Kecewalah! Sebelum Kecewa Itu Diketawai.

Marry you will regret it; dont marry, you will also regret it. Marry or dont marry you will regret it either way.  Laugh at the world’s foolishness, you will regret it. Weep over it, you will also regret it. Hang yourself, you will regret it; dont hang yourself you will regret that too. Wether you hang yourself or dont hang yourself, you will regret both. This, gentleman, is the essence of philosophy.

Ucapan putus asa penuh kecemasan dari Bapak Eksistensialis Søren Aabye Kierkegaard yang dapat diartikan sebagai berikut :

Continue reading “Kecewalah! Sebelum Kecewa Itu Diketawai.”

Advertisements

Booklicious: Maskulinitas Alam Liar Dalam Buku “The Call Of The Wild” Karya Jack London

Dua puluh juta tahun yang lalu, saya mengetahui Jack London dari salah satu situs favourit saya yaitu Artofmanliness.com yang sering membahas buku-buku yang berisi tentang nilai-nilai kepriaan. Saya pribadi menyukai novel dan cerita pendek yang ditulis di era sebelum 1990-an karena banyak karya sastra unik yang dtulis di tahun-tahun sebelum itu. Tidak seperti novel di zaman sekarang yang isinya tentang cinta-cintaan melulu. Padahal hidup ini tidak selalu tentang cinta, melainkan juga nestapa. Continue reading “Booklicious: Maskulinitas Alam Liar Dalam Buku “The Call Of The Wild” Karya Jack London”

Buntut Kemalasan

Dari segala macam sifat-sifat jelek manusia, ada satu sifat yang paling tidak bisa saya tolerir.

Saya bisa memaklumi kemarahan, keserakahan, kesombongan, dan_____ (sebut saja satu sifat jelek yang kamu ketahui), tetapi tidak dengan kemalasan.

Kemalasan adalah bencana. Memang, bagi sebagian orang ada yang menganggap bahwa kemalasan adalah ibu dari pengetahuan. Karl Benz tidak mungkin bakal menciptakan mobil modern bila manusia rajin berjalan kaki ke tempat jauh dan John F. Mitchell tidak akan menciptakan telepon genggam kalau manusia rajin mengirim surat untuk menghubungi kerabat jauh mereka. Namun, para penemu tetaplah penemu; mereka menciptakan inovasi untuk menutupi kemalasan manusia. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang disiplin dalam menciptakan alat-alat yang mampu mengubah hidup manusia. Continue reading “Buntut Kemalasan”

Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!

Kenapa kamu masih membuka artikel ini? Bukankah sudah ada peringatannya?

Baiklah baiklah, saya tentu hanya bercanda saja ketika menulis judul di atas. Kamu tidak akan tertimpa hal yang buruk bila membaca tulisan ini, barangkali nanti kamu hanya mengidap biang keringat selama setahun penuh. Itu saja kok. Continue reading “Jangan Buka Artikel Ini Kalau Kamu Ingin Jago Menulis!”

Untuk Apa Memperbaiki Kekurangan?

Saya ini paling tidak berani mengendarai sepeda motor.

Bagi saya pribadi, kendaraan beroda dua itu ibarat pisau bermata dua; di satu sisi sangat menguntungkan karena mudah digunakan dan gesit di jalan raya, tetapi di sisi lain jumlah kematian akibat kecelakaan sepeda motor jauh lebih tinggi ketimbang kendaraan lain.

Namun, bukan berarti saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Kalau cuma seliweran di jalan kecil saja sih berani, tetapi kalau dibawa ke jalan raya… aduh.

Intinya, saya ini pengecut.

Terkadang saya mikir: Bagaimana nanti kalau saya sudah bekerja kantoran seperti orang-orang? Bukankah orang-orang kantoran sering bolak-balik di jalan raya? Satu-satunya kendaraan yang murah meriah, sedikit mewah dan memiliki mobilitas tinggi ya sepeda motor. Sepeda pancal pun tergolong murah meriah, tapi siapa sih yang mau siang-siang panas terik menggowes pedal? Saya yakin kamu pasti lebih mikir gengsi daripada efisiensi.

