Deadly Silence (Part.1)

(Artikel panjang ini lebih menceritakan tentang diri saya. Meski terdengar selfies, tapi siapa tahu ada nilai-nilai yang bisa kamu pelajari)

Kamu harus kerja cerdas dan bukannya kerja keras,” kata seseorang sewaktu saya masih bekerja dengannya di sebuah usaha kecil.

Kalau kamu belum tahu, saya dulu pernah bekerja selama hampir 19 jam penuh dalam sehari dan itu berlangsung selama hampir setahun.

Kamu tahu berapa gaji saya waktu itu?

Dibawah satu juta Rupiah!

Saya mengerti benar bahwa gaji saya sangat tergantung pada jumlah penghasilan dalam sehari yang dikalkulasikan hingga satu bulan. Dalam artian, bila pemasukan di bulan ini hanya sedikit, maka gaji saya pun sedikit. Bila pemasukan bulan ini banyak, maka begitu pula dengan gaji saya.

Kamu harus kerja cerdas dan bukannya kerja keras

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala. Bagaimana caranya bekerja cerdas? Saya ini bukan tipikal orang cerdas dan bukan tergolong orang kaya. Jadi, yang saya lakukan hanya bekerja semaksimal yang saya bisa.

Sistem di tempat saya kerja dulu adalah memastikan dalam sebulan harus berhasil mengumpulkan uang setidaknya Rp 10.000.000/bulan, bila lebih dari itu maka gaji saya akan bertambah.

Dengan jumlah customer yang terus meningkat, saya optimis bisa mendapatkan pemasukan Rp 10.000.000/bulan. Namun, kenyataannya tidak semudah yang diimpikan.

Tiap bulannya, usaha kami ternyata hanya bisa mampu menghasilkan Rp 9.000.000 atau malah di bawah itu. Jumlah segitu hanya mampu menambal biaya operasional dan perawatan fasilitas kerja. Mimpi buruknya… itu berpengaruh ke gaji saya.

Bukan. Bukan masalah kualitas. Saya berusaha mati-matian menjaga kualitas agar customer terpuaskan dan tidak beralih ke pesaing sebelah. Jikalau terjadi human error, itu pun hanya terjadi sesekali saja. Masalah utama justru disebabkan oleh biaya operasional dan biaya sewa tempat yang mencapai lima jutaan tiap bulannya dan itu harus dibayar saat itu juga tanpa bisa ditunda sama sekali.

Saya bekerja dan terus bekerja dengan harapan keadaan menjadi lebih baik. Bahkan saking kerasnya saya bekerja, sampai-sampai saya hanya bisa sekali saja menjenguk ibu saya yang saat itu mengidap penyakit tumor paru-paru.

Waktu itu saya ingin sekali menjaga ibu di rumah sakit. Memang sudah ada bapak dan kakak saya yang menjaganya, tetapi pikiran saya tidak bisa tenang dan selalu memikirkannya.

Kakak saya sudah memarahi saya untuk segera pulang ke Balikpapan dan menjenguk ibu selama beberapa hari. Saya kebingungan. Kalau saya  pergi, siapa yang mejaga kerjaan? Rekan-rekan yang biasa menggantikan saya waktu itu sedang sibuk menyelesaikan skripsi sehingga tidak ada yang bisa menggantikan posisi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya ke rekan saya lainnya yang merupakan komisaris sekaligus investor untuk menggantikan saya selama beberapa hari.

Tapi apa jawabnya?

Wah itu terserah kamu. Aku juga sibuk kerja nih, kalau bukan kamu yang jaga lalu siapa lagi?

DEEG!

Saya semakin bingung. Antara marah, bingung dan sedih semuanya bercampur aduk. Semuanya seperti lepas tangan dan tidak mau tahu tentang keadaan saya. Salah satu rekan saya malah bertanya konyol:

Ibu kamu gak bisa dirawat di Samarinda bro?”

