Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia. Continue reading “Buntut Kemalasan”

Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!

Kenapa kamu masih membuka artikel ini? Bukankah sudah ada peringatannya?

Baiklah baiklah, saya tentu hanya bercanda saja ketika menulis judul di atas. Kamu tidak akan tertimpa hal yang buruk bila membaca tulisan ini, barangkali nanti kamu hanya mengidap biang keringat selama setahun penuh. Itu saja kok. Continue reading “Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!”

Untuk Apa Memperbaiki Kekurangan?

Saya ini paling tidak berani mengendarai sepeda motor.

Bagi saya pribadi, kendaraan beroda dua itu ibarat pisau bermata dua; di satu sisi sangat menguntungkan karena mudah digunakan dan gesit di jalan raya, tetapi di sisi lain jumlah kematian akibat kecelakaan sepeda motor jauh lebih tinggi ketimbang kendaraan lain.

Namun, bukan berarti saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Kalau cuma seliweran di jalan kecil saja sih berani, tetapi kalau dibawa ke jalan raya… aduh.

Intinya, saya ini pengecut.

Terkadang saya mikir: Bagaimana nanti kalau saya sudah bekerja kantoran seperti orang-orang? Bukankah orang-orang kantoran sering bolak-balik di jalan raya? Satu-satunya kendaraan yang murah meriah, sedikit mewah dan memiliki mobilitas tinggi ya sepeda motor. Sepeda pancal pun tergolong murah meriah, tapi siapa sih yang mau siang-siang panas terik menggowes pedal? Saya yakin kamu pasti lebih mikir gengsi daripada efisiensi.

Selain itu bagaimana nanti kalau saya sudah punya pacar dan mesti mengajak pacar saya jalan-jalan ke kafe dan bioskop? Tidak mungkin kan kami berdua hanya mojok di kamar kost sambil main catur? Tentu kami harus keluar dan menikmati saat-saat berdua.

Halah.

Sampai sekarang saya tidak punya Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya merasa berbeda dengan orang lain yang sudah memiliki SIM, bahkan anak SMA saja sudah punya SIM. Apakah saya ini ditakdirkan jadi satu-satunya manusia di Indonesia yang tidak punya SIM meski usia sudah menginjak dua puluhan?

Semakin dipikir, semakin membingungkan. Jadi saya harus apa dong?

Anehnya kalau dipikir lebih lanjut, saya sama sekali tidak masalah dengan bisa atau tidaknya membawa sepeda motor ke jalan raya.

Keuntungannya ada banyak:

  1. Saya tidak perlu pusing delapan keliling dengan harga BBM yang melonjak. Walau itu berdampak dengan harga sembako yang juga ikut naik, tapi saya tidak perlu ditambah pusing ketika berada di pom bensin.
  2. Kulit saya tidak sehitam orang-orang yang seliweran di jalan raya. Mau bukti?
  3. Saya tidak perlu sarapan asap knalpot di pagi hari.
  4. Yang paling penting: saya bisa menabung untuk beli ini dan itu. Tidak seperti pengguna sepeda motor lainnya yang harus menyisihkan uang gajinya untuk sepeda motor kesayangannya. Uang tabungan tersebut saya gunakan untuk membeli buku dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan sepeda motor. Apakah saya bahagia? Pastinya.

Bukan berarti hal itu tidak ada kekurangannya. Salah satu yang menyakitkan adalah ketika saya harus ke tempat tertentu sedangkan hari sudah malam dan kendaraan umum sudah tidak beroperasi lagi. Saya merasa terhina karena sebagai laki-laki, saya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa selain bengong.

Tapi itu sebentar doang. Setelahnya biasa-biasa saja.

Justru karena saya tidak berani mengendarai sepeda motor di jalan raya, akhirnya itu mendesak saya untuk bekerja secara freelance, entah itu sebagai penulis atau editor lepas.

Tidak masalah. Saya cinta mati dengan pekerjaan sebagai penulis lepas.

