Deal With It, Motherfucker!

Buddha pernah berkata: “Hidup adalah menderita dan penderitaan itu terjadi karena ketidaktahuan manusia akan kebenaran yang hakiki.”

Bagi saya pribadi yang hidupnya selalu terlunta-lunta dari satu masalah ke masalah yang lainnnya, kata-kata Buddha itu sungguh tepat adanya. Continue reading “Deal With It, Motherfucker!”

Advertisements

Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia. Continue reading “Buntut Kemalasan”

Deadly Silence (Part.2)

(Kamu bisa membaca artikel sebelumnya di sini: Deadly Silence (Part.1))

Fuck. Fuck. Fuck.

Tiga kata itu adalah pembuka yang tepat bagi hari-hari saya yang baru. Setelah ibu tiada, entah mengapa saya merasa jauh lebih powerfull dari sebelumnya; seakan-akan saya kini bisa mengakses bagian lain dari otak saya yang sebelumnya jarang digunakan.

Saya sudah pernah merasakan berbagai macam kehilangan; ditinggal pergi kekasih sudah saya alami berkali-kali, ditinggal pergi oleh kawan-kawan yang satu per satu menghilang atau meninggal dunia juga sudah sering saya rasakan, tetapi kehilangan ibu yang saya cintai benar-benar merupakan tamparan maha keras.

Kematian ibu saya tersebut menjadi semacam alarm wake up yang membangunkan saya kalau selama ini jalan yang saya ambil itu sama sekali tidak berguna.

Bagaimana tidak?

Dulu saya berpikir kalau dengan bekerja keras maka itu bisa membantu keluarga saya. Pikiran saya didogma oleh kaum kapitalis abal-abal yang terus bersuara “Kerja! Kerja! Kerja!” sehingga saya terpacu untuk terus bekerja sehingga mengesampingkan keluarga.

Namun, sekarang saya paham bahwa yang benar adalah “Keluarga! Kerja! Keluarga!” mau bagaimana pun keluarga adalah nomor satu. Hendak kemana tubuh ini pulang dan beristirahat kalau bukan di rumah bersama keluarga? Saya tidak mungkin beristirahat di tempat kerja yang mana justru malah membuat saya ingin terus bekerja.

Itu adalah hal pertama yang saya pelajari.

Yang kedua adalah saya dulu lebih banyak diam ketimbang melawan.

Saya adalah tipikal yang malas berdebat apalagi mengkritik. Bodohnya lagi, ketika semua rekan-rekan kerja tidak bisa menggantikan pekerjaan saya, bukannya melawan, saya malah mengalah! Padahal pada posisi itu, saya seharusnya bisa menganggap masa bodoh dengan pekerjaan dan langsung segera pulang ke Balikpapan. Namun, kenyataannya apa?

Saya cuma diam.

Saya seperti sampah, bukan?

Dan itu membuat saya gila.

Ya, benar-benar gila.

Saya benci diri saya yang hanya diam mematung. Saya benci diri saya yang suka mengalah. Saya benci diri saya yang membiarkan orang lain merebut kebebasan saya. Saya benci diri saya yang lemah.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkhianati diri saya sendiri.

Benar sekali. Saya berkhianat…

…dengan cara membunuh kepribadian saya di masa lalu.

Dan itu membutuhkan waktu yang berbulan-bulan lamanya. Membunuh seseorang yang bercokol di kepala itu sulit karena dia tidak memiliki tubuh fisik yang bisa dibunuh. Satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan memaksa diri ini bertindak kebalikan dari apa yang dia suarakan. Kalau dia bersuara “Jangan melawan!” maka itu tandanya harus melawan. Kalau dia bersuara “Mengalah saja!” berarti jangan mengalah. Terdengar mudah? Memang. Namun konflik batin itu terus bergelung-gelung di kepala selama berhari-hari sampai saya sempat mengalami insomnia parah.