YA GAK BISALAH, NJING!

Fyi, saya belum memberitahu tentang penyakit ibu ke rekan-rekan saya. Saya hanya mengatakan kalau beliau sedang sakit paru-paru basah.

Dan seperti yang kamu duga, saya mengambil keputusan yang paling bodoh dan tolol di sepanjang kehidupan saya:

Saya memilih untuk tetap bekerja.

Sebuah keputusan maha bodoh yang sampai sekarang terus saya sesali. Siapa saja yang bisa ke masa lalu, tolong bunuh saya di masa itu.

Lalu satu minggu kemudian, bapak saya menelepon saya dengan suara terisak-isak:

Ibu sudah meninggal

Saya tidak bisa menceritakan apa yang saya rasakan saat itu. Semuanya terlalu absurd untuk dijelaskan. Yang pasti adalah…

Ibu sudah tiada.

Saya tidak bisa lagi mendengar suara cerianya, kecantikannya, masakannya, dan terlebih lagi, kasih sayangnya.

Saya langsung meminta seorang teman untuk mengantar saya ke rumah kontrakan tempat tinggal saya dan kakak saya. Di sana, kakak saya sudah menanti di atas sepeda motornya. Kami lalu berpelukan. Orang yang paling kami sayangi kini sudah beristirahat dalam damai.

Kebetulan kakak ipar saya juga sudah berada di sana dan menyarankan untuk pergi ke Balikpapan dengan menggunakan taksi karena terlalu berbahaya pergi ke Balikpapan di malam hari menggunakan sepeda motor. Akhirnya kami bertiga pergi ke Balikpapan saat itu juga dengan memakai taksi.

Di sepanjang perjalanan menuju Balikpapan, saya terus terbayang-bayang wajah ibu. Rasanya baru kemarin beliau mengucapkan “Hati-hati di jalan” ketika saya mau berangkat ke Samarinda, rasanya baru kemarin beliau mengucapkan “Ibu sayang kamu, rasanya baru kemarin beliau menyuruh saya makan agar tidak sakit, rasanya baru kemarin saya diantar ke sekolah sambil menggenggam tangannya yang kasar karena teriris pisau, rasanya baru kemarin beliau melahirkan saya.

Rasanya semua baru saja terjadi.

Sesampainya di rumah, saya langsung menghambur di antara para pelayat dan mendapati tubuh ibu sudah terbujur kaku di ruang tamu. Saya sangat berharap kalau tubuh yang kaku tersebut adalah jenazah orang lain dan bukannya ibu saya.

Namun, saya salah. Meski sudah dipeluk berkali-kali, tubuh kaku tersebut tetaplah ibu saya.

Saya pandangi wajahnya yang tenang seperti orang yang sedang tertidur. Ibu sangat cantik. Tidak ada wanita lain yang kecantikannya melebihi dia. Bahkan bibirnya terlihat tersenyum meski sudah tak bernyawa.

Bu, aku pulang,” bisik saya sambil memeluk tubuhnya yang dingin.

Pemakaman beliau dilangsungkan di keesokan harinya. Saya terus berada di sebelah beliau sampai dia dimasukkan ke dalam liang lahat. Untuk pertama kalinya, saya tidak ingin jauh-jauh darinya.

Ibu sudah tiada, begitu pula dengan saya.

Penyesalan karena tidak bisa menjaganya selama dia terbaring di rumah sakit terus menghantui saya sampai saat ini. Tak terhitung sudah berapa kali saya memimpikan beliau sedang terkapar di rumah sakit dan saya berada di sebelahnya sambil menghiburnya atau memijat telapak tangannya. Otak saya menciptakan simulasi dunia alternatif tentang sesuatu yang tidak saya lakukan di masa lalu.

Saya anggap itu sebagai tamparan keras.