Kenapa tidak? Penghasilan saya dari menulis untuk ini dan itu dalam sebulan setara dengan gaji karyawan kantoran pada umumnya. Ketika yang lainnya bertangis-tangis ria disembur atasan, saya bisa mengerjakan pekerjaan sambil baring-baring di kasur. Jumlah penghasilan sama, tapi nasib berbeda.

Bukan berarti menjadi karyawan kantor itu buruk, malah itu bagus karena kamu tidak perlu pusing dengan jumlah saldo tabungan di akhir bulan. Kalau dalam sebulan saya tidak bekerja, maka penghasilan saya langsung ambruk menjadi Rp 0,- sedangkan seorang karyawan tetap dapat gaji UMR meski dia hanya setengah-setengah dalam bekerja (saya bisa mendengar kamu berbisik: “Ah enggak jugaaaa”).

Kekurangan saya adalah tidak berani membawa sepeda motor ke jalan raya dan itu mendesak saya untuk lebih mengasah kelebihan saya sebagai penulis lepas. Saya tidak fokus ke kekurangan tersebut, tetapi saya lebih fokus kepada kelebihan saya. Ibaratnya ksatria pincang, untuk apa saya memperhatikan kaki saya yang cacat? Lebih baik saya menajamkan pedang dan memperkuat perisai, bukan? Logika yang sederhana.

Jikalau kamu memiliki kekurangan (dan kamu pasti punya), ada baiknya kamu bertanya ke diri kamu terlebih dahulu: apa kelebihan yang kamu miliki? Kalau sudah dapat jawabannya, maka jadikan kelebihan itu sebagai pedang dan perisai kamu. Kekurangan atau kelemahan memang sebaiknya tidak perlu diperbaiki, melainkan harus ditutupi dengan kelebihan atau keahlian yang kamu miliki. Satu-satunya kekurangan yang harus kamu perbaiki hanyalah kebodohan, selain itu ya tidak ada yang harus diperbaiki.

 

Vladd Voltaire

 

 

 

 

 

 

How Lucky Are You?

Sebelumnya saldo tabungan saya tidak pernah mencapai angka satu jutaan ke atas.

Sekarang setidaknya saya bisa mengangguk-anggukan kepala dengan puas; puas karena saldo tabungan saya yang tidak terlalu menyedihkan seperti tahun-tahun lalu dan puas karena terbebas dari rasa khawatir bakalan mati kelaparan.

Sungguh. Dulu saya paling takut dengan yang namanya mati kelaparan. Uang bulanan saya dulunya hanya sekitar Rp 300.000,- dan itu HARUS cukup selama sebulan. Teori matematika mana pun tidak bakal bisa membuat selisih antara uang segitu dengan biaya hidup sehari-hari. Continue reading “How Lucky Are You?”

Kutukan Kesibukan

Bangun jam delapan pagi. Berangkat kerja. Menghadapi macetnya ibu kota. Bercapek-capek ria di dalam ruangan bernama kantor selama berjam-jam. Pulang kerja. Ketemu kemacetan lagi. Sampai rumah langsung tidur. Besoknya, bangun lagi jam delapan. Ulangi lagi dan seterusnya.

Iya, saya paham betapa sibuknya diri ini ketika usia sudah beranjak dewasa. Dituntut mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar ini itu dan tagihan ini itu. Jangankan menyempatkan waktu untuk mengumpul bersama kawan-kawan yang lain, menyempatkan diri untuk sekedar membaca saja sudah nyari tidak mungkin. Waktu dua puluh empat jam rasanya tidak cukup untuk keseluruhan hidup saya. Saya butuh waktu tambahan dua puluh lima jam atau mungkin tiga puluh jam sehari supaya saya bisa beristirahat dan punya waktu untuk bersenang-senang. Continue reading “Kutukan Kesibukan”

Deadly Silence (Part.2)

(Kamu bisa membaca artikel sebelumnya di sini: Deadly Silence (Part.1))

Fuck. Fuck. Fuck.