Selain itu bagaimana nanti kalau saya sudah punya pacar dan mesti mengajak pacar saya jalan-jalan ke kafe dan bioskop? Tidak mungkin kan kami berdua hanya mojok di kamar kost sambil main catur? Tentu kami harus keluar dan menikmati saat-saat berdua.

Halah.

Sampai sekarang saya tidak punya Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya merasa berbeda dengan orang lain yang sudah memiliki SIM, bahkan anak SMA saja sudah punya SIM. Apakah saya ini ditakdirkan jadi satu-satunya manusia di Indonesia yang tidak punya SIM meski usia sudah menginjak dua puluhan?

Semakin dipikir, semakin membingungkan. Jadi saya harus apa dong?

Anehnya kalau dipikir lebih lanjut, saya sama sekali tidak masalah dengan bisa atau tidaknya membawa sepeda motor ke jalan raya.

Keuntungannya ada banyak:

  1. Saya tidak perlu pusing delapan keliling dengan harga BBM yang melonjak. Walau itu berdampak dengan harga sembako yang juga ikut naik, tapi saya tidak perlu ditambah pusing ketika berada di pom bensin.
  2. Kulit saya tidak sehitam orang-orang yang seliweran di jalan raya. Mau bukti?
  3. Saya tidak perlu sarapan asap knalpot di pagi hari.
  4. Yang paling penting: saya bisa menabung untuk beli ini dan itu. Tidak seperti pengguna sepeda motor lainnya yang harus menyisihkan uang gajinya untuk sepeda motor kesayangannya. Uang tabungan tersebut saya gunakan untuk membeli buku dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan sepeda motor. Apakah saya bahagia? Pastinya.

Bukan berarti hal itu tidak ada kekurangannya. Salah satu yang menyakitkan adalah ketika saya harus ke tempat tertentu sedangkan hari sudah malam dan kendaraan umum sudah tidak beroperasi lagi. Saya merasa terhina karena sebagai laki-laki, saya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa selain bengong.

Tapi itu sebentar doang. Setelahnya biasa-biasa saja.

Justru karena saya tidak berani mengendarai sepeda motor di jalan raya, akhirnya itu mendesak saya untuk bekerja secara freelance, entah itu sebagai penulis atau editor lepas.

Tidak masalah. Saya cinta mati dengan pekerjaan sebagai penulis lepas.

Kenapa tidak? Penghasilan saya dari menulis untuk ini dan itu dalam sebulan setara dengan gaji karyawan kantoran pada umumnya. Ketika yang lainnya bertangis-tangis ria disembur atasan, saya bisa mengerjakan pekerjaan sambil baring-baring di kasur. Jumlah penghasilan sama, tapi nasib berbeda.

Bukan berarti menjadi karyawan kantor itu buruk, malah itu bagus karena kamu tidak perlu pusing dengan jumlah saldo tabungan di akhir bulan. Kalau dalam sebulan saya tidak bekerja, maka penghasilan saya langsung ambruk menjadi Rp 0,- sedangkan seorang karyawan tetap dapat gaji UMR meski dia hanya setengah-setengah dalam bekerja (saya bisa mendengar kamu berbisik: “Ah enggak jugaaaa”).

Kekurangan saya adalah tidak berani membawa sepeda motor ke jalan raya dan itu mendesak saya untuk lebih mengasah kelebihan saya sebagai penulis lepas. Saya tidak fokus ke kekurangan tersebut, tetapi saya lebih fokus kepada kelebihan saya. Ibaratnya ksatria pincang, untuk apa saya memperhatikan kaki saya yang cacat? Lebih baik saya menajamkan pedang dan memperkuat perisai, bukan? Logika yang sederhana.

Jikalau kamu memiliki kekurangan (dan kamu pasti punya), ada baiknya kamu bertanya ke diri kamu terlebih dahulu: apa kelebihan yang kamu miliki? Kalau sudah dapat jawabannya, maka jadikan kelebihan itu sebagai pedang dan perisai kamu. Kekurangan atau kelemahan memang sebaiknya tidak perlu diperbaiki, melainkan harus ditutupi dengan kelebihan atau keahlian yang kamu miliki. Satu-satunya kekurangan yang harus kamu perbaiki hanyalah kebodohan, selain itu ya tidak ada yang harus diperbaiki.