Saya benci diri saya yang lebih memilih bekerja daripada bersama beliau, saya benci rekan-rekan kerja saya yang lebih mementingkan kuliahnya dibandingkan menggantikan saya, saya ingin membunuh para komisaris abal-abal yang seakan-akan lepas tangan dengan kondisi saya.

Saya benci semuanya.

Anehnya beberapa hari kemudian, ada sesuatu yang timbul di pikiran saya. Sesuatu yang sangat kuat dan tampaknya itu merupakan pertanda bahwa harus ada yang berubah atau setidaknya, diperbaiki.

Saya bersiap mati untuk yang kedua kalinya…

 

Vladd Voltaire

Advertisements

3 Alasan Mengapa Kita Harus Tetap Tinggal Di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal negara bernama Indonesia?

Sebuah negara yang (katanya) adil makmur dan penduduknya (katanya) ramah-ramah ini dihuni oleh sekitar 255.461.700 jiwa yang tersebar di pulau besar maupun pulau kecil. Namun, selayaknya sebuah negara yang dihuni oleh jutaan jiwa yang berbeda suku dan agama, Indonesia tentu memiliki beragam masalah; baik masalah besar (ricuh pemilihan gubernur atau presiden) dan masalah kecil (kasus pembunuhan Mirna atau kebencian netizen terhadap Awkarin).

Saya sendiri tidak memperdulikan masalah-masalah tersebut. Selama itu tidak mempengaruhi jumlah gaji saya, maka masalah besar dan kecil tersebut tidak saya anggap sebagai masalah.

Khususnya di sosial media, hampir setiap hari kita dicekoki oleh kabar buruk tentang negara tercinta kita ini. Semua media berlomba-lomba memberitakan ribuan masalah yang ada di Indonesia dengan harapan bisa meningkatkan kepopuleran sang pemberi berita secara instan. Sebagai warga negara yang sudah tinggal di Indonesia selama bertahun-tahun, tentu hal ini sering membuat kita membenci negara ini dan menimbulkan keinginan untuk segera pindah ke negara lain yang tampaknya minim masalah.

Namun, dibalik masalah-masalah tersebut, Indonesia tetaplah negara yang masih layak huni. Alasannya jelas:

1. Harga tiket ke luar negeri yang mahal dan pengurusan pindah kewarganegaraan yang ribet.

Kalau boleh jujur, harga tiket ke luar negeri yang terlalu mahal adalah penyebab utama mengapa kita tidak bisa meninggalkan negara ini begitu saja. contohnya, untuk ke Jepang saja kita harus merogoh kocek sekitar Rp 5.566.000 dimana uang segitu bisa digunakan untuk membeli nasi padang selama dua bulan penuh. Pindah ke negara lain hanyalah mimpi di siang bolong bagi kaum menengah ke bawah dan cuma orang-orang dengan status elit tertentu saja yang bisa pergi ke luar negeri dan menetap di sana. Belum lagi kita diribetkan dengan surat-surat pindah kewarganegaraan yang pastinya bertele-tele dan ribet. Darimana saya tahu kok bakalan ribet? Lha mengurus surat beasiswa di kelurahan saja ribet apalagi mengurus pindah kewarganegaraan.

2. Tidak jago berbahasa asing.

Ini jelas menjadi masalah kalau kamu ngotot pindah negara tetapi teryata kamu tidak paham dengan bahasa nasional negara tersebut. Misalnya, kamu ingin pindah Amerika Serikat. Tentu bakal merepotkan kalau kemampuan bahasa inggris yang kamu punya hanya seputar “Oh, yes” dan “Oh, no” atau kamu ingin pindah ke Jepang tetapi bahasa jepang yang kamu tahu cuma nama-nama merk Jepang saja seperti Toshiba, Yamaha, dan Suzuki. Bila kamu belum lancar berbahasa asing, maka tetaplah tinggal di negara ini saja daripada kamu pelanga-pelongo di negara orang.