Kejadian itu terus berlangsung hingga akhirnya…

Tidak ada lagi Vladd Voltaire yang baik hati dan mengalah. Tepatnya dia menghilang pada tanggal berapa, saya tidak ingat. Barangkali dia mati? Saya doakan dia bisa beristirahat dengan damai di dalam limbo yang tak berujung.

Hasilnya, saya menjadi lebih blak-blakan dari sebelumnya.

Tidak suka sama orang? Ngomong saja langsung di depan mukanya. Orang-orang tidak memberikan kesempatan berbicara? Geprak saja meja. Keputusan orang lain sama sekali tidak menguntungkan? Keluar saja. Ada yang marah-marah karena tidak suka dengan saya? Suruh saja datangi saya. Tidak apa-apa kalau nantinya berujung pada perkelahian atau mungkin… kematian.

Anehnya, saya sama sekali tidak merasa ketakutan melakukan itu. Benar-benar fearless.

Benar kata Tyler Durden, “It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything!

Apakah saya otomatis menjadi orang yang mengesalkan? Jelas.

Saya akui kalau diri ini semakin sering membuat orang lain jengkel dan musuh terus bertambah setiap waktu, tetapi hei! Bukankah itu jauh lebih baik daripada memiliki banyak teman yang di setiap sudut bibirnya hanya ada kepalsuan?

Setiap manusia menciptakan self-defense di pikirannya masing-masing ketika dirinya pernah tertimpa masalah berat. Begitu pula dengan pikiran saya; dia mengeluarkan semua apa yang dikandungnya selama ini: diri saya yang pemarah dan tidak segan-segan menampar balik bila ditampar duluan.

Saya percaya bahwa setiap manusia (bahkan kamu) akan mengalami turning point-nya sendiri. Itu bisa berarti kamu harus menghadapi sebuah bencana besar yang bisa muncul kapan saja. Turnng point itu sendiri bisa berbagai macam bentuknya. Mungkin kamu suatu saat bisa dtinggal oleh kekasih kamu sehingga kamu memutuskan untuk berubah. Mungkin nanti kamu akan mengalami kebangkrutan sampai-sampai tidak ada yang bisa jadikan pijakan selain kedua kaki kamu sendiri. Atau… bisa jadi kamu akan mengalami apa yang telah saya alami: overworking, dianggap remeh oleh rekan kerja, tidak sempat menghabiskan waktu bersama keluarga, dan ditinggal mati oleh orangtua. Tidak ada yang tahu.

Kalau di pikiran kamu sudah muncul sensasi ingin memberontak, itulah turning point kamu. Bila itu terjadi, JANGAN DIAM SAJA! Suarakan keberanian kamu! Kalau kamu tidak setuju dengan pendapat atau tindakan orang lain, lawan balik! Persetan dengan hidup damai karena hidup damai hanya ada di buku menggambar anak TK! Kedamaian hanyalah topeng palsu untuk menutupi kenyataan yang bobrok.

Namun, kalau kamu ingin diam saja ketika diinjak orang lain, itu terserah kamu sih. Barangkali kamu memang berbakat menjadi keset lantai.

 

Vladd Voltaire

 

Bagaimana Cerdas Memilih Pemimpin dalam Pemerintahan ?

Saya rasa semua setuju, ketika beberapa manusia mulai berkolaborasi untuk MENCAPAI SUATU TUJUAN, maka perlu ditunjuk seorang pemimpin. Tugas pemimpin adalah menyatukan isi otak setiap anggota dan memutuskan segala rencana dan tindakan hingga mencapai tujuan. Tidak perlu mengikuti sekolah bisnis untuk mengerti dasar-dasar kepemimpinan seperti demikian. Continue reading “Bagaimana Cerdas Memilih Pemimpin dalam Pemerintahan ?”

Wahai Kaum Intelektual, Mohon Berbicaralah!

Membaca berita di sosial media adalah kegiatan rutin saya setiap hari. Lupakan koran dan televisi karena berita di sosial media maupun di situs berita seringkali lebih cepat dan lebih up to date ketimbang media-media jadul lainnya.