 

Vladd Voltaire

 

 

 

 

 

 

How Lucky Are You?

Sebelumnya saldo tabungan saya tidak pernah mencapai angka satu jutaan ke atas.

Sekarang setidaknya saya bisa mengangguk-anggukan kepala dengan puas; puas karena saldo tabungan saya yang tidak terlalu menyedihkan seperti tahun-tahun lalu dan puas karena terbebas dari rasa khawatir bakalan mati kelaparan.

Sungguh. Dulu saya paling takut dengan yang namanya mati kelaparan. Uang bulanan saya dulunya hanya sekitar Rp 300.000,- dan itu HARUS cukup selama sebulan. Teori matematika mana pun tidak bakal bisa membuat selisih antara uang segitu dengan biaya hidup sehari-hari. Continue reading “How Lucky Are You?”

Kutukan Kesibukan

Bangun jam delapan pagi. Berangkat kerja. Menghadapi macetnya ibu kota. Bercapek-capek ria di dalam ruangan bernama kantor selama berjam-jam. Pulang kerja. Ketemu kemacetan lagi. Sampai rumah langsung tidur. Besoknya, bangun lagi jam delapan. Ulangi lagi dan seterusnya.

Iya, saya paham betapa sibuknya diri ini ketika usia sudah beranjak dewasa. Dituntut mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar ini itu dan tagihan ini itu. Jangankan menyempatkan waktu untuk mengumpul bersama kawan-kawan yang lain, menyempatkan diri untuk sekedar membaca saja sudah nyari tidak mungkin. Waktu dua puluh empat jam rasanya tidak cukup untuk keseluruhan hidup saya. Saya butuh waktu tambahan dua puluh lima jam atau mungkin tiga puluh jam sehari supaya saya bisa beristirahat dan punya waktu untuk bersenang-senang. Continue reading “Kutukan Kesibukan”

Deadly Silence (Part.2)

(Kamu bisa membaca artikel sebelumnya di sini: Deadly Silence (Part.1))

Fuck. Fuck. Fuck.

Tiga kata itu adalah pembuka yang tepat bagi hari-hari saya yang baru. Setelah ibu tiada, entah mengapa saya merasa jauh lebih powerfull dari sebelumnya; seakan-akan saya kini bisa mengakses bagian lain dari otak saya yang sebelumnya jarang digunakan.

Saya sudah pernah merasakan berbagai macam kehilangan; ditinggal pergi kekasih sudah saya alami berkali-kali, ditinggal pergi oleh kawan-kawan yang satu per satu menghilang atau meninggal dunia juga sudah sering saya rasakan, tetapi kehilangan ibu yang saya cintai benar-benar merupakan tamparan maha keras.

Kematian ibu saya tersebut menjadi semacam alarm wake up yang membangunkan saya kalau selama ini jalan yang saya ambil itu sama sekali tidak berguna.

Bagaimana tidak?

Dulu saya berpikir kalau dengan bekerja keras maka itu bisa membantu keluarga saya. Pikiran saya didogma oleh kaum kapitalis abal-abal yang terus bersuara “Kerja! Kerja! Kerja!” sehingga saya terpacu untuk terus bekerja sehingga mengesampingkan keluarga.

Namun, sekarang saya paham bahwa yang benar adalah “Keluarga! Kerja! Keluarga!” mau bagaimana pun keluarga adalah nomor satu. Hendak kemana tubuh ini pulang dan beristirahat kalau bukan di rumah bersama keluarga? Saya tidak mungkin beristirahat di tempat kerja yang mana justru malah membuat saya ingin terus bekerja.

Itu adalah hal pertama yang saya pelajari.

Yang kedua adalah saya dulu lebih banyak diam ketimbang melawan.

Saya adalah tipikal yang malas berdebat apalagi mengkritik. Bodohnya lagi, ketika semua rekan-rekan kerja tidak bisa menggantikan pekerjaan saya, bukannya melawan, saya malah mengalah! Padahal pada posisi itu, saya seharusnya bisa menganggap masa bodoh dengan pekerjaan dan langsung segera pulang ke Balikpapan. Namun, kenyataannya apa?

Saya cuma diam.

Saya seperti sampah, bukan?