3. Tanya ke diri kamu sendiri “Mau kerja apa di negara lain?”

Ya. Setiap kali niat pindah negara muncul di pikiran kamu, segera tanyakan ke diri kamu sendiri: Mau kerja apa di negara lain? Apakah kamu mau menjadi juru masak di restoran sushi? Apa kamu mau menjadi pengedar narkotika di wilayah perbatasan Amerika? Atau kamu ingin mengabdikan diri kamu untuk agama di Vatikan? Apa pun pekerjaan kamu, pastikan kamu tidak luntang-lantung di negara lain. Jangan sampai kamu menjadi sampah di Indonesia, lalu menjadi sampah pula di negara orang. Pastikan kamu memiliki cita-citaa dan maksud yang kuat untuk pindah negara.  Maka dari itu bekali diri kamu terlebih dahulu dengan berbagai macam skill yang mumpuni sebelum kamu memutuskan untuk terbang ke negeri antah berantah.

Jika ketiga alasan di atas belum cukup untuk membuat kamu tetap bertahan di Indonesia, maka silakan pecahkan tabungan kamu untuk pindah ke negara yang kamu mau. Karena apa gunanya bertahan bila pikiran kamu tidak bisa berdamai dengan kondisi di Indonesia yang selalu carut marut. Kalau tabungan kamu belum bisa membiayai kamu untuk pindah negara, yang saya tahu harga ginjal manusia di pasar gelap masih sangat tinggi. Asalkan kamu mau banyak minum air putih, maka kamu akan baik-baik saja hidup dengan satu ginjal. Itu kalau kamu paham maksud saya.

(Vladd Voltaire)

 

7 Deadly Sins of Delusions: Kekayaan

Kaya raya.

Siapa yang tidak ingin kaya raya?

Bayangkan kamu memiliki banyak uang bermilyar-milyar di rekening kamu. Semua yang kamu inginkan bisa kamu beli sekarang juga. Gadget baru? Mobil baru? Rumah baru? Atau pasangan baru? Tinggal keluarkan sebuah kartu ajaib lalu gesek di sebuah mesin bernama EDC maka seluruh impian kamu akan terkabul. Continue reading “7 Deadly Sins of Delusions: Kekayaan”

Mengubah Persepsi Tentang Kematian

Tidak ada makhluk hidup yang tidak takut mati. Bahkan tumbuhan yang dikenal tidak memiliki sistem otak pun memiliki berbagai macam jenis pertahanan diri yang mencegahnya meranggas mati dimakan makhluk hidup lain atau karena faktor alam.

Lalu bagaimana dengan manusia yang memiliki sistem otak yang sedemikian rumit sehingga memiliki akal dan naluri (yang katanya) melebihi makhluk hidup lain? Continue reading “Mengubah Persepsi Tentang Kematian”

Dear Mahasiswa, Kamu Salah Lahir Di Negara Ini

Mahasiswa.

Apa yang kamu bayangkan bila mendengar sebutan di atas?

Saya yakin di kepala kamu pasti terbayang seorang pemuda berkemeja kusut dan berwajah lesu akibat kurang makan dan kurang tidur, tidak lupa di pundaknya tersampir ransel yang besarnya cukup untuk memuat satu karung beras seberat 10 kilogram. Continue reading “Dear Mahasiswa, Kamu Salah Lahir Di Negara Ini”

Apakah Ukuran Penis Penting ?

