Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?

Jika saya ditanya, apakah rela jika Indonesia menjadi Biggest Islamic State in The World ? Jawaban resmi dari saya pribadi adalah :”Tidak mengapa, asalkan damai, toleran dan menjamin hak asasi manusia”. Jawaban ini bukan dalam konteks menggantikan ideologi pancasila dengan khilafah. Bukan itu maksud saya.

Bagi saya, ideologi bangsa adalah alat untuk mempersatukan setiap individu-individu dalam suatu bangsa untuk maju bersama mencapai tujuan yang ditentukan. Entah pancasila akan di-mix and match dengan sistem kepemerintahan dan hukum syariah, codex civil prancis, mau meniru tata kepemerintahan jepang, china, arab saudi atau USA, semua bisa dikondisikan. Toh, governance atau tata kelola kenegaraan dan kepemerintahan kita kebanyakan adalah adopsi dari negara lain. Termasuk jika menggunakan syariat islam. Yah, kecuali ideologi dasar pancasila, ini harga mati, demi pancasila ini, dahulu kala masyarakat indonesia mau disatukan menjadi satu negara bangsa. Continue reading “Apakah Sistem “Khilafah” Benar-Benar Begitu Seksi Bagi Indonesia ?”

Bahagia di (Platform) Mana Saja

aaa

Di era sosial media seperti abad ke-21 ini, sungguh mudah bagi kita untuk mempubikasi kehidupan sehari-hari, pemikiran kita tentang kehidupan, ataupun liburan dan makan-makan bintang lima nan porsi kecil kita.

Tentu saja ada postingan berarti ada view. Ada view berarti ada likes yang membuat adiktif seperti narkoba dan komentar teman-teman sepermainan kita.

Akan ada yang berkomentar memuji, lucu, hinaan penuh canda dan akan ada komentar yang tidak ditulis di sosiyel media :].

Kali ini saya tertarik untuk membahas jenis yang terakhir.

Nah, kira-kira pernahkah anda dan teman anda membicarakan postingan teman yang lain yang kemudian dibumbui dengan sebuah penilaian yang sungguh sensional.

“Ah, dia mah pencitraan doang di twitter”

“Dia tuh sok romantic di Instagram aja, aslinya mah kelahi mulu pacarannya”

“Kekayaan orang tua aja pamer-pamer di socmed, huh!”

Suatu hari saya sedang berjalan-jalan ke rumah teman saya yang berada di komplek rumah sakit jiwa. Saya berolahraga ringan di kompek itu dan mengobrol dengan seorang yang jauh usianya 2x lipat daripada usia saya. Kelak, saya tahu belakangan ia adalah seorang dokter di RSJ tersebut.

Dasar emang selalu ingin tahu, saya menanyakan sebuah pertanyaan yang saya yakin sudah sering ditanyakan kepada bapak ini.

“Apa yang menyebabkan kegilaan? Kenapa seseorang bisa menjadi gila?” Tanya saya.

Sang bapak menjawab saya dengan sabar sambil mengudap sepiring siomay bersama saya.

“Tak ada yang tahu pasti kenapa seseorang menjadi gila. Tapi banyak orang yang menjadi gila karena mendapatkan perasaan yang tidak ia dapatkan di dunia nyata.”

Bapak itu menceritakan sebuah kisah klasik kepada saya.

Beliau mempunyai seorang pasien. Seorang perempuan muda berumur 30-an yang seluruh kehidupannya merupakan tragedi. Harapannya akan kehidupan cinta, seks yang indah, dan prestise sosial sirna bersama perlakuan suaminya yang tidak menghargai perempuan itu sama sekali.

Suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tidak memiliki anak yang ia dambakan apalagi kedudukan sosial.

Dan setiap malam perempuan itu mengkhayal bahwa dia telah menceraikan suaminya kemudian menikah lagi dan setiap malam dia akan bercerita tentang anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Keluarganya mengirim ia ke RSJ.

Hidup menghancurkan semua mimpi-mimpinya dengan kejam; namun dalam fantasinya (baca:kegilaannya), ia adalah seorang perempuan yang bersinar bagai tuan putri.

Lantas bagaimana menyembuhkan penyakit kegilaan, tanya saya lagi. Siomay sudah habis dan saya masih tertarik dengan cerita dokter ini.

Dia menjelaskan beberapa cara yang popular dan pada akhirnya dia menambahkan sebuah pemikiran yang terngiang-ngiang di kepala saya.

“Kalau saya hanya perlu mengulurkan tangan saya untuk menolong perempuan itu, saya tidak akan melakukannya. Dia lebih bahagia dalam kegilaannya”

—-

Sekarang saya pulang dengan pertanyaan di kepala. Haruskah kita mengatur kebahagiaan orang lain disosmed? Perlukah kita menyindir makanan yang diposting orang lain di Instagram?