Tiga kata itu adalah pembuka yang tepat bagi hari-hari saya yang baru. Setelah ibu tiada, entah mengapa saya merasa jauh lebih powerfull dari sebelumnya; seakan-akan saya kini bisa mengakses bagian lain dari otak saya yang sebelumnya jarang digunakan.

Saya sudah pernah merasakan berbagai macam kehilangan; ditinggal pergi kekasih sudah saya alami berkali-kali, ditinggal pergi oleh kawan-kawan yang satu per satu menghilang atau meninggal dunia juga sudah sering saya rasakan, tetapi kehilangan ibu yang saya cintai benar-benar merupakan tamparan maha keras.

Kematian ibu saya tersebut menjadi semacam alarm wake up yang membangunkan saya kalau selama ini jalan yang saya ambil itu sama sekali tidak berguna.

Bagaimana tidak?

Dulu saya berpikir kalau dengan bekerja keras maka itu bisa membantu keluarga saya. Pikiran saya didogma oleh kaum kapitalis abal-abal yang terus bersuara “Kerja! Kerja! Kerja!” sehingga saya terpacu untuk terus bekerja sehingga mengesampingkan keluarga.

Namun, sekarang saya paham bahwa yang benar adalah “Keluarga! Kerja! Keluarga!” mau bagaimana pun keluarga adalah nomor satu. Hendak kemana tubuh ini pulang dan beristirahat kalau bukan di rumah bersama keluarga? Saya tidak mungkin beristirahat di tempat kerja yang mana justru malah membuat saya ingin terus bekerja.

Itu adalah hal pertama yang saya pelajari.

Yang kedua adalah saya dulu lebih banyak diam ketimbang melawan.

Saya adalah tipikal yang malas berdebat apalagi mengkritik. Bodohnya lagi, ketika semua rekan-rekan kerja tidak bisa menggantikan pekerjaan saya, bukannya melawan, saya malah mengalah! Padahal pada posisi itu, saya seharusnya bisa menganggap masa bodoh dengan pekerjaan dan langsung segera pulang ke Balikpapan. Namun, kenyataannya apa?

Saya cuma diam.

Saya seperti sampah, bukan?

Dan itu membuat saya gila.

Ya, benar-benar gila.

Saya benci diri saya yang hanya diam mematung. Saya benci diri saya yang suka mengalah. Saya benci diri saya yang membiarkan orang lain merebut kebebasan saya. Saya benci diri saya yang lemah.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkhianati diri saya sendiri.

Benar sekali. Saya berkhianat…

…dengan cara membunuh kepribadian saya di masa lalu.

Dan itu membutuhkan waktu yang berbulan-bulan lamanya. Membunuh seseorang yang bercokol di kepala itu sulit karena dia tidak memiliki tubuh fisik yang bisa dibunuh. Satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan memaksa diri ini bertindak kebalikan dari apa yang dia suarakan. Kalau dia bersuara “Jangan melawan!” maka itu tandanya harus melawan. Kalau dia bersuara “Mengalah saja!” berarti jangan mengalah. Terdengar mudah? Memang. Namun konflik batin itu terus bergelung-gelung di kepala selama berhari-hari sampai saya sempat mengalami insomnia parah.

Kejadian itu terus berlangsung hingga akhirnya…

Tidak ada lagi Vladd Voltaire yang baik hati dan mengalah. Tepatnya dia menghilang pada tanggal berapa, saya tidak ingat. Barangkali dia mati? Saya doakan dia bisa beristirahat dengan damai di dalam limbo yang tak berujung.

Hasilnya, saya menjadi lebih blak-blakan dari sebelumnya.