Seperti kata pepatah ‘Bukan ukuran yang penting, melainkan bagaimana anda menggunakannya’ – tapi tidak selama ini berdiri cincin frase benar dalam topik sangat diperdebatkan ukuran penis? Apakah anggota Anda benar-benar membuat perbedaan dalam daya tarik atau kemampuan untuk kesenangan pasangan Anda? Menariknya, manusia memiliki penis terbesar dari primata apapun, baik dalam ukuran mutlak dan relatif terhadap proporsi tubuh … sehingga Anda dapat dibanggakan itu! Melalui sejarah evolusi kita, perempuan cenderung mengembangkan minat dan preferensi untuk bentuk penis dan ukuran – seperti bagaimana burung-burung merak betina memiliki preferensi untuk laki-laki dengan bulu yang menakjubkan. Akibatnya, mereka memilih pasangan dengan penis yang lebih besar, akhirnya lulus pada gen tersebut. Hal ini dikenal sebagai seleksi seksual. Hal ini juga mungkin keuntungan bagi laki-laki, sebagai penis yang lebih panjang lebih efisien untuk menghilangkan sperma dari laki-laki saingan selama hubungan seksual. Semakin lama Anda kedalaman dorong, lebih baik semen perpindahan, memastikan gen Anda bisa diteruskan. Satu studi tertentu menemukan bahwa beberapa wanita mengalami orgasme vaginal lebih sering dengan penis yang lebih panjang, menunjukkan bahwa itu mungkin dapat merangsang seluruh panjang vagina dan leher rahim. Namun, penting untuk dicatat bahwa perempuan mengalami berbagai jenis orgasme; pada kenyataannya, orgasme vaginal dan klitoral mungkin fenomena benar-benar terpisah – mereka menggunakan saraf yang berbeda, dan bahkan merangsang area otak yang berbeda. Bahkan didambakan “G-Spot”, daerah lain yang sensitif seksual pada wanita, terletak hanya ⅓ dari jalan ke dalam vagina. Terlepas dari ini, banyak survei perempuan menemukan bahwa mereka hampir tidak peduli dengan ukuran, sebagai laki-laki mungkin berpikir, dan preferensi bervariasi. Namun, penelitian pada laki-laki homoseksual telah menunjukkan bahwa mereka menganggap penis yang lebih besar sebagai ideal. Studi lain pada tahun 2013 benar-benar menemukan bahwa ukuran penis lembek juga dapat menjadi faktor utama dalam daya tarik laki-laki – bahkan sebelum kontak seksual. Yang mungkin tampak aneh mengingat kita memakai pakaian saat ini; tapi untuk nenek moyang kita, alat kelamin akan terlihat. Dalam studi tersebut, para wanita diminta untuk peringkat daya tarik laki-laki berdasarkan gambar yang dihasilkan komputer mencerminkan jenis tubuh yang berbeda dan ukuran penis. Dari ini, jelas bahwa tidak hanya lebih tinggi dan lebih banyak orang fit jauh lebih diinginkan, tapi ukuran penis lembek memainkan peran dalam tarik mereka dirasakan juga. Semakin besar penis, makin tinggi mereka dinilai. Tapi ada batasnya – penis lembek lebih besar dari sekitar 7,6 cm dan tarik mulai berkurang. Tampaknya penis dalam proporsi mungkin yang paling diinginkan. Setelah semua, lebih dari sifat berlebihan – bahkan yang berkaitan dengan daya tarik – sering dapat menjadi tanda dari masalah. Dan ternyata orang melekat penis membuat perbedaan juga – dengan hampir semua penelitian yang menunjukkan kepercayaan diri, kepribadian menyenangkan, dan tarik menjadi prediktor terbaik dari kepuasan seksual. Pada akhirnya, sedangkan ukuran tidak menjadi masalah dalam beberapa hal, lebih besar tidak selalu lebih baik! Hanya senang Anda tidak memiliki penis Bean Weevels. Kami memecah beberapa paling gila itu.

Mempertimbangkan Asuransi

 

Presentase pengguna asuransi di Indonesia memang masih kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, namun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memiliki asuransi mulai terus tumbuh. Hal itu dilihat dari pertumbuhan tertanggung individu menjadi 15,50 juta orang diakhir tahun 2014, dibanding tahun 2013 yang sebanyak 13,62 juta orang. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai memahami pentingnya asuransi bagi mereka dan keluarga.