Sejak saat itu saya tidak lagi mengkritik seseorang yang saya tahu hanya mencitrakan image bahagia di sosmed.

Saya tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain.

Silahkan pamer kebahagiaan anda. Silahkan pamer makanan bintang lima anda. Posting foto jalan-jalan anda. Tampilkan senyum yang antara kamu dan pacar kalian.

Nikmati setiap likes yang datang. Resapi setiap komentar pujian yang masuk, abaikan yang hanya mengolok-olok. Tidak usah pedulikan komentar negatif orang lain.

Selamat bahagia di (platform) mana saja!

 

Vilranendra

How to Avoid Overcommitment

Bukan hal yang baru lagi kalau kita seringkali melihat orang-orang yang berkomitmen untuk berubah dan mereka menulis komitmennya di sosial media atau sekedar menjadi obrolan di warung kopi. Maka dari itu muncullah istilah January wish, February wish, March wish, dan wish-wish lainnya yang ora uwis-uwis. Semua itu merujuk pada harapan akan perubahan menuju ke arah hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun, tidak jarang orang-orang membuat komitmen yang berlebihan dalam mencapai tujuannya. Hasilnya? Tidak ada yang dilakukan. Cuma sebatas komitmen omong kosong doang tanpa ada kegiatan yang berarti. Continue reading “How to Avoid Overcommitment”

Apakah Semangat Phoenix Itu Ada di dalam dirimu??

Phoenix.

Tentu kamu pernah mendengar nama itu dari film atau buku, dan… hei! Saya tidak sedang membahas salah satu tokoh mutan di film X-Men!

Phoenix yang saya maksud di sini adalah salah satu makhluk mitologi yang berasal dari  Mesir Kuno. Phoenix merupakan burung legenda yang mirip seekor elang, tetapi memiliki warna merah menyala seperti api yang terbang di angkasa.

Continue reading “Apakah Semangat Phoenix Itu Ada di dalam dirimu??”

Between Good and Evil

Baik dan buruk.

Bagaikan dua sisi uang logam, sifat baik dan buruk itu ada di dalam diri manusia yang tidak dapat dipisahkan; tergantung Anda mau menjadi yang mana, sebab seseorang yang baik dan alim  sekalipun bisa berubah menjadi orang yang kelakuannya seperti setan, dan seorang preman dan wanita malam yang sering dianggap sampah masyarakat pun bisa jadi merupakan pahlawan bagi keluarga dan dianggap setengah malaikat. Continue reading “Between Good and Evil”

Belum Ada Apa-apanya

Hargai diri anda sendiri!

Diri anda adalah investasi!!

Di tengah menjamurnya berbagai kelas kepribadian dan pengembangan diri terutama dalam hal percintaan di luar sana, banyak pria yang mengikuti kelas kelas kepribadian yang popular. Beberapa kelas kepribadian di luar sana akan menyuruh anda untuk mengutamakan diri anda sendiri.

Tidak ada masalah sama sekali dengan petuah ini. Saya tidak sama sekali sinis terhadap prinsip mengutamakan diri sendiri dibanding orang lain. Continue reading “Belum Ada Apa-apanya”

Konservatisme : Menyangkal Perubahan

Apa yang terjadi ketika generasi papah mamah kita melihat kemajuan teknologi informasi saat ini ? Tidak bisa dibayangkan, dulu informasi nyaris dimonopoli oleh televisi dan koran. Sekarang, laju berita hoax di akun sosial media kita nyaris secepat cahaya.

Anak kecil jangan diberi ponsel, kalau pesan makanan jangan via ojek online, kalau makan itu berdoa dulu bukan makanannya difoto, jangan ngomongin urusan orang di media sosial, dan lain sebagainya. Continue reading “Konservatisme : Menyangkal Perubahan”

Memikirkan Batasan Kedurhakaan

A lot of parents will do anything for their kids except let them by themselves – Banksy

Lebih dari seperempat abad saya hidup, begitu banyak penyesalan yang biasanya dilatarbelakangi karena menuruti apa kata orang tua daripada membuat keputusan sendiri. Bukannya tidak sayang dengan orang tua, tetapi rasanya kita perlu mengevaluasi langkah-langkah yang pernah kita ambil.

Sekarang saya telah menjadi orang tua. Tentunya saya perlu mengambil hikmah dari kesalahan-kesalahan orang tua dahulu yang tidak perlu lagi diterapkan pada anak saya kedepannya. Continue reading “Memikirkan Batasan Kedurhakaan”