Tidak suka sama orang? Ngomong saja langsung di depan mukanya. Orang-orang tidak memberikan kesempatan berbicara? Geprak saja meja. Keputusan orang lain sama sekali tidak menguntungkan? Keluar saja. Ada yang marah-marah karena tidak suka dengan saya? Suruh saja datangi saya. Tidak apa-apa kalau nantinya berujung pada perkelahian atau mungkin… kematian.

Anehnya, saya sama sekali tidak merasa ketakutan melakukan itu. Benar-benar fearless.

Benar kata Tyler Durden, “It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything!

Apakah saya otomatis menjadi orang yang mengesalkan? Jelas.

Saya akui kalau diri ini semakin sering membuat orang lain jengkel dan musuh terus bertambah setiap waktu, tetapi hei! Bukankah itu jauh lebih baik daripada memiliki banyak teman yang di setiap sudut bibirnya hanya ada kepalsuan?

Setiap manusia menciptakan self-defense di pikirannya masing-masing ketika dirinya pernah tertimpa masalah berat. Begitu pula dengan pikiran saya; dia mengeluarkan semua apa yang dikandungnya selama ini: diri saya yang pemarah dan tidak segan-segan menampar balik bila ditampar duluan.

Saya percaya bahwa setiap manusia (bahkan kamu) akan mengalami turning point-nya sendiri. Itu bisa berarti kamu harus menghadapi sebuah bencana besar yang bisa muncul kapan saja. Turnng point itu sendiri bisa berbagai macam bentuknya. Mungkin kamu suatu saat bisa dtinggal oleh kekasih kamu sehingga kamu memutuskan untuk berubah. Mungkin nanti kamu akan mengalami kebangkrutan sampai-sampai tidak ada yang bisa jadikan pijakan selain kedua kaki kamu sendiri. Atau… bisa jadi kamu akan mengalami apa yang telah saya alami: overworking, dianggap remeh oleh rekan kerja, tidak sempat menghabiskan waktu bersama keluarga, dan ditinggal mati oleh orangtua. Tidak ada yang tahu.

Kalau di pikiran kamu sudah muncul sensasi ingin memberontak, itulah turning point kamu. Bila itu terjadi, JANGAN DIAM SAJA! Suarakan keberanian kamu! Kalau kamu tidak setuju dengan pendapat atau tindakan orang lain, lawan balik! Persetan dengan hidup damai karena hidup damai hanya ada di buku menggambar anak TK! Kedamaian hanyalah topeng palsu untuk menutupi kenyataan yang bobrok.

Namun, kalau kamu ingin diam saja ketika diinjak orang lain, itu terserah kamu sih. Barangkali kamu memang berbakat menjadi keset lantai.

 

Vladd Voltaire

 

Deadly Silence (Part.1)

(Artikel panjang ini lebih menceritakan tentang diri saya. Meski terdengar selfies, tapi siapa tahu ada nilai-nilai yang bisa kamu pelajari)

Kamu harus kerja cerdas dan bukannya kerja keras,” kata seseorang sewaktu saya masih bekerja dengannya di sebuah usaha kecil.

Kalau kamu belum tahu, saya dulu pernah bekerja selama hampir 19 jam penuh dalam sehari dan itu berlangsung selama hampir setahun.

Kamu tahu berapa gaji saya waktu itu?

Dibawah satu juta Rupiah!

Saya mengerti benar bahwa gaji saya sangat tergantung pada jumlah penghasilan dalam sehari yang dikalkulasikan hingga satu bulan. Dalam artian, bila pemasukan di bulan ini hanya sedikit, maka gaji saya pun sedikit. Bila pemasukan bulan ini banyak, maka begitu pula dengan gaji saya.

Kamu harus kerja cerdas dan bukannya kerja keras

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala. Bagaimana caranya bekerja cerdas? Saya ini bukan tipikal orang cerdas dan bukan tergolong orang kaya. Jadi, yang saya lakukan hanya bekerja semaksimal yang saya bisa.

Sistem di tempat saya kerja dulu adalah memastikan dalam sebulan harus berhasil mengumpulkan uang setidaknya Rp 10.000.000/bulan, bila lebih dari itu maka gaji saya akan bertambah.

