisan akan membuat seolah-olah kalimat tanya yang memiliki makna tersirat. Padahal, mungkin saja kalimat tanya tersebut tidak memiliki makna apapun. Hanya saja, manusia suka mencari makna dibalik kata-kata, simbol, tulisan, pemikiran, sikap dan eksistensi diri. Pencarian yang membutuhkan waktu sebanding dengan keberadaan manusia itu sendiri. Karena alasan itulah artikel ini dibuat. Mencari makna dari sesuatu yang tidak bermakna. Bingung? Sama, saya juga. Mari kita mulai dari pola kalimatnya terlebih dahulu, bagaimana jika kalimat tersebut diubah menjadi kenapa (saya) selalu (gagal)?  Atau kenapa (harus) selalu (saya)? Kalimat tanya tersebut telah berubah tapi tetap saja menjadi kalimat retoris. Kenapa masih menjadi kalimat retoris?

Filsuf pada abad ke-18, Nietzsche menuangkan gagasan pemikirannya mengenai rasa sakit dengan cukup mengesankan. Menurutnya, mengalami rasa sakit adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi . Nietzsche menafsirkan rasa sakit sebagai saat yang tepat untuk memaksimalkan potensi manusia dalam menghasilkan suatu karya. Walaupun karya-karya Nietzsche bertentangan dengan fanatisme terhadap agama yang terjadi pada zamannya, tetapi tetap saja menjadi inspirasi bagi seniman-seniman abad ke-20. Kritiknya terhadap euforia masyarakat yang berlebihan tanpa bersikap realistis dan memandang bahwa realita bukanlah sesuatu yang perlu diterima apa adanya membuatnya menjadi sosok yang kontroversial. Lalu apa hubungannya? Jadi begini. Jika merujuk kepada kalimat tanya seperti yang sudah diubah di atas, maka kalimat tanya tersebut menanyakan tentang akibat dari sesuatu yang tidak berjalan sesuai ekspektasi. Kegagalan, kemalangan, kesedihan, jika dibiarkan terus menerus menari di dalam kepala akan cenderung menjadi sikap mengasihani diri atau self pity. Self pity adalah kondisi dimana individu yang merasakan pikiran negatif dan perasaan tidak adil secara berulang-ulang sehingga mengakibatkan rasa iri terhadap orang lain yang terlihat lebih bahagia dari dirinya. Membandingkan kebahagiaan bukanlah suatu pilihan tepat jika sedang merasa tidak bahagia. Analoginya seperti menyiram bensin di tengah kobaran api. Alih-alih memadamkannya, justru hal tersebut malah membuat api semakin membesar. Apa yang harus dilakukan agar self pity tidak mempengaruhi aktifitasmu? Stop doing that. Cari tau hal apa saja yang bisa memicu self pity muncul, lalu lakukan tindakan preventif. Jangan biarkan orang lain mengendalikan kebahagiaan anda. Kesadaran bahwa banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada mengasihani diri juga diperlukan, contohnya seperti duduk di pinggir jalan sambil menghitung jumlah mobil biru yang lewat :).

Jadi, apa jawaban dari pertanyaan kenapa why selalu always? karena because tidak pernah never.

 

 

Smartbiscuits

Mengapa Banyak Yang Kelabakan Mencari Penulis?

Disadari atau tidak, selama ini sering terjadi diskriminasi terhadap cita-cita atau profesi. Ada profesi yang mendapat penghargaan tinggi, ada pula yang dilirik pun tidak. Profesi yang mendapat status sosial tinggi di antaranya: pegawai negeri sipil, polisi, tentara, bankir, dan guru. Sementara itu, profesi yang berhubungan dengan karya seni sering dipandang sebelah mata karena tidak menjanjikan kekayaan dan kehormatan. Makanya banyak orang berbondong-bondong masuk kuliah fakultas ekonomi dan politik hanya karena kedua fakultas tersebut menjanjikan pekerjaan yang layak di masa depan. Sebaliknya, fakultas yang berhubungan dengan sastra dan bahasa selalu sepi peminat. Orangtua mana pun pasti menginginkan anaknya bisa masuk ke fakultas yang tidak ada hubungannya dengan dunia kepenulisan. Penyebabnya ya karena itu tadi: pekerjaan penulis dianggap tidak menjanjikan secara materi. Continue reading “Mengapa Banyak Yang Kelabakan Mencari Penulis?”