Bagi sebagian masyarakat yang masih berada pada usia produktif mungkin belum terlalu memikirkan untuk memiliki asuransi, karena mereka masih giat-giatnya bekerja dan mengejar karir namun sekarang sudah banyak perusahaan asuransi yang mengeluarkan produk asuransi sekaligus investasi sehingga Anda tidak perlu takut uang yang dibayarkan akan menghilang begitu saja bila asuransi tidak terpakai. Lalu mengapa kita perlu memiliki asuransi? Berikut kami paparkan beberapa manfaat asuransi :

1    Melindungi terhadap peristiwa yang sudah pasti terjadi

     Peristiwa yang sudah pasti terjadi pada diri kita adalah kematian. Kita harus memikirkan bagaimana kelak jika kita sudah tidak ada, apa yang bisa kita tinggalkan untuk keluarga kita. Asuransi jiwa mungkin produk asuransi yang cocok untuk ini.

2       Melindungi terhadap peristiwa yang tidak pasti

Kita tidak akan pernah mengetahui peristiwa apa yang akan terjadi ke depannya, asuransi ini dapat membantu kita untuk mengcover biaya yang timbul atas kejadian tersebut contohnya asuransi kesehatan, pendidikan, dll.

3    Sebagai instrument investasi

Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa sekarang telah banyak perusahaan asuransi yang menawarkan produk asuransi sekaligus investasi . Berinvestasi di asuransi yang ada unitlink (kaitan dengan investasi) nya, menjadi pilihan yang cukup bijak. Hasil investasi ini bisa Anda gunakan untuk biaya pendidikan anak, atau yang lainnya.

Itulah beberapa manfaat perlunya kita menggunakan asuransi. Langkah selanjutnya, yang cukup memerlukan kehati-hatian lebih adalah memilih perusahaan asuransi yang bisa mengcover kebutuhan Anda. Jangan sampai Anda tertipu dengan perusahaan asuransi yang Anda pilih. Semakin sehat perusahaan asuransi, maka peluang nasabah bisa mendapatkan keuntungan asuransi juga semakin besar. Dengan kata lain, kemungkinan klaim asuransi lebih mudah dibayarkan oleh perusahaan asuransi dari premi yang telah Anda bayar.

Perhatikan produk yang mereka tawarkan. Suatu perusahaan yang bergerak dalam memberikan jasa layanan asuransi jiwa kebanyakan akan memberikan penawaran lebih dari produk unggulan mereka, oleh karena itu saat memilih produk tersebut sebaiknya sesuaikan penawaran yang dijanjikan dengan kebutuhan anda serta sesuaikan juga dengan kondisi keuangan anda maupun goal yang ingin anda capai dengan menggunakan produk tersebut. Perhatikan dan cermati terlebih dahulu dari manfaat produk serta syarat ketentuan maupun harga premi dari asuransi jiwa yang harus anda penuhi dari pihak perusahaan.

Selain itu, perusahaan asuransi jiwa terbaik dapat dikenali dengan nama yang jelas, tempat perusahaan baik pusat maupun cabang, serta memiliki sejarah perjalanan yang jelas dalam menjalankan layanan jasa asuransi tersebut. Anda dapat mencari tahun mengenai profil dari perusahaan tersebut secara langsung maupun melalui internet untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum anda memutuskan untuk memilih perusahaan tersebut.

Perhatikan pula laporan keuangannya. Memilih asuransi jiwa berarti anda telah melakukan suatu perjanjian untuk jangka waktu panjang, oleh karena itu memilih perusahaan asuransi tidaklah boleh sembarangan pastikan penyedia jasa yang anda pilih tersebut tidak memiliki record financial yang buruk sehingga layanan yang dijanjikan benar-benar dapat digunakan dengan maksimal. Selain itu anda juga dapat memeriksa dari segi Risk Bassed Capital (RBC) dimana sesuai dengan peraturan pemerintah minimal 120%.