Dengan jumlah customer yang terus meningkat, saya optimis bisa mendapatkan pemasukan Rp 10.000.000/bulan. Namun, kenyataannya tidak semudah yang diimpikan.

Tiap bulannya, usaha kami ternyata hanya bisa mampu menghasilkan Rp 9.000.000 atau malah di bawah itu. Jumlah segitu hanya mampu menambal biaya operasional dan perawatan fasilitas kerja. Mimpi buruknya… itu berpengaruh ke gaji saya.

Bukan. Bukan masalah kualitas. Saya berusaha mati-matian menjaga kualitas agar customer terpuaskan dan tidak beralih ke pesaing sebelah. Jikalau terjadi human error, itu pun hanya terjadi sesekali saja. Masalah utama justru disebabkan oleh biaya operasional dan biaya sewa tempat yang mencapai lima jutaan tiap bulannya dan itu harus dibayar saat itu juga tanpa bisa ditunda sama sekali.

Saya bekerja dan terus bekerja dengan harapan keadaan menjadi lebih baik. Bahkan saking kerasnya saya bekerja, sampai-sampai saya hanya bisa sekali saja menjenguk ibu saya yang saat itu mengidap penyakit tumor paru-paru.

Waktu itu saya ingin sekali menjaga ibu di rumah sakit. Memang sudah ada bapak dan kakak saya yang menjaganya, tetapi pikiran saya tidak bisa tenang dan selalu memikirkannya.

Kakak saya sudah memarahi saya untuk segera pulang ke Balikpapan dan menjenguk ibu selama beberapa hari. Saya kebingungan. Kalau saya  pergi, siapa yang mejaga kerjaan? Rekan-rekan yang biasa menggantikan saya waktu itu sedang sibuk menyelesaikan skripsi sehingga tidak ada yang bisa menggantikan posisi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya ke rekan saya lainnya yang merupakan komisaris sekaligus investor untuk menggantikan saya selama beberapa hari.

Tapi apa jawabnya?

Wah itu terserah kamu. Aku juga sibuk kerja nih, kalau bukan kamu yang jaga lalu siapa lagi?

DEEG!

Saya semakin bingung. Antara marah, bingung dan sedih semuanya bercampur aduk. Semuanya seperti lepas tangan dan tidak mau tahu tentang keadaan saya. Salah satu rekan saya malah bertanya konyol:

Ibu kamu gak bisa dirawat di Samarinda bro?”

YA GAK BISALAH, NJING!

Fyi, saya belum memberitahu tentang penyakit ibu ke rekan-rekan saya. Saya hanya mengatakan kalau beliau sedang sakit paru-paru basah.

Dan seperti yang kamu duga, saya mengambil keputusan yang paling bodoh dan tolol di sepanjang kehidupan saya:

Saya memilih untuk tetap bekerja.

Sebuah keputusan maha bodoh yang sampai sekarang terus saya sesali. Siapa saja yang bisa ke masa lalu, tolong bunuh saya di masa itu.

Lalu satu minggu kemudian, bapak saya menelepon saya dengan suara terisak-isak:

Ibu sudah meninggal

Saya tidak bisa menceritakan apa yang saya rasakan saat itu. Semuanya terlalu absurd untuk dijelaskan. Yang pasti adalah…

Ibu sudah tiada.

Saya tidak bisa lagi mendengar suara cerianya, kecantikannya, masakannya, dan terlebih lagi, kasih sayangnya.

Saya langsung meminta seorang teman untuk mengantar saya ke rumah kontrakan tempat tinggal saya dan kakak saya. Di sana, kakak saya sudah menanti di atas sepeda motornya. Kami lalu berpelukan. Orang yang paling kami sayangi kini sudah beristirahat dalam damai.