Booklicious: Memahami Eksistensialisme Melalui Buku “Catatan Dari Bawah Tanah” Karya Fyodor Dostoyevski

Beberapa hari ini saya lagi suka mengunjungi Gramedia karena ada banyak karya sastra klasik dunia yang diterbitkan ulang oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Tentu saja hal ini membuat saya betah berjam-jam berdiri di depan rak-rak buku Gramedia. Mengapa saya sampai rela berdiri lama di situ? Karena uang saya tidak cukup buat membeli semua buku-buku tersebut. Itu jelas.

Saya sangat menyukai beberapa sastrawan klasik Rusia seperti Anton Chekhov, Leo Tolstoy, dan Fyodor Dostoyevski. Sebagian besar karya mereka cenderung bernuansa dark dan gloomy; mungkin disesuaikan dengan keadaan Rusia yang masih carut-marut di era sebelum dan sesudah pemerintahan Bolshevik. Seperti yang kita tahu, Rusia memiliki sejarah panjang nan kelam di masa lalu. Kalau begitu saja tidak tahu, maka sebaiknya Anda pikirkan kembali faedah kehidupan Anda selama ini.

Awalnya saya was-was saat membuka halaman pertama buku ini. Jelas saja saya was-was; sebagian besar buku terjemahan di Indonesia memiliki susunan kata dan tanda baca yang berantakan. Robert Langdon mungkin bakalan kebingungan ketika membaca buku-buku terjemahan di Indonesia. Saya tidak mau kehilangan uang Rp 60.000 dengan sia-sia hanya karena membeli buku yang terjemahannya berantakan seperti gorengan pinggir jalan. Continue reading “Booklicious: Memahami Eksistensialisme Melalui Buku “Catatan Dari Bawah Tanah” Karya Fyodor Dostoyevski”

Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?

Jika saya ditanya, apakah rela jika Indonesia menjadi Biggest Islamic State in The World ? Jawaban resmi dari saya pribadi adalah :”Tidak mengapa, asalkan damai, toleran dan menjamin hak asasi manusia”. Jawaban ini bukan dalam konteks menggantikan ideologi pancasila dengan khilafah. Bukan itu maksud saya.

Bagi saya, ideologi bangsa adalah alat untuk mempersatukan setiap individu-individu dalam suatu bangsa untuk maju bersama mencapai tujuan yang ditentukan. Entah pancasila akan di-mix and match dengan sistem kepemerintahan dan hukum syariah, codex civil prancis, mau meniru tata kepemerintahan jepang, china, arab saudi atau USA, semua bisa dikondisikan. Toh, governance atau tata kelola kenegaraan dan kepemerintahan kita kebanyakan adalah adopsi dari negara lain. Termasuk jika menggunakan syariat islam. Yah, kecuali ideologi dasar pancasila, ini harga mati, demi pancasila ini, dahulu kala masyarakat indonesia mau disatukan menjadi satu negara bangsa. Continue reading “Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?”

Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia. Continue reading “Buntut Kemalasan”

How to Avoid Overcommitment

Bukan hal yang baru lagi kalau kita seringkali melihat orang-orang yang berkomitmen untuk berubah dan mereka menulis komitmennya di sosial media atau sekedar menjadi obrolan di warung kopi. Maka dari itu muncullah istilah January wish, February wish, March wish, dan wish-wish lainnya yang ora uwis-uwis. Semua itu merujuk pada harapan akan perubahan menuju ke arah hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun, tidak jarang orang-orang membuat komitmen yang berlebihan dalam mencapai tujuannya. Hasilnya? Tidak ada yang dilakukan. Cuma sebatas komitmen omong kosong doang tanpa ada kegiatan yang berarti. Continue reading “How to Avoid Overcommitment”

Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!

Kenapa kamu masih membuka artikel ini? Bukankah sudah ada peringatannya?

Baiklah baiklah, saya tentu hanya bercanda saja ketika menulis judul di atas. Kamu tidak akan tertimpa hal yang buruk bila membaca tulisan ini, barangkali nanti kamu hanya mengidap biang keringat selama setahun penuh. Itu saja kok. Continue reading “Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!”