Apakah Kita Benar-benar Gunakan Hanya 10% Dari Otak kami

Dua-pertiga dari orang di Amerika Serikat tahu bahwa kita hanya menggunakan sepuluh persen otak kita dan dengan tidak maksudku gila mengerikan keliru Anthony sini untuk dnews dan menurut survei kesehatan otak dari yayasan Michael J Fox enam puluh lima persen orang Amerika berpikir bahwa kita hanya menggunakan sepuluh persen otak kita setiap hari itu pasti sesuatu yang saya dengar hidupku lagi dan lagi menunggu satu menit orang-orang menghina saya di sini adalah kesepakatan yang palsu itu gila palsu tidak ada bagian otak Anda bahwa Anda tidak menggunakan tidak ada bagian aktif dengan kemampuan psikis atau potensi untuk segera menghafal apa pun yang Anda lihat tersembunyi di balik beberapa hambatan kranial sana otak manusia adalah organ yang sangat kompleks dan semua potongan kecil yang sangat khusus beberapa mereka dengan cara yang kita baru mulai memahami mitos mungkin mulai melalui salah mengutip temuan dari sebuah penelitian yang dilakukan di delapan belas tahun sembilan puluhan oleh william james dan layanan hutan di mana mereka berusaha untuk membesarkan seorang anak ajaib dengan cara yang benar-benar akan mempercepat nya intelijen setelah membesarkan anak-anak untuk IQ 250 james mengatakan orang hanya memenuhi sebagian kecil dari potensi penuh mental mereka ia hanya berarti kita tidak menantang diri kita sendiri cukup mental itu juga mungkin bahwa mitos berasal dari penelitian neurologis pada awal abad ke-19 atau ke-20 sebagai ilmuwan mulai menggali di sekitar dan semua otak mereka sepertinya ada bit yang tidak mengubah apa pun jika mereka rusak atau dihapus dan sekarang kita tahu bahwa beberapa daerah hanya memiliki fungsi yang sangat halus dan khusus barang-barang Anda mungkin tidak bisa mengatakan ini hilang segera saya maksud ada bagian dari otak kita yang hanya didedikasikan untuk membuat soket listrik terlihat seperti wajah kita juga tahu bahwa otak dapat mengatur ulang dan menetapkan kembali fungsi untuk bagian baru dari dirinya sendiri jika yang lama rusak tapi mudah untuk melihat bagaimana data awal bisa membuatnya tampak kalau tidak kita punya data otak cara yang lebih baik sekarang berkat hal-hal seperti MRI dan PET scan yang dapat menunjukkan dengan seluruh otak hingga setiap saat turun ke ini elektroda kecil yang dapat memantau aktivitas sebuah sel tunggal dan mereka semua menunjukkan hal yang sama seluruh otak Anda selalu khawatir dan bersenandung dengan aktivitas bagian-bagian tertentu bekerja lebih keras daripada yang lain pada waktu tertentu tetapi kecuali bagi orang-orang dengan lokal kerusakan otak yang sebenarnya tidak ada yang benar-benar gelap ada beberapa hal lain yang mengarah ke dengan menjadi salah – Maksudku otak kita menggunakan dua puluh persen dari tubuh kita berjumlah energi mengapa perlu begitu banyak jika itu sebagian besar aktif juga digunakan sel-sel otak benar-benar d menghasilkan otopsi otak manusia tidak pernah menunjukkan degenerasi skala besar yang bukan disebabkan oleh penyakit yang sebenarnya sehingga tidak ada Anda tidak pil atau teknik jauh dari menjadi seorang prajurit Lee bertenaga psikis tetapi Anda tahu yang sebenarnya satu kutipan hancur dari William James masih berlaku sebagian besar dari kita tidak memenuhi potensi mental kita jadi sekarang Anda tahu bahwa Anda dapat mengakses semua 100 miliar dari neuron-neuron dari Anda pada waktu tertentu pergi keluar dan melakukannya aku akan belajar bahasa Prancis sore ini saya bertanya-tanya bagian mana dari otak yang bertanggung jawab untuk tingkat tidak sehat optimisme.