Kebetulan kakak ipar saya juga sudah berada di sana dan menyarankan untuk pergi ke Balikpapan dengan menggunakan taksi karena terlalu berbahaya pergi ke Balikpapan di malam hari menggunakan sepeda motor. Akhirnya kami bertiga pergi ke Balikpapan saat itu juga dengan memakai taksi.

Di sepanjang perjalanan menuju Balikpapan, saya terus terbayang-bayang wajah ibu. Rasanya baru kemarin beliau mengucapkan “Hati-hati di jalan” ketika saya mau berangkat ke Samarinda, rasanya baru kemarin beliau mengucapkan “Ibu sayang kamu, rasanya baru kemarin beliau menyuruh saya makan agar tidak sakit, rasanya baru kemarin saya diantar ke sekolah sambil menggenggam tangannya yang kasar karena teriris pisau, rasanya baru kemarin beliau melahirkan saya.

Rasanya semua baru saja terjadi.

Sesampainya di rumah, saya langsung menghambur di antara para pelayat dan mendapati tubuh ibu sudah terbujur kaku di ruang tamu. Saya sangat berharap kalau tubuh yang kaku tersebut adalah jenazah orang lain dan bukannya ibu saya.

Namun, saya salah. Meski sudah dipeluk berkali-kali, tubuh kaku tersebut tetaplah ibu saya.

Saya pandangi wajahnya yang tenang seperti orang yang sedang tertidur. Ibu sangat cantik. Tidak ada wanita lain yang kecantikannya melebihi dia. Bahkan bibirnya terlihat tersenyum meski sudah tak bernyawa.

Bu, aku pulang,” bisik saya sambil memeluk tubuhnya yang dingin.

Pemakaman beliau dilangsungkan di keesokan harinya. Saya terus berada di sebelah beliau sampai dia dimasukkan ke dalam liang lahat. Untuk pertama kalinya, saya tidak ingin jauh-jauh darinya.

Ibu sudah tiada, begitu pula dengan saya.

Penyesalan karena tidak bisa menjaganya selama dia terbaring di rumah sakit terus menghantui saya sampai saat ini. Tak terhitung sudah berapa kali saya memimpikan beliau sedang terkapar di rumah sakit dan saya berada di sebelahnya sambil menghiburnya atau memijat telapak tangannya. Otak saya menciptakan simulasi dunia alternatif tentang sesuatu yang tidak saya lakukan di masa lalu.

Saya anggap itu sebagai tamparan keras.

Saya benci diri saya yang lebih memilih bekerja daripada bersama beliau, saya benci rekan-rekan kerja saya yang lebih mementingkan kuliahnya dibandingkan menggantikan saya, saya ingin membunuh para komisaris abal-abal yang seakan-akan lepas tangan dengan kondisi saya.

Saya benci semuanya.

Anehnya beberapa hari kemudian, ada sesuatu yang timbul di pikiran saya. Sesuatu yang sangat kuat dan tampaknya itu merupakan pertanda bahwa harus ada yang berubah atau setidaknya, diperbaiki.

Saya bersiap mati untuk yang kedua kalinya…

 

Vladd Voltaire

Eh, Stop! Pungut Dulu Sampah Di Lantai Sebelum Membaca Ini!

Seperti pada hari-hari biasanya, saya mengunjungi kantin di kampus untuk sekedar bersantai berbincang-bincang dengan kawan-kawan seperjuangan yang entah kapan wisudanya. Ada beberapa alasan mengapa saya sering mengunjungi kantin kampus ketimbang tempat-tempat ngopi lain seperti kafe atau sebangsanya. Selain banyak mahasiswi-mahasiswi manis yang berseliweran tanpa henti, kantin kampus adalah tempat berkumpulnya berbagai macam manusia dari segala jenis suku, wajah dan sifat. Itu membuat saya betah berlama-lama di kantin kampus karena isinya yang dinamis. Continue reading “Eh, Stop! Pungut Dulu Sampah Di Lantai Sebelum Membaca Ini!”