Dan itu membuat saya gila.

Ya, benar-benar gila.

Saya benci diri saya yang hanya diam mematung. Saya benci diri saya yang suka mengalah. Saya benci diri saya yang membiarkan orang lain merebut kebebasan saya. Saya benci diri saya yang lemah.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkhianati diri saya sendiri.

Benar sekali. Saya berkhianat…

…dengan cara membunuh kepribadian saya di masa lalu.

Dan itu membutuhkan waktu yang berbulan-bulan lamanya. Membunuh seseorang yang bercokol di kepala itu sulit karena dia tidak memiliki tubuh fisik yang bisa dibunuh. Satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan memaksa diri ini bertindak kebalikan dari apa yang dia suarakan. Kalau dia bersuara “Jangan melawan!” maka itu tandanya harus melawan. Kalau dia bersuara “Mengalah saja!” berarti jangan mengalah. Terdengar mudah? Memang. Namun konflik batin itu terus bergelung-gelung di kepala selama berhari-hari sampai saya sempat mengalami insomnia parah.

Kejadian itu terus berlangsung hingga akhirnya…

Tidak ada lagi Vladd Voltaire yang baik hati dan mengalah. Tepatnya dia menghilang pada tanggal berapa, saya tidak ingat. Barangkali dia mati? Saya doakan dia bisa beristirahat dengan damai di dalam limbo yang tak berujung.

Hasilnya, saya menjadi lebih blak-blakan dari sebelumnya.

Tidak suka sama orang? Ngomong saja langsung di depan mukanya. Orang-orang tidak memberikan kesempatan berbicara? Geprak saja meja. Keputusan orang lain sama sekali tidak menguntungkan? Keluar saja. Ada yang marah-marah karena tidak suka dengan saya? Suruh saja datangi saya. Tidak apa-apa kalau nantinya berujung pada perkelahian atau mungkin… kematian.

Anehnya, saya sama sekali tidak merasa ketakutan melakukan itu. Benar-benar fearless.

Benar kata Tyler Durden, “It’s only after we’ve lost everything that we’re free to do anything!

Apakah saya otomatis menjadi orang yang mengesalkan? Jelas.

Saya akui kalau diri ini semakin sering membuat orang lain jengkel dan musuh terus bertambah setiap waktu, tetapi hei! Bukankah itu jauh lebih baik daripada memiliki banyak teman yang di setiap sudut bibirnya hanya ada kepalsuan?

Setiap manusia menciptakan self-defense di pikirannya masing-masing ketika dirinya pernah tertimpa masalah berat. Begitu pula dengan pikiran saya; dia mengeluarkan semua apa yang dikandungnya selama ini: diri saya yang pemarah dan tidak segan-segan menampar balik bila ditampar duluan.

Saya percaya bahwa setiap manusia (bahkan kamu) akan mengalami turning point-nya sendiri. Itu bisa berarti kamu harus menghadapi sebuah bencana besar yang bisa muncul kapan saja. Turnng point itu sendiri bisa berbagai macam bentuknya. Mungkin kamu suatu saat bisa dtinggal oleh kekasih kamu sehingga kamu memutuskan untuk berubah. Mungkin nanti kamu akan mengalami kebangkrutan sampai-sampai tidak ada yang bisa jadikan pijakan selain kedua kaki kamu sendiri. Atau… bisa jadi kamu akan mengalami apa yang telah saya alami: overworking, dianggap remeh oleh rekan kerja, tidak sempat menghabiskan waktu bersama keluarga, dan ditinggal mati oleh orangtua. Tidak ada yang tahu.

Kalau di pikiran kamu sudah muncul sensasi ingin memberontak, itulah turning point kamu. Bila itu terjadi, JANGAN DIAM SAJA! Suarakan keberanian kamu! Kalau kamu tidak setuju dengan pendapat atau tindakan orang lain, lawan balik! Persetan dengan hidup damai karena hidup damai hanya ada di buku menggambar anak TK! Kedamaian hanyalah topeng palsu untuk menutupi kenyataan yang bobrok.

Namun, kalau kamu ingin diam saja ketika diinjak orang lain, itu terserah kamu sih. Barangkali kamu memang berbakat menjadi keset lantai.

 

Vladd Voltaire