Namun, yang membuat saya kesal, berita-berita yang disiarkan seringkali menjurus ke kebodohan-bodohan individu atau organisasi. Misalnya berita tentang sekelompok organisasi agama tertentu yang menyuarakan kebencian terhadap komunis, China, atau malah gabungan dari keduanya. Malah beberapa individu terang-terangan mengancam bakalan membunuh orang yang dianggap kafir dan tidak sepaham dengan mereka.

What the fuck? Continue reading “Wahai Kaum Intelektual, Mohon Berbicaralah!”

Eh, Stop! Pungut Dulu Sampah Di Lantai Sebelum Membaca Ini!

Seperti pada hari-hari biasanya, saya mengunjungi kantin di kampus untuk sekedar bersantai berbincang-bincang dengan kawan-kawan seperjuangan yang entah kapan wisudanya. Ada beberapa alasan mengapa saya sering mengunjungi kantin kampus ketimbang tempat-tempat ngopi lain seperti kafe atau sebangsanya. Selain banyak mahasiswi-mahasiswi manis yang berseliweran tanpa henti, kantin kampus adalah tempat berkumpulnya berbagai macam manusia dari segala jenis suku, wajah dan sifat. Itu membuat saya betah berlama-lama di kantin kampus karena isinya yang dinamis. Continue reading “Eh, Stop! Pungut Dulu Sampah Di Lantai Sebelum Membaca Ini!”

Bekerja Mati-matian Tetapi Masih Miskin? Jangan-jangan Kamu…

Kerja dua puluh jam sehari. Berangkat ke kantor pukul tujuh pagi, bertemu macet, lalu pulang pukul sembilan malam, eh bertemu macet juga. Di kantor pun telinga jadi merah karena dibenta-bentak atasan. Namun, kamu tetap bersabar sambil bergumam, “Ah biarlah ini menjadi pengorbananku atas nama kapitalisme.”

Lalu hari gajian pun tiba. Angka nol di saldo kamu bertambah satu digit. Kamu tersenyum senang. Kamu berencana membayar segala macam tagihan dulu, baru setelah itu kamu bisa berbelanja apa pun yang kamu mau. Continue reading “Bekerja Mati-matian Tetapi Masih Miskin? Jangan-jangan Kamu…”

7 Deadly Sins of Delusions: Ketenaran

Siapa kamu?

Merupakan sebuah pertanyaan filsafat yang paling mendasar mengenai kehidupan manusia. Anehnya meski orang-orang sudah menanyakan pertanyaan ini kepada Sokrates sekitar 470 tahun sebelum Masehi, sampai sekarang belum ada satu pun yang mampu menjelaskan siapa diri mereka yang sesungguhnya. Continue reading “7 Deadly Sins of Delusions: Ketenaran”

Masa depan konsep kepemimpinan

Kepemimpinan adalah praktik umum di suatu organisasi yang coba dibedah dan dikonsepkan agar bisa dibahas. Urgensinya sangat penting untuk menciptakan koordinasi tim, pemanfaatan sumber daya bersama dan pencapaian tujuan. Peran pemimpin  yang terpenting adalah peran mengambil keputusan. Karena memimpin manusia, yang lebih mengedepankan emosi, tentunya perlu ditambah peran mempengaruhi orang dan peran membangun hubungan antar anggota.

Continue reading “Masa depan konsep kepemimpinan”

Mengapa kita tidak telanjang saja ?

Instagram, bigo.live, nono.live dan beetalk adalah salah satu media sosial yang menerapkan kebijakan restriktif terhadap konten bugil. Sedikit saja ada laporan user bahwa anda sedang mengumbar aurat, admin komunitas akan segera memblokir bahkan menutup akun anda. Facebook, Google+ dan twitter juga melakukan hal yang sama, meskipun kebijakannya tidak seketat instagram dan BIGO.

Mengapa kita tidak boleh telanjang di media sosial ? Continue reading “Mengapa kita tidak telanjang saja ?”