Antara Merokok dan Vaping

Rokok dan Mariyuana telah digunakan selama berabad-abad, tapi baru-baru ini proses penguapan terhadap bahan-bahan ini populer. Jadi, apa yang bisa dipelajari dari teknologi ini? Apakah cara ini lebih baik untuk kamu? Ketika merokok normalnya, panas yang datang dari api menyebabkan zat-zat rokok berubah dari padat menjadi uap/asap. Dalam rokok, ini menyebabkan keluarnya nikotin yang diserap oleh aliran darah melalui paru-paru, menyebabkan naiknya detak jantung, menyempitnya pembuluh darah, munculnya dopamine dalam otak dan perasaan waswas. Tapi karena nikotin adalah perangsang, ketika hilang maka kamu akan merasa tidak enak dan mau lagi, yang akhirnya menyebabkan banyak orang ketagihan. Dalam kasus mariyuana, komponen aktif THC menjadi uap/asap dan mengikuti jejak yang sama ke dalam tubuh, tapi dengan efek yang berbeda. Ini kami jelaskan dalam video kami “Otak Kamu dalam Mariyuana” di sini. Saat merokok, zat-zat rokok hanya butuh 6 detik untuk menuju sistem saraf tidak seperti mengunyah tembakau atau memakan mariyuana yang butuh waktu lebih, Tapi kamu harus menghirup asap dalam prosesnya. Asap ini mengandung partikel yang menimbulkan tar dalam tubuh, mempunyai efek kanker, menghitamkan gigi dan melemahkan indra perasa. Disinilah teknik vaping (penguapan) muncul. Jika kamu bisa memanaskan komponen aktif untuk menjadi uap tanpa harus melalui pembakaran dengan zat lain, maka secara teoritis kamu akan mendapatkan efek yang lebih cepat tanpa merusak pernafasan karena asap. Vaping biasanya meliputi wadah kaca atau metal yang memiliki arus listrik, dengan ini arus panas bisa muncul di temperatur tertentu dan menciptakan uap dengan pembakaran minimal, yang berarti kamu menghirup lebih sedikit asap. Untuk pengguna mariyuana, penguapan telah menjadi cara populer, karena materi mariyuana bisa dipanaskan dalam temperatur yang spesifik – biasanya di 185-210 celsius – yang membuat uap mengandung THC bisa diekstraksi. Di rokok elektrik, penggunaan solusi cairan dari tembakau kering juga populer, cairan ini mengandung air, nikotin, dan biasanya perasa, cairan ini menjadi uap disuhu yang lebih rendah. Tapi disini muncul berapa dilema. Cairan”E-LIQUID”  yang digunakan mengandung bahan dasar yang sama seperti di kosmetik atau makanan yang membantu menjaga kelembaban tanpa menyebabkan basah. Salah satu bahan adalah Propylene Glycol, yang digunakan untuk efek teatrikal,  bahan ini bisa menyebabkan iritasi pada mata dan infeksi pernafasan Jadi apa efek jangka panjang dari rokok elektrik? Ilmuwan masih mempelajarinya, dan walaupun di Amerika, FDA (Badan Makanan Amerika) sudah memberikan ijin, masih banyak yang belum diketahui E-Liquid juga mempunyai kualitas yang berbeda-beda dari tiap pabrikan karena kurangnya regulasi untuk zat aditifnya.  Pada sebagian cairan ditemukan zat Diacetyl, zat kimia yang digunakan pada mentega untuk memberikan rasa gurih mentega.  Menghirup zat ini dapat menyebabkan luka pada paru-paru